Puisi-Puisi Gody Usnaat

820 820 Gody Usnaat

Pulang Sekolah

saya dan teman-teman
pulang sekolah
sekolah seumpama sangkar maleo
di sana
kami bagai telur, dihangatkan daun dan tanah
sebelum tetas

jam satu siang lonceng sekolah bunyi
satu persatu keluar kelas sebagaimana anak maleo keluar sangkar
di jalan pulang yang kecil dan berlumpur,
kami punya langkah menjalar serupa akar pohon masohi
kicau burung dan suara patahan dahan matoa
macam lagu himne guru
jatuh dan sambar tanah
singgah di telinga
dan menumpang di hati

sore singgah dan di bawah naungan pohon ketapang,
kami duduk di pundak batu,
serasa berada di puncak gunung sakral nenek moyang
kami buka buku, belajar baca, tulis dan hitung lalu merenung
merenung seperti bapak dan mama mamah sirih pinang
bikin lidah dan bibir merah dan kuat ini gigi
dan  kasih hangat kami punya dada
sebab hidup serupa telur-telur maleo
di alam liar
dalam lindungan sangkar
hidup tak bebas ancaman biawak dan ular

(Arso-II, 2020)

 

Penalti

sambil peluk bola, pirlo jalan pelan ke arah titik putih
seperti burung maleo, pergi ke sarang
simpan bola macam telur
lima langkah mundur
ia tarik napas–tahan di dada lalu embus kencang bagai badai kena barthez punya dada
mencabut nyalinya untuk loncat dan terkam bola
seumpama mata anak panah-tajam
pirlo punya tatapan
buang ke kiri, dan tendang ke kanan tiang gawang
seketika turun kabut, dan hapus arah jalan bola
mata barthez tenang dan bening: kuskus saat malam
tapi kini ia seperti pemburu hilang jejak buruan

di tribun penonton menyimak, tersenyum dan cemas
pada lapangan yang dingin dan basah
pemain bagai induk kasuari
kawin, bertelur dan mengeram dan tetas

peluit bunyi dan pirlo lari kecil dan cungkil bola-melaju seumpama lesatan anak panah
membusur ke kiri lalu melengkung ke arah kanan,
“gol…gol!” penonton teriak: memekakkan telinga
dan bikin tiang dan jala gawang goyang macam dahan ranting ketapang diterpa angin
ke arah kiri, keeper loncat sambil bentangkan kedua tangan serupa kodok,
kepala terbentur di tiang gawang
tumbang seperti batang pisang kena tebang

penonton italia bersorak macam kodok pohon
pelatih perancis serasa kena rajam deng batu
pirlo berlari bahagia sambil berteriak bak ayam betina usai bertelur
penonton prancis: ranting-ranting patah di tribun
ulah di lapangan dan gerak waktu dan gelagat bola
bikin zidane seumpama batang damar
terluka dan mengeluarkan getah

(Ubrub-2020)

 

Kupu-Kupu dan Anggrek Tanah

di samping kiri jalan tanah merah
seekor kupu-kupu terbang, riang mengelana cari bunga anggrek tanah
pada jalan lurus, pagi berkabut dan dingin
di kejauhan kelopak bunga mulai mekar

sebuah mobil dari arah kota, laju bagai kecepatan peluru serdadu
kaca depan berkabut dan pucat sebagaimana wajah pasien malaria
nyala mata lampu mobil kelam
derap roda gegas seumpama langkah tentara
gilas kerikil dan cakar tanah

wangian bunga anggrek tanah,
menguap
dan menyebarkan aroma

seketika moncong mobil hantam kupu-kupu
sayap tersayat, tubuhnya bagai percik air, tampias
jauh
singgah tabrak batu
sebelum luruh ke pangkuan tanah yang selalu jadi mama

mekar dan penantian tak berakhir
walau ini musim kemarau panjang

sopir dengan mobil terus melaju
kejar tujuan dan setoran
petang datang, dan gerimis berderai
laksana langit senja, seorang tua dengan cahaya pudar di matanya
berjalan dengan tongkat di tangan, ia jalan pelan seumpama kura-kura,
mendekati kupu-kupu sekarat itu
di bahu bapak tua,  noken melingkar  macam kelelawar  gantung
sambil mamah sirih pinang
ia tunduk, dan hening dan mengenang
beberapa daun gomo rontok, dan kulit damar terkelupas
dan hujan lalu seperti lagu bagi hidup yang sebentar, untuk cinta yang tak sampai

namun penantian masih sebagai anggrek tanah
yang batang utamanya tegak lurus bagai tubuh tentara–siaga
dan akarnya pantang letih macam kuli,
cari air dan hara

(Ubrub-2020)

 

Usai Adu Penalti

usai adu penalti
bola macam murid yang diabaikan guru
gawang seperti kerangka dangau
olympiastadion ditinggalkan laksana gedung sekolah dasar di pedalam papua
pulang kampung
para pemain lekas ke klub masing-masing sebagai rumah

trapattoni sebelum pulang
kase suara dan peluk domenech
bagi trapattoni pelukan itu seperti ekor biawak pada dahan pohon
tapi bagi domenech macam bapak guru punya rotan
melingkar di punggung anak murid
di luar olympiastadion, masih terasa perih

tertangkap kamera wartawan, thuram bermuka muram
lihat trapattoni, bagai bendera italia
dikibarkan, pirlo, totti dan maldini
melayang ditiup angin

tiba di kampung
trapattoni belum juga letih bekerja bagai api di tungku
bakar pisang, betatas, keladi
hingga matang
pagi ini di bangku pelatih ia duduk bagai induk kasuari
menyaksikan tim azzuri kejar, tangkap dan kase jinak bola

(Ubrub-2020)

 

Di Tepi Sungai

air mengalir seperti waktu
bagi penunggu
bebatuan dan pasir membentang
elang kuskus melintas
hinggap di dahan cemara macam landasan pesawat chesna
dahan oleng, dan ranting guncang, dan daun goyang

dua anak kampung datang,
menemani seorang anak kota
di tepi sungai mereka tanggalkan baju dan lepas celana
macam pohon masohi tanpa kulit
dua anak kampung bagai kodok-lompat
menceburkan diri
menyelam ke dalam perut air
seperti  ikan gurami
mereka punya liukan tubuh dan gerak tangan dan kaki

anak kota, meski sudah telanjang
belum lompat
kagumkah ia pada air sungai ini, yang mengalirkan emas?
atau takutkah ia pada seekor soasoa yang sedang berenang
ke seberang ?

“lompat sudah!”

anak kota seperti dahan matoa,
patah
jatuh, tenggelam macam batu cemplung
terbawa arus sebagai daun
sebelum tersangkut di dahan lengan kedua temannya

“kenapa, ko tra bisa berenang?”
anak kota tak jawab,
sebagaimana ia pernah tanya dan dorang tak pernah jawab:
“kenapa, kam dua tra bisa baca, tulis dan hitung?”

(Ubrub-2020)

 

Cita-Cita

Ia selalu jaga dia punya cita-cita bagai kasuari saat mengerami telur
bila ditanya: “ko pu cita-cita jadi apa?” ia senyum
selain sagu bakar, senyum itu yang bikin dia  kuat macam kaki kasuari, tak lelah berjalan
naik gunung dan turun lembah, menyeberang kali
pergi ke sekolah
kalau di dalam kelas trada guru
ia buka buku, latih baca, ambil pensil
salin cerita watuwa
menyalin seumpama burung kumpul ranting kering
dan rumput–bikin sarang

saat malam,
ia duduk sendiri di halaman,
beberapa kunang-kunang melintas bawa cahaya
ia kenang thomas alva edison–bawa terang untuk buana
ia buang mata ke langit
ingat mama yang lima tahun lalu meninggal
dicekik sakit ispa
ia lihat bintang-bintang dan bulan
dan lempar suara:
“kenapa para guru tra datang ajar kami di kelas?”
cahaya bintang suram dan mata bulan buram seketika
tapele gelap hujan
hujan berderai tapi tak lebat
tiupan angin kencang-cuma sebentar

ia tak mau cita-citanya tenggelam sebagaimana cerita watuwa:
suatu hari daratan kampung mulai tergenang
air makin lama makin tinggi
banyak orang berteriak dan air terus naik

setiap pagi ia pergi ke sekolah
seperti berjalan di atas dahan gomo yang rapuh
kelas tanpa guru
ia belajar baca, dan tulis, dan hitung dan menyalin cerita

(Ubrub-2020)

 

Bertemu Belalang
:untuk caca

setiap pagi sebelum sarapan
de kastinggal mama
di dapur
tra peduli deng aroma sagu bakar

ia buka pintu rumah panggung, turun tangga
injak tanah, ia lari macam kasuari betina
ke halaman sekolah
bertemu belalang

pintu ruang-ruang kelas rapi tertutup macam kulit pisang tanduk bungkus isi
guru dorang hanya datang
saat mo ujian semester dan ujian akhir nasional
di halaman sekolah, anak mama bersiul
berirama macam tifa saat tarian napter*

ia cari belalang, kejar dan tangkap dan, kas masuk di botol aqua serasa ruang kelas
serupa guru, ia tatap dan sapa:
“selamat pagi? ko su makan kah?”
dan ia ajak eja huruf: “ B+E+L+A+L+A+N+G ”
“dibaca?” ia tanya
belalang dengar tapi diam
macam anak murid lupa huruf tak kasih jawaban
belalang berontak seperti anak murid hendak lepas

mama berteriak dan anak mama kaget: waktunya pulang,
ia lepas belalang
terbang
mendarat macam helikopter

kembali ke rumah anak mama duduk di pinggir tungku
tunggu
mama kase sagu bakar dan bisik: “buang kata-kata kepada moyang dorang
agar para guru tak lupa bekerja,
baca mantra macam dokter hutan
supaya pintu sekolah cepat tabuka

/Ubrub-2020/

*Napter: tarian penyembuhan

Gody Usnaat

Gody Usnaat

Guru agama katolik di Keuskupan Jayapura-Dekenat Keerom-Paroki St.Bonifasius-Ubrub. Buku puisi pertamanya berjudul Mama Menganyam Noken masuk nominasi lima besar KSK 2020.

All stories by:Gody Usnaat
Gody Usnaat

Gody Usnaat

Guru agama katolik di Keuskupan Jayapura-Dekenat Keerom-Paroki St.Bonifasius-Ubrub. Buku puisi pertamanya berjudul Mama Menganyam Noken masuk nominasi lima besar KSK 2020.

All stories by:Gody Usnaat
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.