Puisi: Judul dan yang Berjarak
Kelahiran puisi seringkali dipengaruhi atau diilhami oleh sesuatu yang berjarak. Sesuatu di luar diri penyairnya. Ide yang muncul adalah hasil dari pengaruh sesuatu itu. Bentuk dari sesuatu itu tentu beragam; peristiwa, gambar, teks, nama-nama, definisi, hanya sedikit contoh dari bentuk sesuatu itu. Keterpengaruhan atas itu tentu lazim dan niscaya terjadi. Keterpengaruhan yang kemudian bisa menyalin rupa sebagai subjek, sebagai aku lirik maupun pusat pengisahan sebuah puisi.
Mengingat itu, yang mesti diperiksa kemudian adalah sejauh mana perwujudan dalam karyanya, pada sajak yang dilahirkannya.
Hal ini bisa kita lihat pada beberapa puisi yang dimuat rubrik Pertemuan Kecil HU Pikiran Rakyat (Minggu, 21 Januari 2018).
Sajak pertama yang akan kita periksa berjudul “Pelagis” karya Hilman Ahmad. Pada bait pertama, sajak ini dibuka oleh maukah kau selami aku/atau kita sama-sama menyelam/di telaga sumala/-hingga ujung dalam. Bila kita mengacu pada teorema judul sebagai kepala, kau yang dimaksud oleh aku lirik pada larik pembuka adalah Pelagis. Sementara arti Pelagis sendiri adalah ikan yang hidup di lapisan permukaan perairan pantai atau di perairan pantai1. Jika benar yang dimaksud oleh aku lirik adalah ikan Pelagis, maka boleh kita menduga bahwa pusat pengisahan sajak ini adalah Pelagis, sesuatu yang berjarak itu.
Pada bait kedua, aku lirik melanjutkan dengan pernyataan atau aku akan mendayung/ke tepi antah berantah/sedang kau sibuk mengemas baju/dan kenangan yang basah. Pada bait ini, Pelagis diibaratkan sebagai sesorang yang mengemas baju dan kenangan yang basah. Pelagis tidak lagi diperlakukan sebagai seekor ikan, tapi lebih dari itu, Pelagis diandaikan sebagai manusia. Hal ini membuka kemungkinan pembacaan lain dalam menafsirkan apa itu Pelagis. Pelagis tidak lagi hanya bisa dimaknai sebagai ikan. Pelagis pada bait kedua bisa juga dimaknai sebagai nama seseorang.
Dari dua bait sajak ini, kita menemukan bahwa si penyair berhasil menjadikan sesuatu yang berjarak itu sebagai sesuatu yang dekat dan personal. Meski mungkin pada awalnya, penyair terilhami oleh ikan Pelagis, namun pada perwujudannya dalam puisi, Pelagis membuka tafsir-tafsir lain yang kaya dan luas maknanya.
Kemahiran seorang penyair dalam mengolah sesuatu yang berjarak menjadi dekat dan personal bisa kita lihat juga pada sajak berjudul “Incognito” karya Den Aslam.
Incognito
Kaukah itu
Menyaru
Di dinding paku
Membatasi
Keangkuhanku
Belphegor bersarang
Di tubuh gersang
Ia minta pulang
Padamu
Pada sajak ini, setidaknya ada dua hal yang diambil oleh penyair dari luar dirinya. Pertama adalah Belphegor, nama iblis yang dikenal dalam khazanah peradaban manusia, terutama dalam khazanah barat. Iblis ini penyebab ketakutan manusia akan sesamanya. Ada juga yang mengatakan bahwa Belphegor penyebab manusia menjadi serakah. Belphegor memiliki wujud mengerikan, iblis berjenggot dengan cakar dan tanduk. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Belphegor berwujud sebagai wanita cantik.
Sementara yang kedua adalah Incognito. Incognito diambil dari bahasa Spanyol. Dalam terjemahan bebasnya incognito berarti tidak dikenali.
Penggunaan diksi incognito sebagai judul sajak dan Belphegor sebagai salah satu subjek dalam sajak ini tentu memiliki alasan (jika kita tidak bisa menuduh sebagai ide awal lahirnya sajak ini). Dan apapun alasannya, tetap membuat sajak ini kaya dalam pilihan penafsiran. Makna yang hendak dipendarkan dalam sajak ini bisa diinterpretasikan secara lebih beragam. Kau yang dimaksud dalam larik pertama bisa dimaknai sebagai kemalasan, iblis, atau hawa nafsu. Tapi kau yang dimaksud dalam larik pertama bisa juga dimaknai sebagai cinta yang terus menghantui, ibarat Belphegor yang …minta pulang/Padamu.
*
Ketika puisi diilhami oleh sesuatu yang berjarak, maka akan ada kecenderungan yang biasa terjadi pada sajak yang dilahirkannya. Kecenderungan itu berupa tarikan pada medan personal, dalam hal ini sikap atau cara pandang si penyairnya. Artinya, sejauh apapun jarak sesuatu itu dari si penyair, puisi yang lahir karenanya akan tetap ditarik dalam ranah personal penyairnya sendiri.
Hal ini tercermin pada bait ke tiga sajak berjudul “Pelagis”
selagi kau masih mau
ikut berkidung denganku
akan kujaga kau
hingga malam menjamah kita
dan tak ada sisa kata
di dekap kita.
Keintiman yang dibangun pada bait di atas lebih pada kedekatan secara personal. Aku lirik mengajak kau untuk menjadi kita. Pelagis yang diartikan di awal sebagai ikan seakan hilang identitasnya sebagai seekor ikan. Bait ini lebih cenderung berpusar pada sikap aku lirik untuk terus bersama meski …tak ada sisa kata/di dekap kita.
Hal ini terus berlanjut hingga bait terakhir.
maukah kau selami aku
atau aku selami engkau
hingga ujung malam
-kita terpaksa karam.
Permintaan aku lirik untuk saling mengenal yang diwakili oleh diksi selami, seolah semakin menegaskan apa yang hendak dibangun aku lirik bersama kau untuk menjadi kita, hingga ujung malam/-kita terpaksa karam.
Judul Adalah Panglima
Dari pembahasan sajak berjudul “Pelagis” karya Hilman Ahmad dan sajak berjudul “Incognito” karya Den Aslam, membuktikan bahwa puisi semakin memiliki banyak tafsir apabila berangkat dari judul yang spesifik. Selain itu, judul bukan saja sebagai gerbang utama dalam memasuki ruang puisi (isi), namun judul juga menjadi acuan agar ruang puisi yang dibangun oleh diksi tetap berada pada kerangka yang dirancang (mungkin) pertama kali.
Hal ini bisa kita lihat lebih jelas pada sajak kedua Den Aslam berjudul “Lata Culpa”.
Lata Culpa
Setelah ia pulang dengan sesal
orang-orang menabur bunga
di pemakaman
mengirimkan doa
di tiap kamar
Tetapi kesendirian tak bisa dibelah
kesepian tak bisa dicacah
dan kemarin adalah ingatan
yang hari ini dipecahkan
Lata culpa berasal dari bahasa Portugis yang dalam terjemahan bebasnya memiliki arti bisa salah. Sementara dalam bahasa hukum, lata culpa diartikan sebagai kelalaian yang memiliki konsekuensi hukum. Maka bila merujuk pada hal itu, apa yang digambarkan dalam sajak dua bait di atas, bergerak pada wilayah yang selaras dengan judul. Kelalaian yang berimbas pada penyesalan yang tak bisa dibelah dan tak bisa dicacah sebab kemarin adalah ingatan/ yang hari ini dipecahkan.
Hal ini pun kita dapati pada sajak kedua Hilman Ahmad yang berjudul “Dewayani”.
Dewayani
betapa angkuh kau saat rengkuh aku
sedang dewa menyaksikan kita
di rerimbun api swargaloka
malam tetap sama.
kau masih anggun dengan jubahmu
atau jubahnya
kau tak tahu
sampai kapan kaukenakan.
biar sesak jadi haru
biar cinta hanya skeptis lugu
juga api kadung hanya belenggu:
untukmu.
seraya kau tumpas aku
dengan dendam yang tak usai:
diam aku
habis aku.
Dalam kisah pewayangan, dewa Dewayani adalah nenek moyang keluarga wangsa Yadawa, Wresni, dan Andaka. Ia merupakan putri tunggal Resi Sukra dengan Dewi Jayanti, putri Sanghyang Indra. Kelak, Dewayani kemudian menikah dengan Prabu Yayati, raja negara Astina.
Maka dengan menjadikan Dewayani sebagai judul, pengisahan dalam sajak ini terasa lebih intens dan menukik. Peristiwa yang dihadirkan pada sajak ini memiliki latar kejadian yang jelas. Pilihan kata seperti, swargaloka dan dewa yang dipilih dalam sajak ini, mengarahkan secara spesifik citraan yang hendak dibangun sejak dari bait pertama.[]
- Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (Luring). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

