Fb. In. Tw.

Pluit Kue Putu Pak Wartam

Malam terasa lebih dingin di Rumah Baca Taman Sekar Bandung (RBTSB), Jalan Sukarajin 2 No. 18 Gang Muslimin, Bandung, pada Selasa (17/2). Barangkali, akibat hujan sepanjang siang sampai sore, dinginnya masih tersisa. Di samping itu, suhu di Bandung memang dingin setiap malam juga. Dalam suasana seperti ini, perut biasanya agak manja.

Sayup-sayup terdengar pluit penjual kue putu. Benar saja, Pak Wartam, penjual kue putu, sudah ada di depan RBTSB. “Putu!” serunya. Akhirnya, kemanjaan perut saya akan segera terhibur.

Kue putu Pak Wartam.

Kue putu Pak Wartam.

Kue putu ini memang kudapan yang biasa dijajakan malam. Kue yang terbuat dari tepung beras berisi gula Jawa dengan taburan parut kelapa ini sangat nikmat disantap hangat-hangat. Apalagi jika disajikan dengan teh hangat, pasti lebih sedap.

Kue putu yang saya pesan ini punya ceritanya sendiri. Pak Wartam, penjual kue putu yang sudah berusia 65 tahun ini, tidak asing lagi bagi saya dan kawan-kawan di RBTSB. Setiap kali mendengar bunyi serupa pluit yang keluar dari lubang kukusan kue putunya, kami selalu senang.

Menurut pengakuan Pak Wartam, sudah puluhan tahun ia berjualan kue putu. Sebelum berjualan di sekitar Bandung, ia pernah berkeliling jualan kue putu di kota lain. “Dulu saya jualan di Bogor, Sukabumi, dan di Jakarta,” tuturnya.

Ketika menuturkan pengalamannya berjualan putu itu, ia tampak sangat bahagia. Senyum berseri di wajahnya yang mulai renta. Ia seolah sedang menyuguhkan dunia yang dihidupinya kepada saya.

Dalam hal menjual (membuat) kue putu, Pak Wartam mempertahankan tradisi. Ia tetap menggunakan bambu untuk cetakan kue putu, berjualan malam secara keliling, dan menggunakan minyak tanah untuk bahan bakar kompornya. Khusus penggunaan minyak tanah ia mengatakan, “kalau diganti yang lain rasanya jadi beda.”

Meski saat ini harga minyak tanah terbilang mahal, Pak Wartam tetap menggunakannya demi menjaga rasa dan kualitas kue putu yang ia jajakan. Imbasnya, tak jarang ia menemukan kendala untuk berjualan. “Kalau lagi susah dapat minyak tanah, saya gak jualan,” imbuhnya.

Keuntungan dari berjualan keliling yang didapatkannya juga bisa dikatakan tidak besar. Setiap malam, rata-rata ia hanya mendapatkan keuntungan Rp20.000.

Oleh karena itu, selain berjualan kue putu keliling, Pak Wartam juga tetap bertani di kampung halamannya di Desa Murang Wetan, Kecamatan Tanjung, Brebes. Di sana ia menanam tanaman unggulan Brebes, yaitu bawang merah.

Maka dari itu, Pak Wartam suka pulang-pergi Bandung-Brebes untuk menanam atau sekadar menengok kebunnya. “Setiap 20 hari sekali saya pulang kampung, karena di sana juga bertani,” katanya.

Di samping menanam bawang merah, ia juga memanfaatkan lahannya untuk menanam cabai merah. Penanaman cabai merah ia lakukan seiring menanam bawang merah. “Kalau bawang sudah satu bulan, kebunnya ditanami cabai merah supaya lahannya gak kosong,” jelasnya.

Namun, di musim hujan seperti ini, menjadi tantangan berat bagi usaha pertanian Pak Wartam. Kualitas bawang merah yang ditanamnya bisa menurun. Seperti dijelaskan olehnya, “Kalau hujan begini suka busuk, daunnya meropot (rontok), kulit bawangnya putih sayu, jadi bawangya gak bagus.”

Tak terasa kue putu pesanan saya sudah jadi. Pak Wartam mesti berkeliling lagi. Menyapa setiap rumah dengan bunyi khas pluit yang keluar dari kukusan kue putu yang dipikulnya. Menyambung hidup dengan kue putu yang manis.

Kalau ada yang mau mencicipi kue putu Pak Wartam, kapan-kapan mampir saja ke RBTSB malam-malam. Kalau sayup-sayup terdengar suara pluit kue putu, pasti ia sudah dekat.[]

Sumber foto: Yopi Setia Umbara

Post tags:

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

Comments
  • bojes

    ah, biasanya juga ngutang dulu

    18 Februari 2015
  • Andre

    maafkan saya pak Wartam, kalo gak ada bos saya suka ngumpet, karena ga bisa beli kue putu, padahal lapar..

    18 Februari 2015
    • Opet

      pasti ares kangen ka kueh putu nya, geus hampir sabulan di jakarta mah 😉

      18 Februari 2015

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register