Fb. In. Tw.

“Journey” Sang Legenda Bob “Sick” (dan Widi Benang)

Selasa malam (5/4/2016), di teras bawah Greenhost Hotel, terdengar sayup seorang lelaki menyanyikan lagu “Isabella” yang dipopulerkan Amy Search pada tahun 1990-an. Ia menyanyi dengan iringan gitar akustik. Tak terlalu enak didengar, ia sendiri bernyanyi sambil cengangas-cengenges kekanak-kanakan untuk merespon penonton mengeluk-elukkan namanya, “Bob! Bob!”

Para pengunjung dengan penampilan hampir serupa meramaikan teras hotel di Jalan Prawirotaman II itu. Hanya satu-dua yang penampilannya rada kalem. Selebihnya berpenampilan eksentrik. Dalam benak saya, mungkin ini mahasiswa seni rupa atau bisa jadi seniman juga.

Penasaran, sambil pura-pura meminjam korek api untuk menyulut rokok, saya bertanya “Dari mana?” pada salah seorang di antara pengunjung, “Dari ISI, Mas,” jawabnya. Setidaknya satu orang di antara sekian banyak yang hadir, saya tahu dari mana datangnya. Sosok yang meminjami saya korek itu berambut sebahu yang dibiarkannya terurai, mengenakan kaos, bercelana jeans ketat, sneackers, lengkap dengan tato menghiasi tangan kanan dan kirinya, mungkin usianya terpaut enam-tujuh tahun lebih muda dari saya.

Lagu “Isabella” belum selesai dinyanyikan. Saya berkeliling melihat lukisan-lukisan yang terpajang di dinding display. Garis-garis spontan dan warna-warna mencolok pada lukisan tersebut terasa begitu mendominasi. Ya, terasa. Saya tak tahu lagi bagaimana menikmati lukisan selain dengan melihat lalu merasakannya.

Belum sampai semua lukisan saya perhatikan, lagu “Isabella” sudah berhenti. Tapi sepertinya belum tuntas benar dinyanyikan, karena sang penyanyi keburu diajak ngobrol oleh seorang perempuan yang mengenakan gaun putih bercorak hitam dan berkacamata dengan frame vintage.

Tak lama kemudian, perempuan itu telah mengontrol pelantang suara. Ia pun mencoba menarik perhatian massa dengan menyapa semua pengunjung. Tapi, tak semuanya tertarik akan panggilannya. Beberapa orang tetap bertahan di tempat mereka, dekat display lukisan, duduk-duduk di tepi kolam yang berada tepat di tengah teras hotel, sebagian lagi berkeliling melihat-lihat lukisan yang dipajang.

Perempuan dengan frame kacamata vintage itu tak memedulikannya, sebagai pembawa acara ia tetap melakukan tugasnya, melanjutkan pembukaan pameran sebagaimana mestinya. Ia memanggil kurator pameran tampil untuk menyampaikan sedikit pengantar.

Sang kurator, A. Anzieb, sudah siap dengan pelantang suara di tangan kanannya, tak panjang-panjang ia bicara di depan. Di antaranya ia mengatakan bahwa, “Pameran karya Widi Benang dan Bob Yudhita Agung bertajuk ‘Journey’ merupakan perjalanan kedua pasangan ini. Pasangannya lah yang mengetahui lika-liku proses kreatif dan pasang surut kehidupan mereka.”

Selesai sang kurator menyampaikan pengantarnya, pembaca acara yang senyumnya menawan itu memanggil kedua seniman yang berpameran, sang legenda Bob “Sick” Yudhita Agung dan Widi Benang. Keduanya tampil sangat cakep dan anggun.

Bob mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah dan celana bahan panjang hitam plus sepatu suede berwarna cokelat, sedangkan tato di bagian tubuhnya yang tak tertutupi pakaian sudah jadi citra khasnya. Widi membalut tubuhnya dengan gaun hitam yang pada bagian lengannya dipadu kain brukat, serta beralas high heels yang serasi dengan gaunnya.

Kali ini, Widi berperan ganda. Selain sebagai seniman ia juga berperan menjadi host. Ia menanyakan beberapa hal kepada Bob mengenai pameran yang mereka kerjakan bersama.

“Selama ini kamu bilang lukisanku jelek. Sekarang kok kamu mau pameran sama aku?” Tanya Widi kepada Bob. Sebelum menjawab Bob tersenyum manja, walaupun giginya ompong, senyumnya tetap terasa tulus. Lantas Bob menjawabnya dengan sangat manis dan begitu serius, “Ya, walau pun kami sudah berpisah, bercerai, tetapi kami tetap sebagai partner yang saling mendukung. Terima kasih.”

“Sebentar dulu, masih ada lagi. Kenapa temanya ‘Journey’?” Tanya Widi. Kali ini tanpa senyum Bob langsung menjawab, “Ya ‘Journey’, perjalanan ini tema pasaran. Tapi ini memang pasar. Kita harus menyenangkan yang melihat lukisan kita. Terima kasih.” Baru setelah itu Bob tertawa, juga diikuti tawa pengunjung yang menyimak dengan sungguh-sungguh pembukaan itu.

Pada setiap akhir jawaban untuk Widi,  Bob selalu mengucapkan terima kasih. Terakhir ketika, Widi meminta Bob menyampaikan harapan dari pameran itu Bob mengucapkan terima kasih kepada kolektor dan semua yang mendukung pamerannya, dan sebuah harapan yang akan masa depan Bob dan anak-anaknya, “Semua ini demi anak-anak, ya anak-anak. Dan, masa depan. Terima kasih.”

Usai Bob dan Widi, giliran Dr. Inu Wicaksana didaulat oleh pembawa acara untuk menyampaikan pengantar sekaligus membuka acara. Dr. Inu merupakan dokter yang merawat sang legenda selama ini.

Dengan membaca tulisan yang telah disiapkan, Dr. Inu kembali membuka sekilas riwayat Bob, mulai dari kapan Bob melukis hingga riwayat medis yang ditanganinya. Menurut Dr. Inu, “Banyak orang menduga, karena keanehannya, Bob itu tidak waras. Mengalami gangguan jiwa berat alias psikotik, malah skizofrenia. Tidak saudara-saudara sekalian. Bob sama sekali tidak menderita gangguan jiwa berat.”

Sedangkan mengenai karya Bob Dr. Inu menyatakan, “Keliaran Bob dalam melukis, menunjukkan jiwanya yang selalu gelisah. Resah. Dan selalu mencari. Mencari hidupnya sendiri. Mencari bagaimana ia harus melukis. Bahkan mencari siapakah dia sebenarnya. Petualangan dan Perjalanan dalam mencari. Karena itulah pamerannya kali ini diberi tema ‘The Journey’.”

Usai Dr. Inu menyampaikan pengantar pameran pun resmi dibuka. Pameran “Journey” karya Widi Benang dan Bob Yudhita Agung akan berlansung sampai 16 April 2016.

Bob dan Widi berjalan menuju sebuah sudut teras hotel untuk melukis langsung, mereka diikuti pengunjung. Di antar pengunjung yang melihat Bob melukis, terlihat juga pelukis Nasirun. Saya sendiri terlebih dahulu menghampiri Dr. Inu untuk meminta salinan tulisannya—karena tak ada buku acara pameran—yang diberi judul dan ditulis persis seperti ini: THE LIFE JOURNEY OF BOB “SICK” YUDITA.

Kemudian seorang DJ memainkan musik mengiringi happening art seorang seniman yang memakai topeng putih (mungkin bukan topeng, tapi cat wajah berwarna putih), mengenakan kain yang dililit ke badan mirip seorang biksu, sambil membawa lentera. Musik yang dimainkan DJ itu ternyata bukan hanya untuk mengiringi happening art tadi, tapi sekaligus latar musik kegiatan pameran.

Saya lantas berkeliling melihat-lihat lagi lukisan yang dipajang di setiap display. Melihat, merasakan, menghayati, dan berusaha keras memaknainya. Hampir seluruh lukisan yang dipamerkan merepresentasikan diri dan fantasi mereka. Intuisi saya mengatakan ada kesan optimis pada karya-karya Bob (dan Widi) kali ini.

Di sela-jeda Bob melukis, ia melayani permintaan foto bareng dari pengunjung. Sebagian besar yang berfoto dengan Bob mencitrakan kekaguman akan sang legenda pada wajah-wajah mereka. Sebagai pertemuan langsung yang pertama kali dengan Bob, saya pun mirip seperti mereka yang berfoto bersama Bob. Meski saya tak berfoto bersama Bob.

Sebelum meninggalkan lokasi pameran saya bersalaman dengan Bob. Bukan hanya untuk memberi selamat untuk pamerannya. Melainkan, lebih dari itu, memberikan selamat kepada diri saya sendiri yang akhirnya dapat berjumpa langsung sosok legendaris di dunia seni rupa, Bob “Sick”.

Oh iya, yang menyanyikan lagu “Isabella” tadi tentu saja Bob. Lagu itu merupakan satu-satunya lagu yang bisa ia iringi dengan kunci yang pas, seperti pernah diriwayatkan oleh Puthut EA dalam catatan “Begitulah Bob” di puthutea.com.[]

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

You don't have permission to register