Josée: antara Imajinasi dan Hubungan Manusia

820 820 Dian Hardiana

“Aku lahir di Budapest pada tahun 1987
orangtuaku bertemu untuk pertama kalinya di Berlin
aku lahir tahun depannya.
Ketika aku tumbuh besar
aku telah melihat dunia yang tidak bisa kau bayangkan.”
                                       –   Josée

Josée (Han Ji-min) telah mengunjungi berbagai tempat eksotis di berbagai belahan dunia meskipun ia merupakan penyandang disabilitas; mulai dari mengikuti tour di Glenfiddich Distillery, Skotlandia, untuk melihat proses pembuatan Speyside Whisky yang terkenal, hingga menyaksikan gerombolan jerapah berlarian dari dalam balon udara di atas belantara sabana Kenya di Afrika Timur. Keterbatasan fisik serta ekonomi yang dialami Josée, tidak lantas mengurungnya untuk berpetualang ke negeri-negeri yang jauh.

Hal itu bisa terjadi karena Josée bertemu dengan banyak buku.

Buku yang membuat Josée bisa mengunjungi tempat-tempat itu. Buku yang menemani Josée hingga tumbuh imajinasi seolah-olah Josée merasakan betul angin yang menerpa rambutnya, memandang laut yang membentang di hadapannya, atau berjalan di atas jalanan yang dingin dan lengang. Buku yang membuat Josée betah mengurung diri di rumah meski seisi rumah berantakan dipenuhi oleh barang-barang bekas yang dipungut sang nenek. Buku yang membentuk imajinasi sehingga dengan percaya diri Josée menamai dirinya sendiri dengan tokoh novel atau mendedahkan silsilah fiktif keluarganya pada setiap orang yang ditemuinya.

Selain buku, yang mengantarkannya pada tempat-tempat yang jauh, bertemu dengan seorang mahasiswa bernama Young Seok (Nam Joo-hyuk), juga mengantarkan Josée untuk memasuki hidup yang sepenuhnya berbeda dari yang biasa ia jalani selama ini. Bertemu Young Seok, membuat Josée mengenal cinta, mengenal realitas yang selama ini coba ia hindari dengan cara mengurung diri dan hanya bertemu buku-buku. Meski saat Josée menjalin hubungan dengan Young Seok ada tarik menarik perasaan: antara kepantasan seorang wanita yang cacat dengan seorang lelaki yang menjadi simpanan dosen. Namun Josée pada akhirnya menyadari bahwa interaksi sosial memberi sesuatu yang berbeda pada hidupnya. Bahkan tanpa ia sadari membuat rumahnya menjadi lebih rapi dan bersinar.

Mungkin dua hal itu yang coba disajikan film Josée yang rilis akhir Desember 2020 kemarin. Josée ditulis dan disutradarai oleh Kim Jong-kwan. Film Josée sendiri merupakan adaptasi versi Korea dari cerita pendek Jepang berjudul Josée, the Tiger and the Fish (ジョゼと虎と魚たち) karya Seiko Tanabe yang juga pernah difilmkan dalam versi Jepang dengan judul yang sama pada 2003 silam.

Kim Jong-kwan mengaku menyukai film Josée versi Jepang yang disutradarai Isshin Inudo. Meski begitu, Kim Jong-kwan mengatakan, “Tapi saya tidak berpikir menempuh jalan yang persis sama akan menjadi cara yang baik untuk menunjukkan rasa hormat saya. Saya ingin membuat sesuatu sendiri tanpa melupakan emosi yang diberikan film aslinya kepada saya. Yang penting bagi saya adalah menjaga emosi itu tetap hidup bahkan saat menggunakan sapuan berbeda untuk melukis gambar yang sama. Dalam cerita ini, Josée akhirnya mulai mencintai dirinya sendiri setelah bertemu orang baru, sementara Young Seok mulai belajar lebih banyak tentang dirinya. Saya ingin mengekspresikan kemanusiaan melalui hubungan mereka.”

Film Josée versi Korea ini memang terasa berbeda dengan versi Jepang. Josée versi Kim Jong-kwan terasa lebih temaram, lebih lambat, walau masih tetap menghadirkan sisi komedi gelap dengan dialog tokoh-tokohnya yang lugas.

Dan apa yang dikatakan Kim Jong-kwan tergambar sepenuhnya dalam film berdurasi dua jam setengah ini. Hubungan Josée dan Young Seok dibingkai secara proporsional tanpa harus diberi sentuhan yang terlampau melodramatis. Alamiah tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Dalam banyak adegan yang melibatkan mereka, pengambilan gambar dengan teknik extreme long shot dipilih untuk memberi efek keutuhan antara subjek utama dengan lingkungan di sekitarnya sehingga tercipta keterkaitan dan keindahan yang realis. Bentangan kabel, serakan daun-daun gugur, tumpukan buku-buku, jejeran mobil-mobil yang terparkir hingga putihnya tumpukan salju menyajikan keindahan warna yang seimbang.

Bukan hanya teknik pengambilan gambar yang membuat film ini terasa hidup. Penekanan untuk memotret detail juga membantu penonton terlibat intim saat benda-benda yang dihadirkan dalam film disorot lebih dekat. Setrika yang dibalik untuk dijadikan alat pemanggang, meja makan kecil yang beroda, atau lubang pada tembok di depan kamar Josée menjadi semacam simbol agar persepsi penonton terdorong pada batas terjauh dalam memahami serta merasakan suasana pada film.

Film Josée secara sinematografi berhasil menyuguhkan ekspresi hubungan sesama manusia sekaligus menghadirkan indahnya tempat manusia itu mengekspresikan hubungannya.

Han Ji-min dan Nam Joo-hyuk
Film Josée dibuka oleh sebuah adegan pertemuan tak terduga. Josée jatuh dari kursi roda dan Young Seok menolongnya. Sebuah pertemuan yang melahirkan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Young Seok terpukau pada Josée karena Josée tahu berbagai hal yang tidak pernah Young Seok dengar sebelumnya. Padahal Josée hanya seorang wanita yang duduk di kursi roda dan tinggal di sebuah rumah reyot bersama seorang nenek. Bahkan setelah mengetahui bahwa Josée berbohong soal nama, keluarga, dan banyak membual tentang berbagai tempat, Young Seok tetap menyukainya. Sementara Josée tertarik pada Young Seok karena Young Seok membuka jalan bagi Josée untuk menyadari bahwa ia harus membiarkan orang lain memasuki hidupnya. Apalagi setelah neneknya meninggal, Josée membutuhkan interaksi sosial agar hidupnya tidak lagi sunyi.

Kedua pemeran utama berhasil membangun hubungan dua anak manusia dalam semesta film. Han Ji-min berhasil menghadirkan sosok Josée yang introver dengan mata yang menyala-nyala tiap kali ia bercerita. Sebagai seorang wanita yang berkutat dalam imajinasi, Han tidak terjebak secara impulsif saat mengekspresikan keinginannya, dan ini terlihat lembut dan natural. Sedangkan Nam Joo-hyuk, seperti juga dilihat pada sosok Nam Do San dalam drakor Start Up, masih menciptakan karakter lelaki tampan yang saat bicara seperti memikirkan hal teramat penting, ragu-ragu sekaligus misterius.

Kim Jong-kwan patut bersyukur atas kualitas akting mereka berdua.

“Aktor adalah yang membuat film benar-benar unik,” kata Kim dalam salah satu wawancara seperti dikutip dari forbes.com. “Nam Joo-hyuk membawa sesuatu yang baru sementara Han Ji-min memiliki pengalaman dan potensi yang belum dieksplorasi. Kami melakukan cast film setelah skenario selesai, tetapi kemudian skenario diadaptasi sehingga individualitas aktor dapat bersinar. Saya pikir skenario menjadi lebih kaya berkat bakat para aktor sendiri. Bekerja sama dengan para aktor untuk menciptakan karakter ini adalah bagian proses paling menyenangkan.”

Menikmati akting Han Ji-min dan Nam Joo-hyuk jadi salah satu alasan mengapa kita harus menonton film ini.

Terakhir, jika hendak menonton Josée disarankan untuk tidak mencoba mencari di mana harimau dan ikan serta kaitan keduanya dalam film ini. Bukan karena film ini tidak memvisualkan harimau dan ikan secara langsung, bukan, bukan itu. Kita tidak perlu mencari-cari sebab harimau dan ikan akan datang setelah kita benar-benar selesai menonton film ini.

Dian Hardiana

Dian Hardiana

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

All stories by:Dian Hardiana