Cinta Putih dalam Moonlit Winter

820 820 Dian Hardiana

Kapan salju akan mereda?”
~ Masako

Film Moonlit Winter (2019) diawali dengan layar berwarna hitam. Yang terdengar hanya derap kereta api. Beberapa detik kemudian, jendela kereta yang bergerak berlawanan arah jarum jam itu ditampilkan tidak presisi. Melalui kaca jendela dari dalam kereta, tampak bangunan-bangunan dengan hamparan salju di sekitarnya. Sementara kereta terus bergerak hingga terlihat laut yang berbuih. Putihnya salju dan laut yang berbuih menandakan musim dingin sedang berlangsung.

Pembukaan film dengan lanskap musim dingin yang dilihat dari kaca jendela, secara sinematografi terasa begitu menggoda.

Film Moonlit Winter sendiri memiliki alur besar mengenai hubungan seorang ibu bernama Yoon Hee (Kim Hee-ae) dan putrinya Sae Bom (Kim So-hye), terutama saat mereka liburan musim dingin di Otaru, sebuah kota pelabuhan di Hokkaido Jepang. Liburan ini direncanakan Sae Bom, setelah secara diam-diam ia membaca surat yang ditujukan pada ibunya.

Musabab Sae Bom mengajak ibunya liburan bukan hanya karena surat-surat yang datang dari Jepang saja, tapi juga karena belakangan ia merasa ibunya jadi semakin pemurung. Seperti tertekan oleh sesuatu yang Sae Bom duga ada kaitan dengan masa lalu ibunya.

Relasi ibu-anak inilah yang jadi kerangka besar cerita dalam menggambarkan hubungan manusia yang sederhana sekaligus pelik. Hubungan Sae Bom dan ibunya, juga hubungan Jun (Yuko Nakamura) dan Masako (Hana Kino) bibinya, digambarkan lewat dialog-dialog pendek yang terasa intim, hingga semakin lama semakin menebal sebagai sebuah relasi keluarga yang alamiah. Persis seperti tumpukan salju yang kian hari kian tinggi di Otaru.

Selain penggambaran relasi-relasi sedarah, Moonlit Winter juga mengangkat hubungan-hubungan yang umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan Yoon Hee dan mantan suaminya, In Ho (Yoo Jae-myung) serta hubungan pasangan kekasih antara Sae Bom dan pacarnya, Kyung Soo (Sung Yoo Bin). Tarik menarik hubungan Yoon Hee dan In Ho diekspresikan lewat dialog yang patah-patah: In Ho seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan secara langsung kepada mantan istrinya.

Di sisi lain, Yoon Hee juga tak kuasa untuk secara terbuka dan jujur kepada In Ho. Sementara hubungan Seo Bom dan pacarnya, disajikan lewat adegan-adegan canggung dan polos anak sekolahan. Misalnya saat adegan Kyung Soo mencoba bergaya dengan merokok tapi malah terbatuk-batuk karena tidak pernah merokok sebelumnya. Atau adegan ketika Sae Bom kepergok pacaran oleh ibunya.

Tawaran menarik lain dari film ini adalah Otaru yang penuh salju.

Di Otaru, salju tumpah ruah di mana-mana: di halaman, di jalan-jalan, atau di atap-atap bangunan. Di kota itu, putihnya salju jadi saksi bagaimana kisah cinta yang membeku selama hampir dua puluh tahun, mencair kembali. Putihnya salju juga jadi representasi warna yang mendominasi film berdurasi kurang dari dua jam ini.

Putihnya salju seakan-akan merefleksikan cinta pertama tokoh utama yang justru berakhir kelam. Seperti ingin menegaskan bahwa cinta, setragis apapun akhirnya, tetap putih seperti salju. Tetap sesuatu yang suci dan berharga, yang harus disyukuri keberadaannya. Meski cinta atau salju saat musim dingin, seperti yang terjadi di Otaru, kadang-kadang begitu menyiksa dan merepotkan.

Film Moonlit Winter disutradarai dan ditulis oleh Lim Dae-hyung. Moonlit Winter merupakan film layar lebar kedua Lim setelah Merry Christmas Mr. Mo yang tayang 2016. Pada ajang tahunan Blue Dragons Award ke-41, Moonlit Winter sukses menggondol dua penghargaan untuk kategori Sutradara Terbaik dan Skenario Terbaik. Sebelumnya, pada ajang Korean Association of Film Critics ke-40, selain mendapat penghargaan sebagai Sutradara dan Skenario Terbaik, Moonlit Winter juga berhasil membawa pulang penghargaan Best Soundtrack atas nama Kim Hae Won.

Cinta Pertama yang Sulit Dilupakan
Cinta pertama Yoon Hee jadi lapisan cerita tak kasatmata yang jadi penggerak film Moonlit Winter. Cinta pertama yang dialami Yoon Hee puluhan tahun lampau terus menghantui meski Yoon Hee pernah menikah dan punya anak, meski jarak yang memisahkan Yoon Hee dengan cinta pertamanya beribu kilometer jauhnya. Bagi Yoon Hee, cinta pertama tidak mudah dilupakan begitu saja.

Apa yang dialami Yoon Hee ternyata lazim terjadi bagi banyak orang. Psikolog Susan Winter, seperti dikutip dari Instyle.com mengatakan, “Dorongan untuk bersatu kembali dengan cinta pertama Anda adalah dorongan untuk kembali pada masa yang menyenangkan. Anda mungkin mengenal cinta pertama Anda dalam periode ketika semuanya baik karena Anda tidak (belum) terluka oleh cinta.”

Sementara menurut Amy Ricke, Psikiater dari Yours Doctors Online, mengatakan bahwa cinta pertama jadi tidak terlupakan karena cara otak bekerja. Saat jatuh cinta: dopamin, oksitosin, dan serotonin memenuhi otak. Membuat kita merasakan euforia dan perasaan menyenangkan yang intens.

“Dengan begitu pengalaman cinta pertama menjadi hampir tak terhapuskan, tertanam dalam otak dengan cara yang sangat jelas, mudah diingat. Seringkali mustahil untuk dilupakan,” kata Amy seperti dilansir dari Bustle.com.

Maka lumrah jika Yoon Hee digambarkan begitu sulit melupakan cinta pertamanya. Pergulatan untuk melupakan atau mengenang bergolak dalam dirinya. Apalagi, hubungan Yoon Hee dengan cinta pertamanya, merupakan hubungan yang tidak biasa, yang diakhiri dengan cara yang sama sekali tidak ia inginkan.

Tekanan yang dialami oleh Yoon Hee untuk melupakan cinta pertamanya, dipresentasikan dengan karakter yang bertenaga oleh Kim He-ae. Adegan saat ia menghisap rokok misalnya, jadi pembesaran yang sempurna untuk gimik orang yang depresi karena cinta. Kim He-ae, dengan pendekatan ekspresi yang berubah perlahan secara emosional, berhasil menyorongkan akumulasi penderitaan seorang wanita paruh baya, yang dipenuhi oleh kecamuk dan rasa bersalah.

Akting ciamik Kim He-ae dilengkapi oleh lawan mainnya Kim So-hye yang juga bermain total. Meski tergolong artis pendatang baru, Kim So-hye berhasil mengeluarkan karakter manja, dengan rasa ingin tahu seorang remaja pada diri Sae Bom.

Saat konferensi pers peluncuran film Moonlit Winter, seperti dilansir dari Soompi.com, Kim He-ae turut memuji totalitas akting Kim So Hye dengan mengatakan, “Kim So Hye datang dengan persiapan yang sempurna, sehingga dia tidak perlu melihat naskah lagi. Ia membuat dialog itu menjadi miliknya. Aku berharap memiliki anak perempuan seperti dia. Ia memainkan perannya dengan penuh kasih sayang.”

Tentu saja, yang patut mendapatkan tepuk tangan paling keras adalah sutradara Lim Dae-hyung. Walau masih tergolong sutradara muda, ia tampak sangat berpengalaman dalam meracik sebuah film bertema cinta yang tidak terjebak pada glorifikasi drama cinta sejenis. Lim secara fokus dan telaten menyusun satu persatu potongan-potongan adegan agar tercipta kesatuan cerita yang penuh dan utuh.

Selain itu, Lim juga sabar mengeksplorasi karakter tokoh-tokohnya lewat dialog tanpa harus mengatakan semuanya menjadi serba jelas, sehingga cerita tersibak secara perlahan dan menyenangkan. Hal ini menciptakan akhir film yang bisa dikatakan “pecah” karena struktur cerita saat pertama kali dibangun kokoh dan terjaga.

Hasilnya, Lim Dae-hyung melalui film Moonlit Winter, berhasil mengantar penonton pada gigil musim dingin yang seperti tidak akan berakhir di Otaru. Namun di saat bersamaan ia juga berhasil menghantarkan hangatnya cerita diterangi cahaya bulan.

Dian Hardiana

Dian Hardiana

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

All stories by:Dian Hardiana