Gerakan Liris Iswadi Pratama dalam “Harakah Haru”
Barangkali kaulah yang harus menceritakan
Mengapa kota ini mendadak menjadi lahan
tempat setiap orang menanamkan diri mereka
sebagai rumput, bunga, atau pepohonan
(Sajak PENJAGA KEBUN)
Seni dan kehidupan bukan bagian yang terpisah dalam domain kemanusiaan. Hidup dan seni bersatu sebagai keindahan (aesthetic) atau tindak kreatif (creative) dalam respon dan tanggung jawab keduanya terhadap satu sama lain (Bakhtin; Art and Answerabilty). Menurut Bakhtin, kita memandang kehidupan atau seni sebagai sebuah tindakan –aktivitas yang dilakukan dengan penuh kesadaran- sebagai bagian dari respon (answerability) terhadap yang lain. Di mana kesadaran itu terjadi karena adanya hubungan terus menerus antara kita dengan sesuatu di luar diri kita.
Dalam Seni/Sastra hubungan antara seseorang dengan di luar dirinya dapat dilihat dari karya-karya yang dihasilkan. Karya merupakan salah satu tindak kreatif. Sebagai bagian dari jawaban dan tanggung jawab seniman atau penulis dengan dunia di luar dirinya. Pada kumpulan puisi Harakah Haru Iswadi Pratama, kita akan mendapati hubungan tersebut.
Kumpulan puisi Harakah Haru diambil dengan judul yang sama dari lukisan karya Hanafi tahun 2005. Sajak-sajak yang ditulis dalam kumpulan puisi ini ditulis dalam rentang waktu 1998-2005 diterbitkan oleh Nuansa Cendekia pada bulan April 2015. Kumpulan puisi ini berisi 63 sajak yang dibagi dalam tiga bagian; dua seuntai, alegori dan sejumlah percuma, serta dongeng dan kisah-kisah yang menyempal.
Relasi antara aku lirik dengan ‘dunia’ di luar dirinya hampir mewarnai keseluruhan sajak-sajak dalam kumpulan puisi ini. Hubungan yang berkelindan, saling menegaskan, atau sekadar gambaran atas sebuah peristiwa yang sedang/telah terjadi. Bait pertama pada sajak “Penjaga Kebun” yang dikutip di awal tulisan ini, menjadi contoh dari hubungan antara seseorang (self) dengan kota yang telah berkembang sedemikian rupa (other). Pertanyaan retoris aku lirik tentang kota yang bergerak dinamis merupakan bentuk tindak kreatif atas apa yang terjadi pada realitas yang sesungguhnya.
Cara Iswadi Pratama memberi nama baru pada sebuah tempat atau daerah juga bisa kita dapati pada bait pertama sajak “Hujan di Tanjungkarang” /Di sepanjang jalan Tanjungkarang/Januari gugur seperti hujan/Kemilau pasar; cahaya di pipi perempuan/. Tanjungkarang sebagai sebuah daerah diibaratkan sebagai pipi perempuan. Liris tanpa menghilangkan identitas tempat itu sendiri. Hal-hal serupa bisa kita jumpai pada sajak-sajak lain seperti; “Orangerie Theatre”, “Pohon Pohon Kersen”, “Pulang”, “Amadeus: Lacrimossa”, dan “Selalu Kukenang”.
Pada sajak “Ibu Yang Berjanji”, secara lebih terang kita dapat melihat bagaimana sebuah karya tidak terlepas dari realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sajak ini mencerminkan bagaimana seorang penulis bergulat secara empiris, antara dirinya dengan dunia di luar dirinya. Bait pertama dan kedua /di toserba yang terang dan meriah/perempuan bunting tertangkap mencuri//wajahnya pasi merunduk dilecut takut/sebelah lengan gemetar layu menjinjing 1 blek susu/. Kemudian ditutup oleh tiga bait terakhir /kuberikan padanya 1 kaleng susu/dan ia berkata;”terimakasih, om. Saya tak minta, ibu yang janji.”//aku tak ingin pergi, tapi harus pergi/aku ingin mendekap dan membawanya serta//tapi hari demi hari hanya haru lalu lupa/dan toserba itu kini semakin megah/
Pada kumpulan puisi ini Isawadi Pratama memang tidak secara terang-terangan ‘bergerak’. Ia lebih memilih dengan cara yang lain, cara yang boleh jadi dilakukan juga oleh penyair kebanyakan. Meski begitu, saya pikir, kumpulan puisi ini layak untuk dibaca. Agar kita tahu, bagaimana cara melihat dan menyelami dunia secara berbeda. Salam.[]
Judul: Harakah Haru
Penulis: Iswadi Pratama
Penerbit: Penerbit Nuansa Cendekia
ISBN: 978-602-350-011-6
Cetakan: April, 2015
Harga: Rp45.000,-

