Forum Pidato Kebudayaan 2016: Panggilan untuk Saling Melindungi
Sisa waktuku di bukit duri ini,
Hanya meninggalkan
Secangkir bintang pun perih,
Selembar duka menganga
–Secangkir Bintang-Sinta Ridwan
Kudu silih asih, silih asah, jeung silih asuh
(Kita harus saling mengasihi, mengasah,
dan juga saling mengasuh antar sesama manusia—Pepatah Sunda)
Percakapan Batin Premana W. Premadi
“Hadirin sekalian, mari temani saya mengembara dalam semesta,” tutur Premana W. Premadi, seorang astrofisikawan dari Institut Teknologi Bandung yang akrab disapa Nana. Ia menyebut pidatonya sebagai pengembaraan, suaranya terdengar karib, lembut, jernih mirip hujan rintih. Seolah tengah berbisik di telinga saya: Kau dengar? Bintang-Bintang, miliaran bintang, berdoa bagi siapa saja yang sedang belajar, sedang bernalar.
Hujan lebat disertai gelegar petir baru saja mengepung komplek Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat. Malam itu, Kamis (10/11/2016) udara telah sedingin instalasi pertunjukan kolaborasi Hanafi dan Lab Teater. Beberapa pengunjung Teater Jakarta terlihat membawa serta payung yang mereka bawa ke dalam gedung Teater Jakarta. Para pengunjung, termasuk saya, terlebih dulu menyaksikan acara seni yang diambil berdasarkan “The Dead Class” karya Tadeusz Kantor tersebut, karya yang berangkat dari gagasan “kita tidak bisa kembali ke masa lalu.”
Premana W. Premadi menjadi penyaji kedua malam itu setelah Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, setelah jeda yang diisi oleh penampilan Afrizal Malna, setelah pertunjukan musik yang dibawakan dengan apik oleh kuartet Tomorrow People Ensemble. Di samping panggung, Premana W. Premadi berdiri di balik mimbar. Bintang-Bintang dengan beragam spektrum warna menawan terpampang di layar lebar, di hadapan audiens. Teater Jakarta gelap gulita, hanya ada suara penyaji pidato, tampilan video juga gambar sebagai ilustrasi pidato di depan.
“Alam semesta ini sungguh terlalu besar dan kaya untuk muat dalam lamunan. Dan teramat senyap, kesenyapan yang menakutkan untuk kita yang dibesarkan dalam kehiruk pikukan,” ucap peneliti astronomi yang lahir di Surabaya dan melanjutkan studi doktoral di University Of Texas, Austin, AS itu. Pidatonya ia beri judul Mengugah Welas Asih Lewat Pola Pikir Ilmiah.
Banyak hal yang ia pertanyakan. Di mana kita? Kita menuju ke mana? Kita ingin apa? Apa arti ini semua? Apakah ada landasan berpikir dan cara berpikir yang common untuk semua orang? Apa kira-kira yang terjadi di sekolah? Kenapa anak-anak berhenti bertanya macam-macam justru ketika mereka sekolah? Apakah bangsa kita menginvestasi dengan benar untuk masa depannya? Sebagai saintis sekaligus pendidik, saya terhenyak, dan mengukur diri, apakah sudah saya bekali anak-anak kita dengan yang terbaik? Jiwa raga seorang Premana W. Premadi adalah sains dan membangun pola pikir saintifik. Di alam semesta ini misteri bertebaran sebanyak bintang bertaburan.
Selain seorang ahli kosmologi, Premana W. Premadi adalah ketua Yayasan Amyotrphic Lateral Sclerosis (ALS) Indonesia. Saat berjalan ia mesti dibantu tongkat. Pada akhir 2010, ia didiagnosis Sklerosis Lateral Amiotropik, penyakit motor neuron progresif muscular atrofi yang menyerang saraf dan sampai saat ini tak bisa disembuhkan, kalau pun ada obatnya, itu hanya menghambat rasa sakit, namanya riluzole. Obat tersebut masih sulit ditemukan, dan sangat mahal, 500 ribu perbutir dengan efek samping ke jantung serta segala macam. Sklerotis lateral amiotropik yang mengakibatkan kelumpuhan ini belum diketahui penyebabnya. Hanya 5 persen penderita penyakit tersebut yang bisa bertahan hidup lebih dari 5 tahun setelah didiagnosis.
“Kita memahami bumi kita dengan lebih baik setelah mengenali planet-planet lain. Kepemahaman yang membuahkan respek dan panggilan untuk saling melindungi,” ucap Premana W. Premadi yang meyakini bahwa dengan bercermin pada orang lain kita menjadi lebih mengenali diri sendiri.
“Masing-masing individu menjadi saling mawas akan kondisi satu sama lain. Latihan bertanya, bagaimana jika, dapat diberi konteks lingkungan menjadi, bagaimana jika saya berada dalam kondisi seperti dia? Pertanyaan analitik yang bernuansa empatik,” tutup Premana W. Premadi yang memperoleh dua rangkaian bunga serta standing ovation dari audiens usai menyajikan pidato.
Kedewasaan Beragama Menurut Menteri Agama RI
Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, Irawan Karseno, dalam pengantarnya mengatakan, tahun ini ada format baru dalam penyampaian pidato, yang mulanya penyampaian gagasan pidato tunggal menjadi penyampaian gagasan bersama dari beberapa orang cendekiawan. Pelaksanaan Forum Pidato Kebudayaan 2016 ini juga bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan 10 November, di tengah simpang siur berita yang bisa setiap saat, oleh siapa saja, dibagikan di media sosial, tanpa atau lebih dulu menulis sesuatu sebagai latar belakang (semacam kemarahan). Irawan Karseno menyatakan, sepanjang 2015-2016 ada ketegangan meningkat dalam isu intoleransi agama dan rasisme. Juga membanyaknya hambatan kebebasan berekspresi di ruang kesenian dan keilmuan. Kehadiran Menteri Agama sebagai penyaji diharapkan bisa memberi suara jernih di tengah riuh rendah orang marah-marah.
Lukman Hakim Saifuddin, yang malam itu mengenakan peci hitam, baju koko hitam, serta sarung hitam, dalam pidatonya menerangkan, sejak tahun 1930-an, sosok-sosok terpandang, para intelektual yang memang diharapkan bicara, sudah memiliki pemikiran serta membayangkan Indonesia akan seperti apa ke depan, posisi Indonesia ada di mana. Sosok-sosok yang berbicara tersebut adalah Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Purbatjaraka, Sutomo, Adinegoro, Ki Hajar Dewantoro. Hingga, buku berjudul Polemik Kebudayaan pun disusun oleh Achdiat Kerta Mihardja berdasarkan ide para pemikir tersebut.
Menteri yang pernah mondok di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, tersebut menyampaikan pidato berjudul “Kedewasaan Beragama dan Masalah-Masalah Kemanusiaan Masa Kini”. Ia menekankan perlunya toleransi, tengang rasa, dan tepo saliro. Ia juga menegaskan, pentingnya anak bangsa mengamalkan lima nilai budaya, yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.
“Kita terlalu lama miskin literasi sehingga terkaget-kaget dengan air bah informasi. Kita juga terlalu abai mengelola kekayaan negeri ini sehingga hanya bisa marah ketika semua komoditas telah berpindah,” tegasnya.
Ia pun menyampaikan hal menarik, sebuah pernyataan pada tahun 1956, saat KH Muhammad Ilyas memetakan pemeluk agama Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia ke dalam tiga kelompok besar, yaitu Islam Amaliah atau kaum saleh yang rajin ibadah, lalu Islam Ilmiah yang berarti kelompok intelektual muslim, kemudian, Islam Seumangat atau umat Islam yang cepat mendidih darahnya ketika agama atau kitab sucinya dilecehkan. Di antara tiga kelompok itu, nomor tiga atau Islam Seumangat paling banyak jumlahnya. Menurut menteri kelahiran Jakarta 25 November 1962 itu, hal demikian relatif belum jauh berubah.
“Semoga Tuhan membimbing kita ke jalan yang benar dan menjaga keutuhan NKRI,” Menteri Agama mengakhiri pidatonya.
Langit gelap gulita. Tak ada bintang. Di luar Teater Jakarta malam menyergap lampu-lampu trotoar. Bintang-Bintang enggan menggantung di atas gedung-gedung. Mungkin tengah khusuk melantunkan doa di angkasa. Kata-Kata Premana W. Premadi menggema di telinga. Ia berterima kasih pada hadirin karena telah menemaninya berkelana. Ia berharap setiap orang bisa meneruskan tradisi welas asih dan tetap optimis. Katanya:
“Manusia hanya punya sesamanya untuk saling bergantung, dan hanya punya Bumi untuk merumahinya untuk bertahan, kita sungguh-sungguh perlu saling merawat, tidak ada cara lain.”[]Sukabumi, November 2016

