Eben dan Warisannya bagi Skena Cadas

820 820 Edi Sutardi

Setelah beberapa lagu, area moshpit mulai memanas. Seorang penonton dari arah belakang saya berteriak kencang, “Ben aing geus meuli kaset maneh!” (Ben aku sudah beli kaset kamu! [Album ketiga Burgerkill]). Eben yang mulai berkeringat dan sedang membetulkan posisi gitar sebelum perpindahan lagu menimpali dengan sengit, “Gandenglah, lamun maneh wani mah turun tong diuk wae!” (Berisiklah, kalau kamu berani, turun—ke area moshpit—jangan cuma duduk saja!). Jawaban Eben kemudian disambut dengan tepuk tangan, teriakan, dan orang-orang yang semakin menyesaki area moshpit. Itulah malam yang akan selalu saya ingat dari perjalanan bermusik Burgerkill (BK).

November tahun 2006, pelataran Dago Tea House telah dipenuhi sebagian besar orang berkaos BK sejak sore hari. Hari itu, skena musik cadas Bandung sedang berkabung karena kehilangan vokalis Burgerkill, Ivan Firmansyah a.k.a. Ivan Scumbag yang meninggal dunia setelah bergelut dengan sakit yang cukup lama dideritanya. Tahun itu, Burgerkill telah merampungkan album ketiga Beyond Coma and Despair (2006).

Menjelang malam, pintu masuk Dago Tea House dibuka. Angin sejuk menuruni bukit utara Bandung. Yadi Behom, eks vokalis Bleeding Corpse, Jasad, dan Motordeath dengan karakter vokal growl membuka konser malam itu, melantangkan lagu-lagu andalan BK pada album ketiga. Tentu saja aneh mendengar suara Behom mengisi vokal lagu-lagu BK.

Konser perilisan album ketiga sekaligus perpisahan buat Ivan malam itu bagi saya sangat emosional, apalagi saat Addy Gembel (vokalis Forgotten) menyematkan bandana pada gagang mikrofon dan membacakan puisi untuk Ivan. Bandana itu berkibar tertiup angin kencang dilatari lagu “Sakit Jiwa”. Pada pemakaman Eben, bandana serupa disematkan Arian pada nisan Eben.

Album ketiga BK menandai perkembangan pesat musikalitas BK: musik yang lebih progresif dan lirik yang lebih gelap dan depresif. Album ketiga BK merupakan titik balik mereka kembali menukangi sendiri penggarapan album melalui label Revolt! Records.

Dalam perjalanannya, pasca BK merilis album ketiga, BK mulai menghajar panggung-panggung internasional: Soundwave Festival Australia 2009 dan Black Day Out 2010. BK pun sudah mencicipi penghargaan Metal Hammer Golden Gods Awards pada 2013 kategori “Metal As F*ck”. Pada tahun 2015 BK menjejak panggung Bloodstock Open Air (Inggris), Wacken Open Air 2015 dan 2020 (Jerman)–BK gagal bermain tahun 2020 karena pandemi–,  hingga tur 16 kota di Amerika Serikat pada tahun 2019.

Di tengah keringat yang menderas dan suhu udara yang semakin dingin, Eben sering mengajak penonton untuk berteriak “Anjing!”. Seruan Eben membuat adrenalin semakin meninggi. Lagu demi lagu kembali dimainkan hingga teman saya pingsan karena terlalu liar saat berjingkrak. Malam itu suara kami habis setelah bernyanyi, berlompatan, berlari-lari, dan bertabrakan dengan penonton lain.

Kepergian Ivan memukul BK dan Eben berkali-kali, tak terhitung lagi berapa kali BK nyaris bubar. Selang lima tahun setelah album ketiga, BK kembali dengan album baru Venomous (2011). Lagi-lagi BK menghadirkan nuansa baru pada album keempatnya.

Mengenal BK pertama kali lewat lagu “Sakit Jiwa” dari album pertama Dua Sisi (2000). Hal itu juga yang membuat generasi kakak saya pergi menonton ke Saparua pada era 90-an. Sementara bagi saya, jalur masuk menggemari BK adalah album kedua Berkarat (2003): suara yang jernih, artwork sampul kaset yang enak dilihat, dan komposisi lirik yang menurut saya keren. Saat itu saya baru kelas dua SMP dan saya mendapatkan album Berkarat dari pelapak kaset Dewi Sartika dengan kondisi masih segel.

Kegemaran terhadap BK membuat saya dan teman-teman sering memburu informasi terbaru dari mereka. Beberapa tempat kami kunjungi untuk mencari jadwal manggung BK dan band kesukaan lainnya. Saat itu pamflet masih menjadi media yang umum digunakan untuk menginformasikan gigs, ditempel pada dinding atau tiang listrik di sudut-sudut kota yang seringnya berebutan dengan iklan sedot tinja atau servis elektronik.

Namun sesungguhnya, tempat paling mudah untuk menemukan informasi gigs adalah clothing/distro seperti Chronic, Arena, Riotic, Omuniuum atau Remains. Dari tempat-tempat itulah saya biasa membeli tiket konser, rilisan fisik, kaos, pernak-pernik hingga mengantongi majalah Ripple.

Salah satu yang paling sering saya kunjungi adalah Chronic, yang saat itu tokonya masih di jalan Kalimantan atau sepelemparan batu dari SMAN 3 dan 5 Bandung. Sederhana saja alasannya, selain jaraknya yang paling dekat dari rumah, Chronic adalah lini usaha yang dimiliki Eben. Tempatnya belum sebesar sekarang dan setiap kali berkunjung ke toko, saya selalu diajak ngobrol oleh penjaga toko yang selalu memberikan oleh-oleh entah itu stiker, pamflet acara bahkan poster BK dengan ukuran besar. Selain lima tempat yang saya sebutkan tadi, Common Room yang dikelola Gustaff, eks personel Injected Sufferage adalah tempat nongkrong yang strategis untuk terus memperbarui informasi perskenaan.

BK adalah anomali seperti dalam tulisan Morgue Vanguard “Pariah” sebagai pengantar 25 tahun perjalanan bermusik band asal Ujungberung itu. Saat band di Ujungberung banyak mengambil aliran metal, BK tampil mengusung hardcore. Hal ini terkonfirmasi dari wawancara Eben dengan Baruz dan Badick dalam acara Barshow edisi “The True Extreme Metal Mind Setter” di kanal Youtube Nusawarna Inc., yang menceritakan bahwa BK mulanya adalah band hardcore yang sangat terpengaruh Ryker’s dan Eben mengamininya. Pernyataan penting Eben dalam wawancara itu adalah, bagaimana pun perubahan musikalitas yang terjadi dalam tubuh BK, akar BK tetaplah hardcore.

Pemikiran-pemikiran Eben bagi skena musik cadas khususnya Bandung bagi saya selalu segar. Ia mengelola Extreme Mosphit yang merangkul pelaku skena genre musik keras untuk berbicara dan memperdengarkan musik mereka supaya dikenal publik. Dan belakangan yang sering membuat saya tertawa adalah ketika Eben dan Gebeg membawakan acara podcast yang membahas seputar Saparua sebagai suplemen dari film dokumentasi Saparua.

Apa yang saya pelajari dan apresiasi dari Eben adalah kegigihannya dalam berkarya. Semangatnya sejalan dengan keyakinan Henry Rollins, “Aku tak memiliki bakat, tapi aku memiliki kegigihan, disiplin, dan fokus.” Menyitir perkataan Eben, ia mengungkapkan bahwa ia bukanlah seorang yang memiliki keterampilan bermain gitar tingkat tinggi. Ia hanya berusaha mengolah instingnya dan ia semakin yakin dengan jalan bermusiknya saat ia bersama teman bandnya membuat album kedua.

Butuh waktu 12 tahun bagi BK supaya bisa tampil di Wacken Open Air untuk pertama kalinya. Eben, pada tahun 2003 mengirim email kepada pihak Wacken namun ia tidak mendapat balasan sama sekali. Tahun berganti tahun membuat ia dan kawannya semakin matang menghasilkan karya dan mulai bermain di berbagai festival musik internasional. Hingga tiba waktunya, BK berhasil tampil di Wacken. BK adalah band pertama Indonesia yang bermain di festival musik legendaris Wacken .

Hal lain yang patut diapresiasi dari Eben adalah upaya pendokumentasian. Seperti juga Kimung (eks basis pertama BK), yang telaten menulis buku salah satunya My Self: Scumbag, Beyond Life and Death (2007), Eben menempuhnya dengan cara merekam, bercerita, mengundang teman-temannya dan meminta mereka untuk berkisah tentang hal-hal yang mereka alami dalam menjalani karir bermusik dan visi mereka tentang musik yang mereka geluti.

Eben cukup bersikukuh membesarkan situs Extreme Mosphit di tengah perkembangan media sosial yang sangat pesat. Eben seperti tidak ingin latah mengeksploitasi kanal publikasi seperti Youtube meski memiliki masa yang besar. Ia memilih mengelola dan membesarkan situs Extreme Mosphit menjadi kanal yang aktif mengabarkan, mewadahi, dan mempublikasi kegiatan skena sebagai penyokong kelangsungan ekosistem musik cadas. Salah satu capaian besar Eben bersama Extreme Mosphit adalah menyelenggarakan Extreme Moshpit Awards pada 2020.

V.Vale, seorang dokumenter skena punk dan pendiri penerbit RE/Search Publications menyebutkan, pendokumentasian adalah hal yang sangat penting karena informasi digali dari sumber primer yang akan dikutip pada tahun-tahun mendatang. Sumber primer ini bukan sekadar teori dari para penulis tapi apa saja yang telah dilakukan oleh para seniman. Itu pula yang dilakukan oleh Eben, selain sebagai seorang pemusik, ia juga penggali dan pendokumentasi aktivitas rekan-rekan sesama pemusik skena cadas, yang dalam masa-masa mendatang akan sangat dibutuhkan sebagai referensi dan dibicarakan oleh generasi-generasi selanjutnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya menonton berulang-ulang video klip “Memoar’98” kolaborasi antara Balcony dan Homicide. Pada awal video, terlihat Eben berjalan menuju sebuah Boombox lalu memasukkan sebuah kaset pada tape deck tersebut, Crek! lalu verse “Flower City” Balcony terdengar, setelahnya verse “Kafir” Balcony berpilin suara DJ berhamburan lalu hentakan demi hentakan tersaji dengan lirik yang padat dibawakan oleh Sarkasz dan Morgue Vanguard diselingi chorus Baruz. Hingga tiba pada lirik “Rest In Peace Scumbag dan kini rasanya perlu ditambah Rest In Peace Eben.”

Setelah ini, kapan pun saya memutar lagu-lagu BK, di situlah ingatan tentang Eben, Ivan, dan BK yang saya gemari sejak SMP akan terus menyeruak.

Saya berimakasih atas karya dan kontribusi yang dibuat oleh Eben bagi skena cadas khususnya Bandung.

Selamat jalan, Kang. Nuhun pisan!

 

Sumber tulisan:
Vanguard, M. (2021). Pariah. https://gutterspit.com/2021/09/05/pariah/. Diakses 8 September 2021.
Samack. (2019). Perjalanan Band Metal Indonesia Di Panggung Wacken Open Air. https://pophariini.com/perjalanan-band-metal-indonesia-di-panggung-wacken-open-air/2/. Diakses 8 September 2021.
Silvers, E. (2020). Punk publisher V.Vale looks to post-pandemic world in ‘Lockdown Lullabies’. https://www.google.com/amp/s/datebook.sfchronicle.com/music/punk-publisher-v-vale-looks-to-post-pandemic-world-in-lockdown-lullabies/amp. Diakses 8 September 2021.
Burgerkill 2000 Dua Sisi (kaset). Bandung: Riotic Records.
Burgerkill 2003 Berkarat (kaset). Jakarta: Sony Music Indonesia.
Burgerkill 2006 Beyond Coma and Despair (kaset). Bandung: Revolt! Record

Sumber Foto: Instagram @anggrabagja

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi