Dunia dengan Satu Kenyataan dan Dua Rembulan

820 462 Adhimas Prasetyo

Preambul
Barangkali novel 1Q84 bisa dikatakan sebagai novel Haruki Murakami yang memiliki penyelesaian cerita paling manis. Terlepas dari alur cerita yang sureal dan suram, jika dibandingkan dengan novel dengan kisah percintaan dari Murakami lainnya, semisal Norwegian Wood, buku ketiga 1Q84 memiliki akhir kisah cinta yang tuntas. Bahkan mungkin frasa happily ever after ala dongeng-dongeng tentang pangeran dan putri kerajaan dapat dipinjam untuk merampungkan 1Q84 ini. Dua tokoh utama akhirnya berbahagia dan pergi meninggalkan peristiwa-peristiwa yang kacau.

1Q84 berkisah tentang tiga tokoh senter yaitu Aomame, Tengo, dan Ushikawa. Kecuali Ushikawa, novel ini menceritakan ikatan yang rumit antara Aomame dan Tengo. Aomame adalah seorang pelatih kebugaran yang menyambi sebagai pembunuh suruhan, sedangkan Tengo adalah guru bimbel matematika yang gemar menulis novel. Aomame dan Tengo secara diam-diam saling memendam perasaan selama dua puluh tahun lamanya. Sedangkan selama itu mereka tidak memiliki kesempatan untuk bertemu.

Baca juga:
Corat-Coret di Toilet: Setelah Reformasi Tak Ada Lagi
– Tina Jéndela Imah, Nyawang Buana Panca Tengah

Ushikawa sendiri adalah penyelidik bayaran yang hampir mengacaukan ikatan rumit antara Aomame dan Tengo. Ushikawa diminta oleh sebuah sekte untuk menyelidiki keberadaan Aomame. Pada suatu urusan sebelumnya, Ushikawa juga sempat menguntit Tengo, namun urusan dengan Tengo tidak berjalan sesuai rencana dan akhirnya diabaikan. Kesamaan dari ketiga tokoh ini adalah mereka masuk ke dalam dunia dengan dua rembulan di langit.

Dua rembulan di langit merupakan penanda bahwa mereka sedang berada di dunia yang berbeda. Di dunia itu, ruang, waktu, dan orang-orang bergerak dengan cara yang semestinya,seakan Aomame, Tengo, dan Ushikawa tidak pergi ke manapun, namun satu persatu hal aneh mulai terjadi dalam dunia ini.

Teknik Meramu Teks Lain
Murakami mencampur-adukkan teks-teks lain di dalam novel 1Q84. Kemudian teks-teks tersebut mengambil peran dengan caranya masing-masing. Beberapa teks setidaknya dapat dibaca dari penamaan yang disematkan oleh Aomame dan Tengo terhadap dunia dengan dua rembulan ini, yaitu 1Q84 dan Kota Kucing.

Kita menyebut dunia ini dengan nama berbeda-beda, pikir Aomame. Aku menyebutnya “1Q84”, sedangkan dia menyebutnya “kota kucing”. Tapi keduanya sama saja. Aomame kian erat menggenggam tangan Tengo. (1Q84Buku 3, halaman 529)

Aomame atau Murakami tidak serta-merta menamakan dunia dengan dua rembulan sebagai alusi langsung dari novel 1984 karya George Orwell. Penamaan 1Q84 diberikan berdasar pada tahun 1984, tahun saat Aomame merasakan hal-hal aneh mulai terjadi.

1Q84itulah nama yang kuberikan untuk dunia baru ini, Aomame memutuskan.

Q adalah singkatan dari “question mark”, tanda tanya. Dunia bertanda-tanya.
(1Q84 Buku 1, halaman 183)

Maka dari itu kisah 1Q84 bukan mengangkat tentang satire terhadap pemerintahan totalitarian-nya Orwell. Namun Murakami mempermainkan kisah Orwell tersebut dengan cara yang kacau. Misalnya sebagai ganti Bung Besar dalam 1984, pada 1Q84 hadir tokoh Orang-orang Kecil atau cukup disebut Orang Kecil. Orang Kecil memiliki kuasa yang dominan dalam mengatur dunia dengan dua rembulan. Mereka dapat menentukan takdir dengan cara mereka sendiri. Orang Kecil juga dapat memerhatikan segala gerak-gerik tokoh, mirip seperti Bung Besar yang memiliki teleskrin dan Polisi Pikiran.

Orang Kecil hadir sebagai tokoh yang magis, misalnya orang kecil dapat mengubah ukuran tubuh atau bahkan dapat berlipat ganda sesuai keinginan mereka. Kehadiran Orang Kecil secara eksplisit dikisahkan bukan sebagai metafor, Orang Kecil adalah tokoh yang nyata dengan segala detail fisiknya. Dalam suatu bab, untuk menguatkan deskripsi tentang Orang Kecil ini, Murakami mengangkat kisah tentang Orang Gilyak yang ditulis oleh Anton Chekov.

Orang Kecil muncul pertama kali dari mulut bangkai seekor kambing yang dipelihara oleh sekte keagamaan Sakigake. Sekte itu dulunya adalah komune pemberontak sayap kiri yang mencoba menciptakan sistem pemerintahan tersendiri, hingga akhirnya atas berbagai kebutuhan administratif, mereka berubah menjadi sekte keagamaan.

“Secara garis besar,” kata Tengo. “Kelompok sejenis komune, menjalankan gaya hidup komunal secara total, mencari nafkah dengan bertani. Juga beternak sapi, dalam skala besar yang mencakup seluruh Jepang. Kepemilikan harta pribadi sama sekali tidak diperbolehkan. Semua harta benda adalah milik bersama.”
(1Q84 Buku 1, halaman 202)

Sebelumnya, sistem yang digunakan oleh sekte ini mirip dengan sistem totalitarian yang juga digambarkan dalam 1984-nya Orwell.

Apa yang dilakukan Kelompok Takashima, menurut saya, adalah memproduksi robot yang tidak berpikir apapun. Mereka mencopot sirkuit dalam otak manusia yang memungkinkan orang dapat berpikir dengan otaknya sendiri. Sama seperti dunia yang dilukiskan dalam novel George Orwell.
(1Q84 Buku 1, halaman 202)

Berbeda dengan Aomame, Tengo menyebut dunia dengan dua rembulan ini sebagai Kota Kucing, diambil dari cerita fiksi karangan penulis Jerman tentang sebuah kota yang dikuasai oleh kucing-kucing.  Tengo membaca cerita itu dalam perjalanan kereta ke sebuah panti jompo untuk menjenguk ayahnya yang terkena demensia.

Tokoh utama dalam cerita Kota Kucing masuk ke dalam kota yang dikuasai oleh kucing, hingga akhirnya ia terjebak selamanya dalam kota itu. Mirip seperti Tengo di dalam dunia dengan dua rembulan.

Dia baru menyadari bahwa dirinya telah raib. Ini bukan kota kucing, sadarlah dia akhirnya. Ini tempat dia diartikan hilang. Tempat yang khusus disediakan untuknya sendiri di luar dunia ini. Dan kereta selamanya takkan berhenti di stasiun itu untuk membawa dia kembali ke dunia asalnya.
(1Q84 Buku 2, halaman 149)

Kisah saat Tengo mengunjungi ayahnya dikutip oleh Murakami menjadi satu cerpen yang utuh. Cerpen ini tayang pada laman The New Yorker berjudul The Town of Cats. Dalam sebuah wawancara, Murakami menjelaskan bahwa kisah tentang kota kucing karangan prosais Jerman adalah hasil buatannya sendiri, atau setidaknya Murakami membuatnya berdasarkan ingatan dari buku fiksi yang pernah ia baca. Bisa dibilang, Murakami adalah Tengo yang tidak mengetahui secara persis prosais Jerman yang menulis tentang kota yang dipenuhi kucing itu.

“Town of Cats” is a story that I made up. I think I probably read something like it a long time ago, but I don’t have a very precise recollection of whatever it was that I read. In any case, this episode performs a symbolic function in the novel in many different senses—the way a person wanders into a world from which he can never escape, the question of who it is that fills up the empty spaces, the inevitability with which night follows day. Perhaps each of us has his or her own “town of cats” somewhere deep inside—or so I feel.

Kota Kucing menguatkan kisah Tengo sendiri, seorang tokoh yang terjebak dalam alur peristiwa yang tidak lazim. Begitu juga dalam novel 1Q84, di mana alur menggiring para tokoh dalam kekacauan peristiwa, dan tokoh tidak memiliki kuasa atas kenyataan-kenyataan di sekitarnya.Seperti Tengo yang tak bisa melepaskan kenyataan bahwa ayahnya yang selama ini ia kenal kemungkinan besar bukan ayah kandungnya sendiri, begitupun kenyataan tentang dua rembulan yang mengapung di langit.

Satu Kenyataan
Aomame memasuki dunia dengan dua rembulan dengan cara turun melewati tangga darurat dari jalan Tol Metropolitan karena taksi yang ia tumpangi terjebak kemacetan parah,mirip seperti Alice yang masuk ke lubang kelinci dalam cerita Alice’s Adventure in Wonderland. Sedangkan Tengo memasuki dunia itu saat ia menjadi ghost writer novel Kepompong Udara yang bercerita tentang Orang Kecil.

Dunia dengan dua rembulan ini dijelaskan dengan konsep yang metaforis.

Benar. Dua rembulan mengambang. Itulah tanda rel kereta sudah digeser. Dengan tanda itu, kedua dunia dapat dibedakan satu sama lain. Tetapi tidak semua orang yang ada di sini dapat melihat dia rembulan. Tidak, malah hampir semua orang tidak menyadarinya. Dengan kata lain, jumlah orang yang tahu bahwa sekarang tahun 1Q84 hanya terbatas.
(1Q84 Buku 2, halaman 242)

Meskipun beberapa tokoh menyadari secara langsung bahwa dua rembulan sedang mengambang di langit, selalu ada yang membatasi tokoh-tokoh tersebut memahami bagaimana 1Q84 lebih jauh. Mereka tidak tahu bagaimana orang-orang selain mereka tidak menyadari dua rembulan sedang mengambang di langit.

Sedangkan dunia 1Q84 bukanlah dunia paralel, di mana 1Q84 berjalan secara terpisah dengan 1984. Hingga akhirnya tokoh yang menyadari menerima─atau lebih tepatnya pasrah─dengan kenyataan tersebut.

Bukan. Ini bukan dunia paralel. Di sana ada dunia tahun 1984, sedangkan di sini ada dunia tahun 1Q84 yang bercabang darinya, dan kedua dunia itu berjalan sejajar. Bukan begitu.
(1Q84 Buku 2, halaman 241)

Barangkali bisa dikatakan perpindahan dunia dari 1984 ke 1Q84 hanyalah perpindahan kesadaran. Hanya beberapa orang yang mampu menyadari kenyataan telah berubah, sedangkan orang yang lainnya tidak mengambil pusing akan hal tersebut.

Membiarkan Lubang Rahasia Tertutup
Novel 1Q84 seakan menuntun pembaca pada sebuah pola. Peristiwa tokoh dijelaskan dengan peristiwa lain yang sama sekali tidak berhubungan. Misalnya peristiwa kematian ibu Tengo dengan kematian dari teman Aomame yang bekerja sebagai polisi wanita, mati surinya Ushikawa dan suster yang merawat ayah Tengo, dan juga teks-teks lain yang dicampur-adukkan oleh Murakami dalam meramu kisah 1Q84 ini. Namun pada saat yang sama, Murakami seolah tidak membiarkan peristiwa tersebut dikatakan sebagai pola yang berkaitan atau berkausalitas.

Setelah selesai membaca tiga edisi dari novel ini, pembaca ditinggalkan dalam lubang penuh pertanyaan. Sama seperti kebingungan Aomame, Tengo, atau Ushikawa saat masuk ke dalam dunia dengan satu kenyataan dan dua rembulan ini.

Baca juga:
Menjadi Karman dalam Agama dan Sejarah 1965
Kematian dan Keseharian

Seperti saran dari suster yang merawat ayah Tengo, saat Tengo harus membiarkan rahasia dibawa mati ayahnya. Pembaca juga agaknya harus membiarkan rahasia dalam novel 1Q84 ini sebagaimana adanya, tak terjelaskan secara utuh.

Kalau melongok-longok terus, nanti kamu nggak bisa ke mana-mana. Mendingan kamu mikir masa depan.(1Q84 Buku 3, halaman 451)

Dalam sebuah wawancara, Murakami mengatakan akan ada edisi keempat yang bercerita tentang Tengo pada masa tuanya.

”A fourth volume featuring an older ‘Tengo’ may come out,” said Mr. Murakami, referring to one of the main characters in the novel in an interview with Spanish newspaper La Vanguardia published on Sunday (in Spanish) to coincide with his appearance in Barcelona to accept a Catalan award. Mr. Murakami trailed off with an enigmatic, “Who knows…”

Tahun ini merupakan tepat sepuluh tahun semenjak edisi pertama dan kedua novel 1Q84 resmi diterbitkan. Barangkali draft edisi keempat 1Q84 sudah tersimpan di suatu laci milik Murakami, atau barangkali tidak ada draft sama sekali dan edisi ketiga merupakan final dari cerita 1Q84. Who knows…

Keterangan Buku

Judul               : 1Q84 (Jilid 1-3)
Penulis           : Haruki Murakami
Penerbit         : Kepusktakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah  : Ribeka Ota
Halaman        : 516 (Jilid 1), 452 (Jilid 2), 556 (Jilid 3)
ISBN                : 978-602-424-005-9 (Jilid 1), 978-979-91-0568-4 (Jilid 2), 978-602-424-007-3 (Jilid 3)[]

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
Leave a Reply

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
error: