Broker: Mengajak Kita Memilih Lahir Kembali

820 820 M. Fasha Rouf

Kelahiran yang berdampingan dengan kematian, selalu menjadi peristiwa besar dalam pelbagai kebudayaan. Kajian antropologi getol memotret peristiwa itu. Ketika saya kecil dulu, saya beberapa kali membuat koin bundar dari genteng, namanya talawengkar. Koin itu digunakan untuk membeli rujak kanistren, yaitu rujak yang terdiri dari tujuh macam buah yang dijual oleh ibu hamil dengan usia kandungan tujuh bulan. 

Begitupun dengan kebudayaan Jepang. Saat saya berkunjung ke sebuah kuil di Shizuoka pada 2012 silam, kami melihat keluarga kecil hadir ke kuil dengan mengenakan kimono dan kinagashi yang anggun. Di kereta gantung, Kepala Sekolah Johnan Shizuoka menceritakan bahwa di Jepang terdapat serangkaian acara untuk menyambut kelahiran bayi. Misalnya tradisi Obi Iwai, di mana sang ibu datang ke kuil untuk melakukan doa dan pengikatan sabuk katun di sekitar perut yang dipercaya dapat melindungi bayi dari ragam marabahaya. Peristiwa itu juga disimbolkan sebagai “hari anjing”, berharap sang ibu dapat melahirkan dengan lancar layaknya proses melahirkan seeokor anjing.

Bagi sebagian orang, ritual-ritual budaya tersebut dapat menjadi peneguh nilai hidup, refleksi peristiwa kehamilan, atau pengungkit semangat menyambut hadirnya manusia baru. Namun, bagaimana bagi sebagian orang lainnya? Di mana kelahiran anak itu sendiri bisa saja tidak diinginkan oleh mereka dengan pagun alasannya masing-masing. Bukankah justru ritual tersebut hanya memperkokoh stigma negatif terhadap orang-orang yang menolak kehadiran buah hati? Dilema ini yang coba dibawakan oleh Hirokazu Kore-eda dalam film Broker (2022). Ia seorang sutradara kawakan asal Jepang yang sebelumnya sukses menggarap Shoplifters (2018) yang diganjar Palme d’Or pada Cannes Film Festival. 

Film ini mencoba mengobrak-ngabrik makna pilihan antara “melahirkan” atau “membuang”. Ketika pilihan jatuh pada membuang sang anak, pilihan moral pun masih terjadi: antara aborsi, membuangnya ke Yayasan, memberikannya pada saudara atau orang tak dikenal, atau menjualnya ke orang berduit. Kore-eda berhasil membentangkan gradasi moralitas yang baik. 

Film ini dibuka dengan hujan yang deras dan seorang ibu muda bernama Moon So-young (Lee Ji-eun) menaruh bayinya di sebuah gereja dengan secarik kertas catatan. Namun ternyata di kemudian hari ia mengetahui bahwa anaknya sudah tak ada di gereja tersebut, tetapi diculik oleh seorang penatu bernama Sang-hyeon (Song Kang-ho) yang dibantu oleh Dong-soo (Gang Dong-won). Melalui diskusi yang cukup alot, saling menuduh kesalahan masing-masing pihak, Moon terjebak pada dilema. Melalui sebuah mobil van, ketiga orang itu membawa sebuah kotak bayi dan membuat kita mempertanyakan pengotakan manusia berdasarkan moralitas dan hukum negara.

Dalam tafsir saya pribadi, sebenarnya simbol lain yang menjadi penohok moral sangat tajam ialah soal ikatan antar-manusia. Kore-eda ingin sekali membongkar soal keabsurdan motif terkuat yang menjadikan manusia terikat satu sama lain. Bisa dikatakan, seperti dalam Shoplifters, Kore-eda tak memercayai soal “hubungan darah”. Ia menggambarkan bahwa hubungan darah itu dapat dibongkar acak sedemikian rupa: misalnya melalui pengkhianatan, penjualan anggota yang sedarah, atau perceraian tanpa alasan. Sementara itu, banyak sekali alasan-alasan lain yang mendorong individu untuk terikat lebih kuat dengan manusia liyan, dan lebih bangga menyebut mereka sebagai keluarga. Misalnya seorang pelacur dengan mucikarinya, seorang anak asuh dengan guru di panti asuhan, atau tiga orang di film Broker ini yang tiba-tiba memiliki keterikatan dengan kuat karena saling menyadari ada kebutuhan yang sama, dan pengertian pada motif masing-masing. Kita akan bertanya, “apa itu makna keluarga?”.

Di tengah “perjuangan” sekomplotan manusia yang ingin menjual bayi ini, ternyata dua orang detektif polisi juga tengah membongkar kasus penjualan anak. Melalui para polisi ini, Kore-eda menghujani penonton dengan tanda tanya moral yang lain. Siapa yang paling berhak menilai soal kesalahan dan kebenaran? Siapakah yang harus dirugikan dan diuntungkan dari sebuah hukuman? Di tengah perjalanan para penjual bayi ini pula, kita akan ditampar habis-habisan soal makna kewajiban membahagiakan. Apakah orang tua berkewajiban membahagiakan anak mereka? Bagaimana jika sang anak justru lebih berbahagia saat hidup bersama orang lain? Seorang anak kecil yang tiba-tiba ikut perjalanan van penculik ini, akan membuat kita tertawa sekaligus tak henti bertanya-tanya. 

Tentu soal ide dahsyat cerita tak akan dapat dan nikmat dicerna tanpa produksi film yang mumpuni. Soal ini saya kira tak perlu dipertanyakan lagi. Pewarnaan gambar yang digunakan oleh Hong Kyung-pyo sebagai sinematografer mengingatkan saya pada foto-foto Hamada Hideaki yang memotret kehidupan dengan jernih, teduh, dan hangat. Melalui coloring ini, penculikan bayi yang menjadi motif utama ide cerita Broker tidak terkesan menegangkan dan meneror. Melalui nuansa visual itu, saya meresapi bahwa suatu tindak kejahatan, adalah hanya sebuah risiko dari kondisi sosial yang kacau dan tak saling bertanggungjawab. Dari sudut pelaku, perilaku kejahatan memang akan terasa wajar dan bisa berjalan dengan tenang, pelan, karena ia merasa hanya mencari cara untuk bertahan hidup. 

Suasana ini pun didukung dengan latar suara dari tuts piano yang ditekan dengan banyak sustain, gitar yang nyaring, dan string yang merambat. Jung Jae-il, yang pernah menjadi music director dari Parasite, Okja, serta Squid Game berhasil menciptakan semesta yang diinginkan sang sutradara. Kita diajak untuk tegang sekaligus reflektif. Akting para pemain, tak bisa dibantah kemanisannya. Mereka bermain seperti natural dan tanpa beban. Song Kang-ho yang sempat didapuk sebagai pemain terbaik dalam Cannes dan IU sebagai artis dan penyanyi adalah dua favorit saya.

Film ini berdurasi 2 jam 19 menit ini lebih banyak memberikan ruang pada detail, sehingga adegan dan dialog akan terasa lambat. Bagi orang yang kurang gemar menonton jenis ini, saya kira akan cukup membosankan dan merasa banyak hal remeh-temeh yang tak perlu disajikan. Tetapi bagi saya, ruang yang panjang pada detail memberikan ruang tafsir yang lebih holistik kepada penonton, untuk kemudian berempati pada masing-masing jalan hidup yang dipilih pada aktor. Dengan detail seperti itu, film ini pun mengambil risiko yang tak terlalu bisa diantisipasinya. Film ini sedikit terjebak pada penutupan film yang menyulitkan. Yaitu terlalu ingin memungkas cerita dengan cerita yang utuh dan akhirnya tempo film di akhir terasa lebih cepat. Ngagejlok, kalau kata urang Sunda.

Tetapi justru kelambatan itulah kekuatan dari film ini, atau film-film dari Kore-eda. Ia mampu menyulap penonton film serupa para peneliti fenomenologis, yang memasrahkan makna-makna terhadap suatu konsep kepada para informannya, dalam hal ini adalah aktor-aktor dalam film. Kore-eda mampu memberikan kita ruang tafsir yang beragam dan empati yang kuat, terutama pada orang-orang kecil. Misalnya profesi tukang binatu yang muncul di Broker maupun Shoplifter, saya kira memiliki metafor pesan tersendiri di benak Kore-eda. Misalnya, siapakah yang seharusnya membersihkan persoalan-persoalan sosial ini? Dan siapakah orang yang paling suci dan paling bersih itu? Di mana posisi orang kecil sebagai pencuci?

Film Broker sangat mengingatkan saya pada pelajaran penting dan dasar dalam menghasilkan ide dalam sebuah karya kebudayaan. Banyak guru sastra saya yang bercerita, bahwa seorang penulis harus mampu berada pada posisi abu-abu (saya lebih senang menyebutnya gradasi), antara kebenaran dan kesalahan, antara kebaikan dan keburukan. Ketika ada sungai kotor yang coklat pekat, seorang penulis tak perlu menghakimi dan berteriak bahwa sungai itu kotor, tetapi mengapa tak mencoba menuliskan ada sekelompok anak kecil yang berenang dengan bahagia di sungai tersebut? Film ini cukup mengajak kita lahir kembali, sebagai seorang anak yang tak paham banyak hal, tetapi mampu berempati pada lebih banyak hal.

M. Fasha Rouf

Seorang pekerja di Jakarta, pendengkur saat di Cianjur. Mengisi kejemuannya dengan bergiat dalam tim pengelolaan dan redaksional Buruan.co. Menulis puisi, resensi, dan esai.

All stories by:M. Fasha Rouf

M. Fasha Rouf

Seorang pekerja di Jakarta, pendengkur saat di Cianjur. Mengisi kejemuannya dengan bergiat dalam tim pengelolaan dan redaksional Buruan.co. Menulis puisi, resensi, dan esai.

All stories by:M. Fasha Rouf