Fb. In. Tw.

Arti Jam Gadang

Apa sebenarnya makna dari kampung halaman. Apa hanya sekadar pameran siapa yang paling sukses di perantauan? Pulang ke kampung membawa mobil mewah, duit yang tebal di dompet. Saya pikir kalau tidak diimbangi dengan sikap yang baik, saya sarankan tidak perlu pulang kampung, karena hanya akan membuat ATM yang bertumpuk-tumpuk di dompetmu itu jadi bau seperti sampah lalu tercium oleh orang-orang di sekitarmu.

Saya selalu pulang ke kampung dengan duit secukupnya, karena saya yakin, keluarga di kampung tidak butuh duit yang saya miliki. Mereka lebih pandai mencarinya karena di sini dasarnya pasar. Keluarga saya di kampung, juga teman lama hanya butuh berbagi senyuman.

Hari lebaran kemarin itu, bahkan tidak mampu menghitung berapa jumlah orang Minang yang berada di perantauan. Padahal yang pulang belum semua, namun lebaran saat itu Jam Gadang tampak mirip sebutir gula raksasa yang dirubungi semut-semut. Mau sekadar diam pun barangkali sulit.

Sepotong puisi dari Esha Tegar Putra yang berjudul Bukittinggi, “Seseorang akan berjaga lewat lubang-lubang panjang. Seseorang akan berjaga di reruntuhan pasir ngarai. Seseorang yang lain akan berjaga dalam gelombang radio malam. Seseorang dan seseorang lagi akan berjaga di tiap pendakian, di tiap penurunan.” Mereka yang sisanya menetap dengan setia menjaga semua sudut kota, bahkan sampai jauh ke dalam kenangannya.

Kampung halaman saya, Bukittinggi. Kota yang dulu pernah diperebutkan Belanda dan Jepang. Benteng Fort De Kock hingga lubang-lubang rahasia di bawah tanah tercipta dari duka. Penganiayaan dan kerja paksa. Mayat-mayat bergelimpangan. Jam Gadang tanpa luput telah merekam semua itu dengan rapi dalam jarum-jarumnya. Pernah menjadi ibukota darurat Republik Indonesia, ibukota Sumatera Selatan, sampai ibukota Sumatera Barat sendiri. Namun Bukittinggi ternyata terlalu cantik untuk menjadi ibukota yang sesungguhnya. Bukittinggi menjadi dirinya sendiri, di hadapan Gunung Singgalang dan Marapi.

Masa penjajahan sudah jauh saya tinggalkan. Kakek saya yang pejuang veteran itu sudah lama tiada. Bekas luka tertutup dingin cuaca, pemandangan Panorama, Ngarai Sianok, kebun binatang, pasar-pasar yang selalu ramai, jenjang 40, Great Wall Koto Baru, kedai-kedai kopi, nasi kapau, barisan kuda bendi dan masih banyak lagi tentunya tempat-tempat ajaib yang selalu banyak didatangi wisatawan. Orang-orang di sini seperti sudah memaafkan masa lalu, dan kata Esha Tegar Putra:

 “Di bawah jam gadang mengapa orang-orang masih bertanya: jam berapa hari?”

Saya ingin sekali menjawab puisi itu. Saya berpikir lama dan tiba-tiba menemukan jawaban yang sama sekali tidak pernah saya sangka. Sebesar itu ada jam di depan mata, tapi masih juga bertanya ini jam berapa pada orang di dekatnya. Kenapa? Maksud saya begini, ternyata di Bukittinggi manusianya selalu ingin bicara, ngobrol, berkomunikasi. Tidak suka sibuk sendiri-sendiri, tidak autis seperti orang kota yang sibuk dengan gadgetnya. Itu filsafat tertinggi tentang sebuah hidup, bahwa hidup adalah tentang atau untuk orang-orang di sekitar kita. Dan kiasan “jam berapa hari?” adalah basa-basi bahwa semua orang di sana ingin bicara tentang banyak hal, satu sama lain, meskipun tidak saling kenal.

Mungkin gema lonceng tidak memberi arti apa-apa atau tidak berarti apa-apa hingga di ketinggian ini kota seakan dibunuh lewat gairah lampu malam hari.

Ya, saya jawab lagi, meskipun itu bukan pertanyaan. Memang semuanya tidak memberi arti apa-apa sebab saya bangga berasal dari Bukittinggi. Saya keliru berpikir sebelumnya bahwa pulang kampung adalah pameran kekayaan. Justru yang pulang kampung itu membantu perekonomian kota. Berbelanja, cari tempat menginap dan makan. Lalu tentu di tengah keramaian ada yang saling menyapa, ini sudah jam berapa, supaya tidak lupa bahwa kita manusia, bahkan kita satu kampung dan adat. Barangkali orang yang menanyakan “ini jam berapa” adalah sahabat seperjuangan buyut saya ketika mengusir penjajah.

Saya tepikan semua sifat skeptis dan kritis. Saya keliru selama ini. Orang-orang Bukittinggi selalu mencintai kotanya. Bagi yang merantau, silahkan cari duit sebanyak-banyaknya, lalu pulang dengan baik, pergunakan duitmu untuk menjaga kampung halaman yang indah ini, karena selalu ada yang berjaga ketika kalian pergi. Saya bangga karena berasal dari Bukittinggi.

Ah iya, rumah saya berjarak beberapa meter saja dari rumah bekas kediaman Bung Hatta. Dari sana saya mengutip puisi Esha Tegar Putra—mendengar gema lonceng dari pucuk tiang jam gadang—mungkin tiba saatnya minum bandrek di dekat sana. Mencari beberapa kawan lama, atau mantan pacar (Seperti suara rel di penurunan lembah. Dipukul batu, berkali dan berkali. Bergaung mengenai jantung hati)

Dan pura-pura bertanya, ini jam berapa?

Pekanbaru, 2015

 

Tentang Penulis
Alpha Hambally.  Lahir di Medan tanggal 26 Desember 1990. Menamatkan pendidikannya di ITS Surabaya. Karyanya pernah dimuat di Riau Pos. Puisinya termaktub dalam kumpulan puisi Bendera Putih Untuk Tuhan Riau Pos 2014. Kini menetap dan berkarya di kota Pekanbaru.

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

You don't have permission to register