Memaklumi Perbedaan Melalui Roman Kambing dan Hujan
Dan apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda. Manusia juga berbeda-beda; beda rupa, suku golongan, bahasa. Jadi, tidak ada yang salah menjadi berbeda. (Hal. 338)
Tidak perlu menunggu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berselisih paham mengenai penentuan kapan jatuhnya hari raya Idul Fitri apabila cuma ingin mengetahui ada jurang pemisah di antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Persoalan renik-renik yang kerapkali hadir dalam kehidupan sehari-hari seperti misalnya boleh-tidak doa qunut di waktu solat subuh, dua adzan pada shalat Jumat, bidah-tidaknya prosesi tahlilan, dan semacamnya; justru seringkali berpotensi muncul sebagai intrik bak bola salju yang terus menggelinding, apabila dibiarkan.
Perbedaan ini yang ditangkap oleh Mahfud Ikhwan yang kemudian dengan berani menjadikan silang sengkarut antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia sebagai tema dalam roman novel Kambing dan Hujan. Saat kita lebih banyak menemukan Roman dengan latar beda keyakinan, kultur atau etnis pada sebuah karya, tema dengan latar NU-Muhammadiyah—yang notabene lahir dari rahim yang sama—hadir sebagai sesuatu yang baru, yang barangkali tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh para pengarang lain.
Apakah kemudian tema ini yang mengantarkan novel Kambing dan Hujan sebagai pemenang pada sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014?
Hanya juri dan Tuhan yang tahu.
Selain tema yang diangkat, narasi cerita menjadi dua kekuatan lain dari novel ini. Melalui tokoh-tokohnya yang bercerita, penulis kelahiran Lamongan ini menarasikan peristiwa-peristiwa yang menjadi latar belakang masalah dua keluarga untuk membangun cerita. Meskipun tidak pada keseluruhan cerita, setidaknya Mahfud Ikhwan memberikan alternatif atau trik lain bagaiamana menyampaikan narasi tanpa membuat jenuh pembaca.
Apresiasipun layak diberikan kepada penulis kelahiran 7 Mei 1980 ini dalam usahanya memberikan porsi yang seimbang pada karakter tokoh utama dari kedua belah kubu, pada konflik yang terjadi, percakapan-percakapan, hingga pada ritual-ritual yang dilakukan 2 organisasi ini. Seperti halnya pada narasi berikut:
“Ah, mana bisa orang selatan lihat bulan, wong kiainya saja mesti dituntun kalau jalan. Olok-olok balasannya hampir pasti akan berbunyi: Ya pantas saja orang Utara hari rayanya pakai hitung-hitungan, wong dulu pemimpin mereka yang bikin Indonesia mengalami krismon.” (Hal. 242)
***
Karena novel ini adalah sebuah roman, tidak salah jika ada yang menebak poros cerita ini ada pada dua pemuda-pemudi berasal dari dua keluarga berbeda yang saling jatuh cinta.
Miftahul Abror dari kubu pembaharu dan Nurul Fauzia sebagai sosok gadis dari pihak tradisionalis menemukan dinding tebal saat berusaha membawa hubungan mereka menapak ke jenjang pernikahan. Impian mereka untuk hidup bersama semakin menemui jalan terjal ketika di tengah cerita ternyata orang tua mereka Iskandar-Fauzan-Yatun terlibat cinta segitiga di masa lalu sekaligus mempertebal perbedaan dua kubu.
Seperti halnya Kambing dan Hujan, dua simbol yang tak mungkin bersama, dua organisasi yang direpresentasikan melalaui dua kubu; selatan dan utara, Nahdliyin dan Muhammadiyah, akan tetap pada jalannya masing-masing, meskipun pada hakikatnya adalah mencapai tujuan yang sama yakni kemaslahatan umat. Dan hal inilah yang seharusnya dimengerti oleh dua kubu terkait.
Pada akhirnya, kesadaran bahwa perbedaan bukanlah bentuk ancaman menjadi suatu hal penting, perbedaan adalah sunatullah, sesuatu yang given. Lagipula siapa yang menjamin kedamaian dari sebuah keseragaman?[]
Data buku
Judul: Kambing dan Hujan
Penulis: Makhfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 373 halaman
Cetakan: Pertama, Mei 2015; Kedua, Maret 2016
ISBN: 978-602-291-027-5

