Akar
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Ayah, jangan lupa beli Gacoan pas pulang ke rumah.
Aku membaca notifikasi pesan itu di layar ponsel tanpa perlu membuka WhatsApp. Rahmi. Anak perempuanku satu-satunya. Foto profilnya masih sama seperti tiga bulan lalu. Ia mengenakan seragam putih-merah sembari mengacungkan dua jari ke arah kamera. Padahal sekarang ia sudah menginjak kelas 1 SMP. Entah kenapa ia enggan melepas sisi anak-anaknya.
Aku tersenyum kecil. Kalau sudah soal mie pedas, Rahmi memang tidak pernah lupa menitip pesan. Bahkan, ketika aku hanya keluar sebentar untuk membeli baut atau mengantar speaker yang selesai diperbaiki.
Ponsel kumasukkan ke saku celana lalu berjongkok di samping motor.
“Berapa semuanya, Pak?” tanyaku
Tukang tambal ban yang sedari tadi berkutat dengan ban motorku mengusap keringat di dahinya.
“Seratus ribu aja, Mas. Bocor dua-duanya soalnya.”
Aku mengulang kata “aja” berkali-kali dalam kepala. “Berat sekali hidup menjadi warga di kota ini ya, Pak.”
“Ya gimana, Mas. Ini sudah saya murahin.”
“Aman, Pak. Hanya bercanda.”
Hari ini memang sedang apes. Ban depan dan belakang bocor bersamaan. Padahal aku sedang mengejar waktu untuk mengantar satu set sound system ke sebuah musala di ujung kota. Ketuanya sudah menelponku sejak pagi. Ia bilang hendak ada urusan beberapa jam, takut tidak bertemu denganku saat mengantarkan set sound system ke musala.
Kalau semuanya lancar, mungkin aku masih sempat membeli pesanan Rahmi sebelum pulang. Aku melirik jam di ponsel, pukul tiga lewat dua puluh menit.
“Sudah, Pak.”
Tukang tambal ban menyerahkan kunci motorku. Aku menerimanya lalu menghidupkan mesin. Suara motor meraung pelan. Kuhentakkan beberapa kali ke sisi kiri dan kanan untuk memastikan ban sudah terasa seimbang.
“Oke nih.”
Tidak ada yang aneh. Setidaknya untuk saat ini.
Aku mengenakan helm lalu menarik napas panjang. Kemudian, motor kuarahkan kembali ke jalan raya. Aku tidak tahu bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, hidupku akan berubah sepenuhnya.
***
Aku kembali membuka layar ponsel dan mengecek Google Maps untuk memastikan alamat yang kutuju benar.
“Mushola Shiratal Mustaqiem.”
Aku membaca tulisan pada papan nama yang berdiri di depan bangunan bercat hijau muda itu. Begitulah, aku mudah melupakan alamat seseorang. Apalagi sebagian besar pelanggan hanya kutemui saat mengambil atau mengantar barang. Setelah itu, mereka kembali menjadi nama-nama dalam daftar kontak ponselku.
Motor kuparkir di halaman musala yang tidak terlalu luas. Di sebelah kiri terdapat beberapa rumah yang berdempetan. Sementara di sebelah kanan, anak-anak kecil sedang bermain sepak bola.
Kurogoh kembali ponsel dalam saku celana. Pak Suraji belum ada di tempat. Sebuah pesan muncul di notifikasi layar. Maaf Pak, saya masih di jalan pulang. Ditunggu sekitar 30 menit ya.
Pesan itu terkirim lima menit lalu. Aku menghela napas. Tak ada pilihan lain selain menunggu. Pelan-pelan kuturunkan satu per satu perangkat sound system dari motor. Dua buah speaker, amplifier, mixer kecil, dan beberapa gulung kabel yang kuikat menggunakan tali plastik hitam. Karena terlalu fokus menata barang, aku tidak menyadari beberapa pasang mata mulai memperhatikanku.
Salah satu speaker baru saja kuturunkan ketika suara keras tiba-tiba menghantam telingaku.
“Maling ya kamu!”
Sebuah dorongan kuat mengenai bahuku. Tubuhku oleng hingga hampir jatuh menimpa speaker. Aku menoleh spontan. Seorang lelaki berkaus hitam tepat di hadapanku dengan wajah tegang.
“Apa, Pak?” tanyaku bingung.
“Maling pura-pura bego!”
Belum sempat aku memahami apa yang sedang terjadi, beberapa warga lain mulai berdatangan. Entah dari mana. Dalam hitungan detik, aku dikelilingi orang-orang yang wajahnya tidak kukenal.
“Ini mau ngapain dia?”
“Ambil sound system mushola itu!”
“Saya bukan maling, Pak,” kataku cepat. “Saya tukang servis. Ini mau saya antar ke Pak…”
Kalimatku terpotong. Seseorang menarik kerah bajuku. Yang lain mengambil ponsel dan mulai merekam. Aku mencari-cari wajah yang bisa diajak bicara baik-baik, tetapi yang kutemukan hanya tatapan curiga.
Dadaku mulai berdebar lebih cepat. Napasku kian memburu kencang. Untuk pertama kalinya, aku merasa tiga puluh menit adalah waktu yang terlalu lama untuk menunggu seseorang datang.
“Saya bukan maling, Pak.”
Aku berusaha meyakinkan orang-orang di sekitar. Wajah-wajah mereka sudah terlalu tegang untuk mempercayai kata-kataku.
“Udah hajar aja!”
“Maling mana ada yang mau ngaku!”
“Jangan dikasih ampun!”
Satu per satu hasutan itu terus menghantam telingaku. Saat aku mencoba memproses semuanya, sebuah pukulan mendarat ke pipi kananku.
BUKK
Aku kehilangan keseimbangan lalu jatuh menabrak salah satu speaker. Suara dengung memenuhi telingaku. “Pak! Saya bukan maling!”
Pukulan kedua datang lebih keras. Kemudian tendangan. Lalu, pukulan lagi. Aku mencoba melindungi kepala dengan kedua tangan. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Di sela-sela rasa sakit yang mulai mengaburkan kesadaran, aku masih mendengar suara-suara itu.
“Maling!”
“Hajar aja!”
“Kasih pelajaran!”
Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun ke tubuhku. Aku sudah hampir kehilangan kesadaran keika sebuah suara menggema dari kejauhan.
“Allahu Akbar! Berhenti semuanya!”
Suara itu terdengar akrab. Pak Suraji sudah datang. Aku masih sempat mendengar suaranya saat ia berteriak marah kepada warga. Namun kata-katanya tak lagi dapat kutangkap dengan jelas. Dunia di sekelilingku perlahan ke dalam kegelapan.
***
Saat sadar di rumah sakit, dokter bilang ada bagian otakku yang mengalami trauma berat. Aku tidak terlalu memahami istilah-istilah medis yang mereka gunakan. Yang kuingat hanya wajah dokter yang terlihat heran setiap kali memeriksa hasil pemeriksaanku.
“Seharusnya pemulihan Bapak tidak secepat ini,” katanya.
Menurut dokter, tubuhku memiliki kemampuan penyembuhan yang tidak biasa. Dengan cedera yang kualami, kebanyakan pasien membutuhkan waktu enam bulan hingga satu tahun untuk pulih secara fisik. Bahkan, beberapa di antaranya harus menjalani terapi bertahun-tahun hanya untuk kembali hidup normal.
Namun, tubuhku seperti menolak mengikuti perhitungan mereka. Memar di wajahku menghilang lebih cepat dari perkiraan. Luka-luka di tubuhku menutup tanpa banyak masalah. Rasa pusing yang intens juga sudah tidak pernah muncul kembali. Bahkan, yang paling aneh, aku bisa membantu Rahmi mengerjakan semua PR-nya. Termasuk PR Matematika. Dan jawabannya pun benar.
Tiga bulan setelah pengeroyokan itu, aku sudah kembali bekerja memperbaiki speaker dan amplifier di rumah.
“Ini semua mukjizat,” begitu kata ibunya Rahmi saat ditanya para tetangga mengenai kesembuhanku.
Sementara para dokter di rumah sakit menyebutnya sebagai kasus langka.
Aku sendiri tidak bisa memberi nama pada peristiwa yang terjadi. Karena, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kepalaku. Bukan tentang rasa sakitnya, melainkan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang mulai kulihat sejak minggu-minggu terakhir masa pemulihan. Awalnya hanya bayangan. Garis-garis tipis yang menjulur dari kaki orang-orang. Namun, hari demi hari garis-garis itu semakin jelas. Mereka bukan bayangan. Mereka adalah akar.
“Assalamualaikum!”
Suara itu mengagetkanku yang sedang membungkuk di atas meja kerja. Tanganku refleks terangkat dari amplifier yang sejak pagi belum juga selesai kuperbaiki. Pak Suraji berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam.”
Kuletakkan obeng lalu berdiri menyambutnya. Sejak kejadian pengeroyokan itu, beliau menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab penuh kepadaku. Seluruh biaya rumah sakit dibayarnya. Selama aku tidak bisa bekerja, beliau juga menanggung penuh kebutuhan keluargaku. Dengar-dengar, Pak Suraji memang termasuk yang disegani di kampung itu. Namun, bukan itu yang membuatku memperhatikannya. Pandanganku justru tertuju pada kakinya. Akar itu masih ada. Tipis. Sangat tipis. Tidak seperti akar-akar tebal yang kulihat pada orang lain.
Aku belum sepenuhnya memahami arti semua itu, tetapi sejauh ini satu hal yang mulai kusadari, semakin seseorang melakukan tindakan bodoh, semakin besar akar yang tumbuh dari tubuhnya. Dan akar milik Pak Suraji nyaris tak terlihat.
“Ada perlu apa, Pak?” tanyaku.
Lalu, aku menoleh ke arah dapur. “Dik, ada Pak Suraji!”
Istriku segera keluar sambil merapikan jilbab yang baru dikenakannya. Ia menyalami Pak Suraji dengan ramah sebelum mempersilahkannya duduk.
“Oh iya, Pak.” Pak Suraji membuka tas kecil yang dibawanya. “Saya mau mengantarkan undangan peringatan Isra Mi’raj di mushola minggu depan.”
Ia mengeluarkan selembar kertas lalu menyerahkannya padaku. “Warga kampung juga banyak yang menanyakan kabar Bapak.”
Aku menerima undangan itu tanpa langsung membacanya. “Warga kampung?”
Pak Suraji mengangguk. “Ya, banyak yang merasa bersalah atas kejadian waktu itu. Mereka ingin minta maaf secara langsung.”
Bayangan sore itu kembali muncul begitu saja. Teriakan maling. Tendangan. Pukulan. Darah. Dan wajah-wajah yang bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apapun. Mungkin mereka memang hanya orang-orang bodoh. Begitu pikirku, sehingga aku tidak mau repot-repot melaporkan semuanya ke pihak berwajib. Aku memang memilih jalur kekeluargaan saja untuk penyelesaian konflik kemarin.
“Waduh, Pak. Repot-repot sekali. Kan sebenarnya bisa lewat WhatsApp.”
Pak Suraji tersenyum. “Nggak apa-apa. Kebetulan saya lewat jalur sini, jadi sekalian mampir. Kalau berkenan datang ya, Pak.”
Aku menunduk menatap kop surat bertuliskan MUSHOLA SHIRATAL MUSTAQIEM. Entahlah. Dadaku terasa sedikit sesak. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat akar-akar tipis di kaki Pak Suraji bergerak perlahan.
***
Aku hampir saja menolak undangan itu. Namun, kata-kata Pak Suraji terus terngiang di kepalaku. Mereka ingin minta maaf.
Akhirnya, pada malam peringatan Isra Mi’raj, aku memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut. Rahmi bahkan memperingatkanku, “Jangan pulang marah-marah ya, Yah.”
“Iya,” jawabku lirih sembari mengacak rambutnya.
Mushola Shiratal Mustaqiem tampak jauh lebih ramai dibanding terakhir kalinya aku berada di sini. Lampu-lampu tambahan dipasang di halaman. Tenda berdiri di samping bangunan utama. Anak-anak berlarian sambil membawa gelas plastik berisi teh hangat.
“Akar,” gumamku lirih. Mereka ada di mana-mana. Menjulur dari telapak kaki warga. Sebagian tipis. Sebagian besar. Sebagian lagi ada yang setebal batang bambu. Aku berdiri terpaku. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pernah kulihat sebelumnya.
“Pak!”
Pak Suraji melambaikan tangan dari kejauhan. Dengan sangat terpaksa, ku langkahkan kaki mendekat. Satu per satu warga mulai menghampiri kami berdua. Ada yang menyalamiku. Ada yang meminta maaf. Sampai seorang lelaki berkaus hitam muncul dari kerumunan yang sama. Wajahnya sangat akrab. Dialah yang mendorongku sore itu. Aku memperhatikan akar di bawah kakinya. Sangat tebal. Sangat besar.
“Maaf ya, Pak.” Lelaki itu menundukkan kepala. “Saya memang gampang emosi.”
Aku tidak menjawab. Akar-akar di bagian kakinya mulai bergerak. Mereka meliuk-liuk seperti ular. Dadaku berdebar kencang. Takut. Penasaran. Campur aduk.
Lelaki itu kembali membuka mulut. “Sebenanrnya saya juga nggak tahu kenapa waktu itu ikut mukul. Semua orang mukul, ya saya ikut mukul aja.”
Ikut mukul aja. Aku mengulang kalimatnya berkali-kali dalam kepala.
Lelaki itu masih berbicara, tetapi aku tidak lagi mendengar kata-katanya. Seluruh perhatianku tersedot pada akar yang kini menembus permukaan tanah.
KRAK
Lelaki itu berhenti berbicara. Wajahnya kebingungan. “Aduh.” Ia menatap kedua kakinya. Akar-akar itu muncul ke permukaan. Orang-orang mulai memperhatikannya.
Sebagian lainnya langsung memberondong pertanyaan. “Ada apa, Pak?”
Lelaki berkaus hitam itu mencoba melangkah. Tetapi kakinya tidak bergerak. Kulitnya perlahan berubah warna. Cokelat. Teksturnya pun berubah keras. Seperti kayu yang mulai mengering. Dan jeritan pertama pecah beberapa detik kemudian.
“Tolong dia!”
“Woi, panggil ambulan!”
BRUKK
Kini, lelaki itu terjatuh di tanah. Kedua kakinya telah berubah menjadi batang kayu yang menancap kuat ke halaman musala. Kulit cokelat kasar terus merambat ke pahanya. Orang-orang mulai panik. Mereka berhamburan tak karuan. Ku perhatikan wajah mereka satu per satu. Beberapa wajah terasa sangat akrab. Lelaki yang menarik kerah bajuku. Pemuda yang merekam sambil tertawa. Dan ada orang yang pertama kali berteriak, “Hajar aja!”
“Astaghfirullah…”
Berulang kali aku menyebut istighfar saat melihat lelaki yang rubuh itu kini berubah menjadi pohon. Tunas-tunas kecil mulai tumbuh dari bahunya. Ia menangis. “Pak…tolong saya, Pak…”
Aku berdiri menjauh dari lelaki itu. Tidak iba. Tidak marah juga. Apalagi senang. Hanya kosong. Pak Suraji yang sibuk menenangkan satu per satu warga, tiba-tiba menoleh ke arahku. Sorot matanya berubah. Seolah-olah, ia akhirnya memahami sesuatu.
“Kamu tahu apa yang terjadi, kan?”
Hening. Aku menolak untuk menjawab.
“Tolong saya…” katanya lirih. Seolah-olah tenaganya hanya tersisa di ujung tenggorokan.
“Aku juga waktu itu minta tolong. Tapi tidak ada yang mendengarkan.”
“Kalian tetap memukulku!”
Ku lemparkan pandangan ke sekeliling. Akar-akar lainnya juga mulai bergerak. Jeritan demi jeritan terdengar bersahut-sahutan.
Pak Suraji tampak kewalahan. “Kamu tahu apa yang terjadi, kan?
Aku menggeleng. Enggan disalahkan.
“Kamu tahu apa yang terjadi, kan?” Ia bertanya lagi.
“Nggak, Pak. Saya gak tahu!”
Angin malam berembus pelan. Daun-daun mulai bermunculan di mana-mana. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, halaman musala berubah menjadi kebun kecil. Mahoni. Mangga. Jati. Bahkan, Trembesi. Masing-masing tumbuh tegak di tempat warga-warga itu sebelumnya berada. Sunyi. Tak ada lagi suara jeritan. Hanya suara daun yang bergesekan.
Aku meninggalkan Pak Suraji yang kebingungan. Tetapi, sesuatu menarik perhatianku. Di bawah cahaya lampu halaman, akar tipis muncul dari telapak kakiku. Cukup lama aku memperhatikan serabut-serabut akar yang tipis ini.
“Mungkin, suatu hari aku akan menjadi pohon juga.”
***

