Fb. In. Tw.
Cover Puisi Ricky Ulu di Buruan.Co. Ricky Ulu menggunakan kaos hitam dan topi bundar hitam saat membacakan puisi. Terdapat logo Kemenbud, MTN, dan Buruan.co.

Puisi-Puisi Ricky Ulu

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya

 

Atambua 

 

Ada metafora yang berwarna

dengan menyimpan pot bunga

di pingggir jalan sebagai tanda

         kematian

sementara singgah di situ

memakai senyum orang 

yang kita kenal

 

lalu ia menyembunyikan rahasia

     dan makna 

nasib manusia dalam 

usus ayam merah yang dipotong

di atas batu pemali

 

dan kita, kita cukup menafsir 

Atambua dengan sebotol habuck

dan sepotong lagu franky

    memang dukaku duka yang bisu

 

 

Kenapa Kita Tak Pernah Menulis Atambua sebagai Puisi

 

Kenapa kita tak pernah menulis Atambua sebagai puisi padahal metafora yang hijau dan memanjang di dua jalur nenuk sudah disiapkan ketika kita pulang nanti atau ketika kelak kita harus pergi?

Untuk yang pergi, mereka tahu lengan yang memeluk adalah dua jalur nenuk yang memendam harapan menghijau

Untuk yang pulang, selalu ada debar yang memanjang di dua jalur nenuk, rumah seperti apa yang akan menyambutnya.

 

Kenapa kita tak pernah menulis Atambua sebagai puisi padahal kita saling memeluk, berbagi harum keringat di awal lagu dansa ketika kota ini berpesta setiap jumat malam?

Untuk yang berdansa, mereka tahu ada debur laut yang kuat ketika dua tubuh menyatu dalam irama yang memelan.

Untuk yang berkeringat mereka tahu ada gejolak purba dan dendam yang mengkilat bersembunyi di setiap irama kijomba.

 

Kenapa Atambua tak pernah jadi puisi padahal kita berani menahan laju oto-motor hanya karena  mengarak patung seorang perempuan?

Untuk yang mengarak mereka percaya keberanian dikasih lebih untuk mereka yang mencintai perempuan sepenuh puisi

Sementara kita selalu percaya Atambua adalah perempuan yang menjadi puisi.

 

Kenapa kita tak pernah menulis Atambua sebagai puisi padahal kita bisa jujur tentang luka dan air mata di depan dua botol habuck?

Untuk yang menangis mereka tahu Atambua adalah sapu tangan dan mereka yang jujur percaya dua botol habuck adalah teman yang menyimpan rahasia.

 

 

Di Akhir

   :uk

 

Berapa dosis yang pas

untuk menyembuhkan 

usia yang menggigil ketika

waktu adalah dingin angin

utara dan harapan adalah kain

panas yang kautarik buru-buru?

 

Kau tak cukup hanya membawa

rapalan syair di depan batu pemali

sementara bunyi mangkok

bakso sudah cukup menghangati

doa-doa memakai masalah

masing-masing

 

Bacalah kitab dalam bahasa tua

tentang Tuhan yang gemetar

mendapati usia tak lebih dari

isi cawan yang hampir kosong

 

katamu, tepat saat lambung

yang ditikam mengalirkan 

sebuah anak sungai yang 

menunjuk ke mana sejarah 

 

akan membawa semuanya

 

Lalu kau masih bersengketa

tentang usia atau kemalangan

yang harus usai terlebih dahulu?

 

Kau tertawa di akhir 

Puisi ini, “dasar anak muda!”

meninggalkan gigil usia

dipanasi

doa-doa kami yang gemetar

 

 

Pulang

     :Bastian

 

Izinkanlah, izinkanlah

kami menulis rumah

 

dengan pulang-

pulang kami yang

penuh

 

hutan

aroma sirih pinang

air pamali

rumput tikam kaki.

 

Mama tunggu

depan pintu dengan 

 

air mata tatahan 

waktu lihat kami

lari lompat dalam

puisi yang tulis

 

pelukan yang

terbuat dari

 

malam

tanpa tembakan

 

Tetapi kami tetap 

akan menyanyi dengan 

 

marah yang meninggi,

kenapa kami harus pulang

 

ketika kami tak pernah

pergi dari ini tanah, 

 

kenapa kami harus 

pulang ketika pulang

 

berarti pergi ke puisi

lain yang asing

 

tanpa hutan

aroma sirih pinang

air pamali

rumput tikam kaki

 

dan hanya ada negara,

negara yang penuh

curiga?

 

 

Laki-laki yang Jatuh Cinta di Atambua

 

Cinta adalah luka-luka 

Yang kau sembunyikan

Hanya supaya ciuman terasa 

Putih

Dan pelukan beraroma hujan

Padahal kau harus memakai 

Jaket yang tebal seolah maaf

selalu memanjang dan bisa

Menghangatkan cekdam kecil

Di sudut matamu

 

Cinta adalah air mata

Yang kau simpan rapat-rapat

Supaya tertawanya terdengar nyaring

Dalam puisi yang berusaha mati-matian

Menulis itu sebagai knalpot racing

Bocah nakal setiap malam

 

Cinta adalah pertanyaan-pertanyaan 

Yang kau jawab sendiri dengan dua

Kepal tangan selalu menumbuk 

Dadamu sebab ketika mencintai

Laki-laki tak harus bersuara meninggi

 

Lalu kau menjadi rahasia

Dan takut-takut sebab kau bisa kalah

Kalau menjadi berani

Ketika mencintai perempuan di kota ini

Ricky Ulu lahir di Dili, 27 Juli 1993. Bergiat di komunitas Pohon Asam, Ponu. Buku puisinya yang baru terbit berjudul Lalu Kau Menulis Atambua.

Post a Comment

You don't have permission to register