Cholil Mahmud: Merasa Pede Gak Perlu Ke Gramedia

820 820 Zulkifli Songyanan

Efek Rumah Kaca (ERK), band independen yang lirik-liriknya dikenal “berisi” dan acap kali politis, sejak pertengahan tahun lalu punya kesibukan baru selain manggung: mengelola kios. Kios Ojo Keos. Terletak di kawasan Bona Plaza, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kios tersebut menjual merchandise, kopi dan makanan, CD musik, hingga buku-buku bermutu. Sejumlah karya seni milik sejumlah seniman pun terpampang manis di kios itu.

Kios Ojo Keos menempati bangunan yang sama dengan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina. Karenanya, lebih dari sekadar tempat berlangsungnya jual-beli, ERK juga meniatkan keberadaan Kios Ojo Keos sebagai ruang silaturahmi dan tukar pikiran mengenai banyak hal—antara lain musik, sejarah, seni budaya, demokrasi, toleransi, dan lain sebagainya. Singkat kata, dengan adanya sebuah ruang, ERK ingin punya kontribusi lebih terhadap komunitas-komunitas di sekitarnya. Kios Ojo Keos lahir dari impian semacam itu.

Baca juga:
Look For: Perjalanan Menuju Ketidaksempurnaan
Tokoh-tokoh yang Ganjil

Selasa (4/9) lalu, Buruan berkesempatan bertemu Cholil Mahmud Lazuardi, vokalis ERK, dan berbincang mengenai aktivitasnya di Kios Ojo Keos. Mengingat Cholil saat ini tinggal di Amerika, terang saja perbincangan dengannya terasa sangat berharga.

Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana awal mula berdirinya kios ini?

Kami cukup dekat dengan Pusad Paramadina, merekalah yang pertama menyewa gedung ini. Dan karena lantai bawahnya masih kosong, akhirnya kami ambil buat menyimpan alat-alat—semacam gudang—di belakang. Ruang depan ternyata masih kosong nih. Akhirnya, karena punya teman-teman yang jualan CD, kami jual CD-CD musik itu. Awalnya begitu. Lalu kami juga jual merchandise band.

Meski begitu, ternyata masih ada ruang, ya. Dan karena gua kalau cari buku susah, akhirnya udah deh kami sediain aja sekalian. Terlebih biasanya kalau lagi di Jakarta, Sabtu-Minggu itu kami banyak manggung. Sementara toko buku alternatif, Post Santa, bukanya justru Sabtu-Minggu. Jadi nyari buku tuh bener-bener susah. Akhirnya ya udah deh kami hubungi aja mereka (penerbit), dijual aja sekalian.

Buku-buku yang dijual di sini terlihat “buku-buku serius”. Topiknya beragam: sastra, agama, budaya, politik, pergerakan, dsb. Buku-buku ini pilihan siapa?

Soal buku, gua yang kurasi; soal CD, teman-teman. Sebelum ada kios, sebetulnya lebih dulu jualan online sejak Januari. Saat itu ada 1-2 orang pembeli. Kami berharap bulan Februari kiosnya buka, tapi enggak. Gak keburu. Di awal, kami coba bawa market dari pendengar ERK dulu. Terus berharap Februari bisa buka kios, ternyata enggak juga—karena benerin ini itu segala macam— akhirnya barulah bulan Mei kiosnya buka.

Soal pilihan buku, waktu itu gua masih di Amerika, browsing-browsing buku, terus menghubungi penerbit-penerbit. Jadi gua ngasih tahu katalognya: ini nih, buku ini, buku ini, buku ini, coba cari. Gua yang cari kontaknya, teman-teman di sini yang eksekusi.

Mengapa memilih buku-buku tersebut?

Di sini banyak buku dari penerbit-penerbit kecil. Mengapa buku-buku tersebut? Kebetulan karena minat, ya, kami coba memberikan judul-judul buku yang sulit dicari, tapi sebenarnya ada. Mungkin ada orang yang bahkan gak tahu kalau buku-buku yang sulit dicari itu sudah ada terjemahannya; di sini sudah ada pula yang menerbitkannya. Kami berusaha menawarkannya.

Lagu Anda, Di Udara, disebut berhasil mengenalkan sosok Munir pada publik yang lebih luas (menjangkau kalangan di luar aktivis dan orang-orang yang melek politik). Dalam konteks buku, apakah hal demikian juga berlaku? Singkatnya, adakah orang-orang atau pendengar ERK yang jadi tahu buku tertentu setelah dikasih tahu Kios Ojo Keos?

Kalau dalam konteks apa yang kami sodorin dibeli, itu ada perkembangan. Jadi pembeli kami kan sebenarnya penggemar musik—saya ga tau juga ya, ini bacaan gembel aja. Awal-awal yang beli sedikit, tapi lama-lama, tiap kali kami posting ada aja yang tanya langsung. Selalu ada yang tanya.

Bagi kami, kalau ada orang yang beli buku yang kami anggap bagus, itu udah membuat senang.

Jadi pembelinya meningkat?

Ya, meningkat. Tapi jangan dibandingin sama toko buku, ya. Apa lagi sama toko buku-toko buku online seperti Berdikari Book, atau Buku Akik, atau Dema Buku, jangan. Seperti gua katakan tadi, buku yang kami tawarin ada yang beli aja udah senang.

Saya lihat ada buku Trubadur di sini. Penerbit dan penerjemahnya teman saya…

Lutfi ya? Banyak kok kami beli buku-buku Trubadur. Saya tahu karena saya yang menghubungi. Di Ig, saya juga yang bikin captionnya. Kalau enggak begitu, gak ada yang ngerjain, jadi emang harus dikerjain.

Karena itu, saya jadi tahu buku ini yang nerjemahin siapa. Kadang-kadang saya tahu walaupun bukunya belum saya baca—apa lagi waktu itu saya di sana (AS) ngerjainnya. Sekarang aja pas lagi pulang.

Secara pribadi, bisnis toko buku ini memuaskan gak?

Oh memuaskan. Jeleknya adalah belum tentu membaca tapi hati sudah tenang duluan. Biasanya ‘kan kalau di lingkungan yang enak kita tenang. Nah ini juga kami tenang ada di sini. Saat butuh sesuatu, tinggal datang ke kios mau baca apa, gitu. Pikiran tenang karena kalau mau cari buku gak perlu ke mana-mana lagi. Bahkan gua merasa pede gak perlu ke Gramedia, di sini aja. Haha.

Dan kalau merasa ada info buku bagus sekalian aja beli banyak, buat diri sendiri sama buat orang lain.

Setelah punya toko buku, adakah keinginan bikin buku atau penerbit sendiri?

Kalau sampai ke menulis, belum, ya, tapi ke depannya ingin, sih. Gua sendiri masih bingung, di antara anak-anak itu basicnya musik semua. Anak-anak pada baca buku juga, tapi enggak kayak yang gila buku. Jadi sudah pasti menulisnya biasa-biasa aja, maksudnya, gairah menulisnya. Di diri sendiri juga merasa belum. Ada perasaan gak enak kalau menulis tapi gak bagus. Jadi ada ketakutan-ketakutan semacam itu. Mau bagus tapi kemampuan kurang.

Tapi kalau penerbit, mimpinya mau juga nerbitin buku temen atau siapa, gitu. Kalau penerbit, ya, kecil-kecilan aja, tapi belum juga. Ini masih pelan-pelanlah.

Saya salut sama orang yang bisa nulis buku. Kalau skripsi atau disertasi atau tesis, itu kan beda. Tapi kalau buku (non-fiksi—red), wah orang harus punya energi untuk itu. Mungkin untuk kumpulan cerpen agak beda, ya. Kumcer bisa ditulis terputus-putus, bisa beda-beda tema, bisa nyicil, walaupun tetap ada tenaganya juga untuk mengerjakan itu.

Buku favorit Mas Cholil apa nih?

Kalau novel, saya suka buku-bukunya Iwan Simatupang: Ziarah, Kering, Merahnya Merah, Tegak Lurus dengan Langit. Kalau puisi, Wiji Thukul. Kalau cerpen, untuk penulis kekinian, ya Yusi Avianto Pareanom. Tapi kalau penulis-penulis lama saya pembaca Seno Gumira Ajidarma sebenarnya. Saya juga suka A.S. Laksana.

Kalau penulis di bawah generasi mereka?

Saya lebih dulu membaca Puthut EA dibanding Yusi. Jadi, karya-karya Puthut EA duluan saya baca. Jamannya dia masih awal: Kitab yang Tak Suci, Dua Tangisan pada Satu Malam. Dua itu yang dia menang di Kompas waktu itu. Saya juga baca Eka Kurniawan.

Adakah pengaruh karya-karya itu ke dalam lirik?

Enggak sih. Maksudnya dalam artian gua gak segitunya mahir menulis, kecuali menulis lirik lagu. Tapi itu gak mahir juga, terpaksa aja karena yang lain gak ada yang nulis lirik. Tapi kalau menulis sebagai sastra, wah gua masih jauh.

Maksud saya, lagu “Di Udara” kan dibuat setelah Anda menonton film dokumenter Garuda Deadly Upgrade. Nah, ada gak buku yang menginspirasi lirik-lirik ERK?

O iya, kalau membaca buku lalu terinspirasi buat bikin lagu, iya. Misalnya membaca buku Ahmad Wahib, itu mempengaruhi pemikiran saya soal bagaimana kami menghargai keberagaman dan toleransi beragama.

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan

Leave a Reply

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
error: