Belajar pada Albert Camus

820 820 Faizal Baelul

Entah nasib apa yang membuat aku bertemu dengan salah seorang kawan yang sama-sama masih berkutat dengan kejenuhan tugas akhir yang tak kunjung rampung. Siang itu, selepas menyerahkan draf revisi skripsi, tanpa sengaja kami bertemu di kantin kampus tercinta. Banyak bahan obrolan yang kami tuturkan, mulai dari soal kejenuhan mengerjakan tugas akhir, hingga keengganan untuk terperangkap lagi ke dalam dunia kerja.

Ya, aku dan kawanku pernah mengalami fase hidup sebagai karyawan pada dua kantor berbeda di Yogyakarta, dan kini kami sama-sama memutuskan berhenti bekerja dengan dalih menyelesaikan pendidikan. Dalih yang sebenarnya merupakan pembenaran kami terhadap pandangan masyarakat. Dengan mengatakan tengah menyelesaikan pendidikan, paling tidak kami punya tameng manakala orang-orang di sekitar kami mempertanyakan status kami yang tidak jelas (baca: mahasiswa yang belum lulus-lulus).

Di hari selanjutnya, aku mengalami keganjilan dengan bangun pada pukul empat pagi. Ada sebuah dorongan besar pada hari itu yang membuat aku ingin mengunjungi sebuah ruang yang nyaman untuk menulis. Maka pada pukul tujuh pagi, tanpa niat yang kuat kecuali dorongan ganjil tersebut, aku menghubungi kawanku. Tanpa basa-basi, aku mengajaknya mencari sebuah ruang yang dapat kami kunjungi, yang bisa kami gunakan baik untuk menulis ataupun membaca. Pendeknya, sebuah ruang untuk menjalankan laku meditasi terhadap diri dan pikiran sendiri. Gayung bersambut, kata berjawab. Pagi itu, kawanku juga ternyata berencana mendatangi sebuah co-working space di daerah RSUD Sardjito.

“Aku sudah pernah merasakannya. Sebuah kegundahan yang sama seperti sekarang,” kata kawanku. Demikian dia menanggapi percakapan kami tentang salah seorang kawan lain yang baru saja lulus dan sedang semangat-semangatnya mendaftar kerja di perusahaan lama kawanku. Setelah menyeruput jus nanasnya, dia menambahkan, “Setahun bekerja di sana, aku mulai menemukan kejenuhan dan rasa gundah. Setiap pagi aku berdiri dari lantai dua, melihat ke arah jalan. Mengamati sekitar. Melihat orang-orang berlalu lalang dengan aktivitasnya. Sementara aku terkurung di sebuah gedung tanpa bisa melakukan apa-apa.”

Setidaknya itulah yang bisa aku terjemahkan dari ungkapan yang ia sampaikan dalam bahasa Jawa. Perasaannya yang terkekang, di saat bersamaan, juga pernah aku rasakan. Sebuah perasaan tidak nyaman yang timbul dari aktivitas monoton yang begitu-begitu saja.

Baca juga
Ibu yang Sempurna Itu Bernama Yu Patmi
Ketika Seorang Ibu Mengenang Sang Penyair

Setelah percakapan singkat kami berakhir, kami sama-sama tenggelam dalam buku yang kami baca. Dua jam kami duduk dan membaca buku masing-masing tanpa sepatah kata pun keluar. Entah apa yang ada di dalam pikiran kawanku, aku tak bisa menerkanya. Sedang di hadapan The Nun, The Gambler, and The Radio karya Hemingway, aku malah tak bisa fokus. Pikiranku menerobos masuk pada bayang-bayang Albert Camus dan juga esai yang pernah ia tulis.

Camus pernah menulis pengalamannya di Palma, dimana ia menghabiskan malamnya di sebuah kafe. Dalam perasaan terasing, hiruk pikuk dan kerumunan tampak tiada berarti. “Rasa takut menghancurkan struktur psikologis yang kita miliki. Kita tidak bisa berbuat curang – bersembunyi di balik pekerjaan monoton yang selalu jadi tameng kita terhadap rasa kesepian,” tulisnya.

Pagi itu, lampu-lampu gantung kafe terlihat membius. Gerakan ritmik karena diterpa angin membuat aku makin tenggelam dalam lamunan. Apa yang sebenarnya hilang dari diriku dan kawanku? Kami berdua berada dalam lingkaran yang tak bisa kami pahami. Apakah kami serupa dengan karakter-karakter yang selalu ingin ditulis oleh Camus dalam novel-novelnya? Dalam esai berjudul Amour de vivre itu, Camus menyatakan dia ingin menulis novel-novel yang protagonisnya mengatakan “Apa yang akan kulakukan tanpa ruang kantor kerjaku?” Lalu apa jadinya aku dan kawanku tanpa ruang kerja? Yang jelas, kami bagai seekor lalat dengan satu sayap, kami tidak bisa terbang kecuali dengan kondisi kelimpungan.

Aku makin merasa getir ketika esai Camus yang diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin -dalam Bahasa Indonesia menjadi “Tentang Kecintaan Terhadap Hidup”- lambat laun membuat aku bertanya: apa sebenarnya yang harus aku cintai dalam hidup? Apakah kehidupan yang serba membuat pusing ini patut untuk dicintai? Aku dan kawanku paham betul bahwa kami bukan satu-satunya manusia yang pernah mengalami depresi lantaran hal ini. Di luar sana, masih banyak orang yang mengalami perasaan serupa, perasaan yang timbul sebab tidak mengerti keinginan dalam menjalani hidup. Lalu apa yang harus kami lakukan agar terlepas dari kejenuhan ini?

Karena ingatanku yang kadang tak dapat dipercaya, aku pun coba kembali menengok esai Albert Camus itu di fiksilotus.com1. Aku mencoba mengingat mengapa ia bisa memberi judul esainya “Tentang Kecintaan Terhadap Hidup”. Waktu itu, hal yang sangat kuingat dari esai tersebut hanyalah rasa terasing di kafe Palma. Tidak ada yang lain.

Setelah selesai membaca ulang esai tersebut, aku mulai menatap kembali diriku dalam perjalanan waktu. “Ketika kita sadar betapa berharganya setiap berkah dalam hidup kita, maka kita akan jauh lebih menikmati momen-momen dimana kita terbuai oleh hal-hal yang memabukkan (atau, kebalikannya, hal-hal yang menjernihkan pikiran)”, sambung Camus.

Kalimat itu membuat aku memikirkan banyak hal. Di tengah-tengah perasaan gelisah mengenai dunia akademik dan dunia kerja, aku mendapati waktu terburai atas hal-hal yang tidak terduga. Dalam momen itu, aku melihat kawanku tenggelam dalam novelnya, pelayan yang sedang mengantar kentang goreng, pengunjung lain yang sedang melakukan percakapan video call, kantor-kantor di seberang jalan yang (mungkin) dipenuhi karyawan-karyawan yang jenuh dengan pekerjaannya, dan diriku sendiri.

Baca juga:
Puisi Tak Bisa Menggorok Leher Anak-anak
Saat Ajal Tak Berdaya di Hadapan Manusia

Tepat pukul sepuluh tigapuluh, aku menghentikan gejolak pikiranku dan menghembuskan napas panjang. Mencoba merakit sebuah potret yang penuh harapan untuk hari esok. Sesaat  kemudian kawanku menutup novelnya. “Lumayan, selesai satu bab,” katanya sambil meletakkan novel yang menjadi objek penelitian skripsinya. “Sesuatu yang berat ialah mengerjakan hal yang tidak kita sukai, contohnya kita yang terpaksa mengerjakan skripsi dengan objek yang sama sekali tidak kita sukai.” Aku hanya tersenyum dan mengiyakan ucapannya.

Bagiku ucapannya itu benar. Meski sekarang aku dirundung kegundahan terkait hakikatku sebagai manusia yang harus hidup. Aku lebih menikmati waktu seperti sekarang ini ketimbang masa-masa menjadi kepala divisi di kantor lamaku. Masa dimana aku harus menghabiskan setengah hari untuk mengolah data di depan layar komputer dan memeriksa pekerjaan-pekerjaan timku. Kini, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk menyelesaikan terjemahan, menyicil skripsi, mulai menulis lagi, dan justru hal-hal itulah yang lebih membuat aku rileks dan bahagia.

Dengan apa yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan ini, aku dan kawanku merasa telah menjadi sosok lain yang membuat kami punya tekad besar memeluk dunia yang kami idamkan. Aku mensyukuri pekerjaanku sekarang. Sebagai penerjemah lepas ketimbang menjadi seorang karyawan kantor. Mensyukuri keputusanku untuk mengundurkan diri dan lebih menghabiskan banyak waktu dengan kedua orang tuaku—hal yang langka aku alami dalam 23 tahun terakhir. Aku juga mensyukuri hal-hal yang akhir-akhir ini membuat aku cemas, tanpanya aku hanya akan menjadi manusia yang tidak utuh berpikir.

Akan selalu ada waktu dimana pemikiran terkait kebencian yang besar terhadap hidup muncul pada tiap-tiap manusia. Dan itu benar adanya saat terjadi padaku (dan mungkin kawanku). Namun, jika kita berhasil menghentikan waktu barang beberapa detik dan mulai mengingat semua yang terlalui secara saksama, alasan-alasan untuk mencintai dunia dan tetap bertahan hidup akan berjejalan menunggu kita memeluknya. Camus menemui pembenarannya dalam esai tersebut, kesadaran akan berkah dalam hidup adalah sebuah kunci kebahagiaan dalam mencintai dunia yang kadang sama sekali tak berpihak pada kita.

Pertanyaannya kemudian, apakah kita semua sudah menyadarinya?

1Fiksilotus.com. 2015. “Esai: Tentang Kecintaan Pada Hidup”, https://fiksilotus.com/2015/12/15/esai-tentang-kecintaan-pada-hidup/

Faizal Baelul

Faizal Baelul

Penerjemah lepas dan penulis naskah teater. Tinggal di Yogyakarta.

All stories by:Faizal Baelul

Leave a Reply

Faizal Baelul

Faizal Baelul

Penerjemah lepas dan penulis naskah teater. Tinggal di Yogyakarta.

All stories by:Faizal Baelul
error: