Puisi-Puisi Louise Glück

1080 1080 Eka Ugi Sutikno

Perempuan dalam Sepi

Tertutup seperti siput dan keong
Di Edgartown ketika Atlantik
Bangkit untuk menumpuk sampah
Yang melimpah, pasir yang melebar juga bengah

Teh adalah jumpa, di tengah hiruk pikuk
Masih saja aku yang mengurus sekitarku,
Dengan mengarungi langkah di bawah
Tumpukan dari pembunuhan massal:

Ubur-ubur. Aku sudah melihat
Si licin itu pulang dan kembali keluar
Dari peristirahatan. Kilauan yang berharga.
Menjadi pajangan hotel. Pemalu juga rabun

Pelaut pernah mencintaiku dengan sedekat ini.
Rumah musim panas yang akan kami huni di bulan Juli
Tahun itu berwarna putih, menguak
Nyata; hampir saja ia tak bisa melihat

Untuk mencium pun masih mencoba untuk bermain
Kriket bersama keluarga–seperti gadis,
Bersama rambut rontoknya di buket
Bunga kompensasi. Aku kira aku adalah masa lalu

Dari sebuah ingatan. Masih saja hantunya
Mewujud bersama asap di atas panci panggang.
Selama lima tahun. Di dalam tenebris, dengungan hati yang terhempas
Seperti Andromeda. Tak ada telepon.

 

La Force

Yang membuatku sederhana.
Warna kelabu yang melekat pada mimpi perempuan itu
Dapur, di antara tulang, juga di antara tetesan
Pohon willow yang berjongkok untuk menanam
Sebuah bohlam: aku sudah merencanakannya. Kebanggaan
juga kegembiraan, katanya. Aku tak lagi memiliki harga diri.
Dari tipisnya halaman rumput; sebab kelebihan makan,
Membuat mawar itu melambat lalu muntah di atas pupuk pada perkakas
Rumah lama itu. Sekarang kartu itu robek.
Ia tak lagi mampu untuk makan, juga tak mampu meraih tangga
Hidupku adalah tanggunganku. Si perempuan yang bersama anjing hound itu
Tiba, tapi bukan untuk menyakiti.
Karena akulah yang merawatnya.

 

Rongsok

Kami punya teka-teki
Di rumah. Seperti
Gembok; mereka berkata
Bahwa kami tak pernah mengunci
Pintu untuk kalian.
Kasur mereka
Yang berdiri, bersih seperti bak mandi…
Setiap hari aku melewatinya
Selama dua puluh tahun, sampai
Akhirnya aku pergi. Pekerjaan rumahku
Adalah menandai waktu. Menempelkan
Relik ke dalam buku-buku yang kulihat
Pukul tujuh ini aku belajar
Pada kejauhan kedua lulut ibuku.
Foto favoritku adalah ayah
Yang memperlihatkan umur empat puluhnya
Yang liris
Di atas wajah polos anak sulungnya.
Di keajaiban yang wajar.

 

Di Negeri Ular Cottonmouth

Tulang-tulang ikan menyusuri lambaian Hatteras.
Tak ada tanda
Bahwa Maut telah merayu kita, dengan air, merayu kita
Dengan daratan: di antara pinus itu
Ular cottonmouth yang lurus menggulung di lumut
Diasuh oleh udara yang tercemar.
Lahir, bukan maut, adalah kehilangan yang menyulitkan.
Aku tahu. Karena aku meninggalkan kulitku di sana.

 

Permainan

Bertahun-tahun sudah hidupku tak berubah
Sejak ia melepasku untuk menangkap bulan sebundar aspirin
Tapi, di seberang lorong itu, ketulusan ini menggumamkan
Kalimat asing … Melihat azabku yang mengitari liang:

Berputar. Berputar. Di tempat itu harus ada
Nasihat. Di Jenewa, pelacur lokal yang buas itu
Terlentang juga terkelupas dalam penebusan dosa di selaput trikot
Yang melekat di kulitnya. Aku lupa

Bagaimana ini bisa terjadi meski aku melihatnya.
Tempat itu tampak mesum. Ia akan duduk
Dan meraih kakinya hingga mereka mengetuknya.
Seperti biasanya. Ia akan menunggu.

 


Louise Glück
lahir di New York tanggal 22 April 1943. Ia mendapatkan anugerah Nobel Sastra tahun 2020. Beberapa puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari buku Firstborn (1968).

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno

Eka Ugi Sutikno

Ketua aktif di Kubah Budaya, Banten, anggota Kabe Gulbleg. Pengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

All stories by:Eka Ugi Sutikno