Fb. In. Tw.

“Tandur”: Mempertahankan Tanah

Kita manusia sukar membedakan mana keringat mana darah. Hingga yang tampak hanya getir. Akan tetapi harapan selalu ada. Harapan memberi keberanian.

Di pematang sawah yang luas, seorang lelaki menyorongkan senter. Ia berselimut sarung dengan kupluk di kepala berwarna serba gelap. Di latar belakang gema suara kentongan dan derik jangkrik ritmis mengalun. Lampu pun menyala.

Adegan berlanjut di atas panggung. Lelaki itu membaca daftar nama petugas jaga pemantau air dengan terbata-bata. Ada nama Samsuri, Sukirman, dan Joko.

Seorang lelaki kemudian datang. Menerawang jauh di pematang. Datang pula seseorang dengan bambu segi empat yang dikaitkan di pundaknya. Lelaki itu sedang membajak sawah. Para kuli datang membawa benih padi yang baru saja dicabut dari persemaian. Si lelaki pemilik sawah menyaksikan para kuli menempatkan benih-benih padi di petak sawahnya. Kuli tandur pun muncul. Tiga orang perempuan. Mereka mengambil ikatan benih padi. Perempuan-perempuan perkasa. Perempuan-perempuan yang hanya mengenal kata “kerja, kerja, dan kerja”. Perempuan-perempuan itu sedang tandur.

Inilah kisah tentang petani yang sedang tandur padi. Pentas teater “Tandur” ini mengisahkan petani sawah yang sedang menghadapi musim tandur. Musim yang bagi para petani sering dihadapkan pada masa paceklik. Para petani bersuka cita di musim tandur dan di saat yang sama menghadapi tekanan lain. Tekanan dari aparat desa yang mulai mengincar sawahnya. Sawah yang menghasilkan padi.

Orang Jawa sebenarnya petani. Tanah bagi mereka adalah sumber penghidupan. Tanah di mana mereka lahir, banyak menghasilkan dengan sedikit keluar keringat. Tanah membuat mereka tertarik menjadi petani. Mereka dengan seluruh jiwa raganya berkeinginan untuk menanami sawahnya, dan dalam hal itu mereka sungguh cekatan. Mereka tumbuh di tengah-tengah sawahnya, sejak kecil mereka mengikuti ayahnya, membantu membajak dan mencangkul, mengerjakan bendungan dan saluran air untuk mengairi sawah-sawahnya. Usianya dihitung dengan berapa kali panen, lamanya waktu dinyatakannya dengan warna batang padi di sawahnya, mereka senang di tengah-tengah teman-temannya di sawah. Mereka mencari jodohnya di tengah gadis desa yang menumbuk padi untuk melepaskan kulitnya. Memiliki sepasang kerbau yang akan membajak sawahnya, itulah cita-citanya.

Pendeknya, seperti kata Multatuli, menanam padi bagi orang Jawa, adalah sama dengan memetik anggur bagi orang di daerah Rijn dan di Selatan Prancis. Tandur dianggap sebagai sumber berkah. Nasib sebagai petani diterimanya dengan suka cita dan terus dipertahankan.

Tapi datanglah hama. Hasil tandur diporakporandakan gerombolan tikus. Mereka memakan batang padi yang mulai tumbuh. Gerombolan tikus merusak tanaman padi yang dengan susah payah ditandur petani. Gerombolan tikus serupa aparat desa yang mulai mengincar sepetak sawah milik lelaki itu. Mereka akan menjadikan sawahnya untuk pertokoan, perumahan, pabrik, atau pusat perbelanjaan. Mereka mengiming-imingi petani dengan sekoper uang. Lelaki itu serupa batu. Ia tetap mempertahankan sawahnya. Ia akan tetap menggarap sawahnya. Meski gerombolan tikus merusak tandur padinya.

Petani itu tak rela nasibnya dipermainkan tikus dan aparat desa yang mulai mengincar sawahnya. Digambarkan jika ia menjual sawahnya, ia akan memiliki sekoper uang. Sekoper uang itu cukup untuk merenovasi rumahnya, membeli perhiasan, membeli sepeda motor, dan makan makanan yang enak. Namun, lelaki petani itu tidak tergoda.

Istri petani yang mulai tergoda berusaha membujuk suaminya. Namun pada akhirnya ia pun menyerahkan semua keputusan pada suaminya. Si istri tabah menerima nasibnya. Berkeringat mengolah tanah yang menghasilkan padi.

Selanjutnya, adegan demi adegan yang awalnya berbau humor, berbumbu gerakan-gerakan manusiawi, berubah jadi alur mencekam. Para pemain menyerbu penonton. Mereka menanduri lantai yang kosong. Petani berdoa dengan suara yang tak putus. Memohon doa agar panen padinya bagus, padinya banyak, dan harganya bagus. Sementara di atas panggung tampak sosok-sosok aparat berdiri tegap. Kisah akhir “Tandur” petani di luar dugaan, tapi berhasil membawa pada sebuah kesaksian. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga mempertahankan tanahnya. Serupa kalimat akhir yang diucapkan Nyai Ontosoroh kepada menantunya Minke di Bumi Manusianya Pram:

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

“Tandur” dimainkan Teater Sirat di Kampus UPI. Lakon ini mengambil inspirasi dari berita di sebuah surat kabar yang terbit di Jawa Tengah. Surat kabar tersebut memberitakan bagaimana seorang petani harus mengendap-endap setiap malam berjaga-jaga agar ia dapat mengairi sawahnya. Agar sawahnya dapat jatah air tanpa diganggu yang lain. Pemberitaan di surat kabar tersebut begitu menyentuh. Sutradara bersama para pemain menafsirkan berita tersebut ke dalam naskah teater. Hingga muncul naskah “Tandur”.

Teater Sirat mementaskan “Tandur” di Gedung Kebudayaan UPI dalam rangkaian acara Festival Teater Mahasiswa Indonesia (Festamasio) VII, Rabu (6/5/2015). Teater Sirat merupakan garasi bagi mahasiswa IAIN Surakarta, laboratorium teater yang sekaligus menjadi payung teduh bagi mereka yang gelisah hingga terciptanya karya-karya untuk membangun dialog kritis dengan publik dan lingkungan.[]

Tandur
Teater Sirat IAIN Surakarta, Jawa Tengah
Produksi: 2015

Kontributor tetap buruan.co. Guru SMPN Satap 3 Sobang dan Pemandu Reading Group "Max Havelaar" di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten.

You don't have permission to register