Puisi-Puisi Pranita Dewi

820 820 Pranita Dewi

PAISANO

Di antara samun semak
Dan halaman tak terurus
Tumbuh segar pohon pinus
Besar dan menghunus

Seperti menembus bumi
Katamu, seperti meretas atas kaki.

Di sini gelap menjungkit harap
Sebab kami telah lupa, terlalu lama
Tata cara beragama

Nenek moyang kami para berhala
Dari zaman lama, kulit kami pipa sawo matang
Terbakar matahari, berkilau dan menantang

Engkau masih saja mengira
Pada mulanya kami adalah cahaya,
Sebuah sinyal pertanda
Menari-nari dengan liar di udara
Kami jadi tidak berdaya

Engkau masih terus percaya
Bahwa kami dewa setempat
Simbol primitif dari angin,
Langit dan matahari

Kami hidup di hutan-hutan
Bertengger di sebuah bukit
Penuh teluk dan air biru
Kami kecut untuk percaya
Bahwa kami masih ada

SARASVATI

Brahma,
Dari kedalaman laut ini aku bangkit.
Sempurna. Sebuah genitri merayap ke arahku
Sebuah damaru dan kecapi mengapung.
Lontar terbuka ingin kutanggung.

Bumi memang akan ada.

Tetapi di aur air ini, aku cuma maya.
Sebab engkau telah dibujuk Shatarupa
Untuk berpaling dariku.

Dan bumi, bumi yang senyatanya
Mengubah diriku menjadi pasat.
Aku bukan lagi lubuk yang tepat,
Sebab masih tercatat segala
Yang kesiap dan terpenggal;

Angsa pucat membasahi bulunya
Memilah susu dan lumpur
Menjalani kutukannya
Sebagai kendaraku.

Brahma,
Jika di semak berduri tak ada air lagi
Dan dari tubuhku setangkai teratai
Mencelupkan jemari lilinnya,
Mengatupkan kelopaknya yang berat,

Bacalah weda penghabisan
Dari gemilang gemintang!

KLETEG BAYU

Akupun seketika mengerti: di detik begini
Menyekap, sia-sialah semua argumentasi.
Karena segala telah lengkap, pun kalimat.
Sajakku telah tamat, telah tamat, Tuhanku
Dan kian tegas juga firman-Mu: Jadilah
Maka Jadilah.

Maka jadilah genap nasib pokok-pokok anggur
Yang baik dan subur: kebun luas warna ungu,
Pergola teduh sayu, cengkerama di beranda
Yang santai, di musim ketika daun-daun
Rontok turun renyai.

Jadi genap pula nasibku: sulur bengal
Yang merambat di luar jadwal dan rencana-Mu
Yang harus disiangi dan disisihkan
Atau dilupakan sekalian.

Namun senantiasa ada
Bagai senja yang menghantui pagi hari
Seperti semua yang sempat
Terkurung dalam kata.

Bahkan ketika kata-kata, juga Puisi
Hanya sanggup menjadi onomatope
Dan cara lain berdoa.

LAMUNAN LAPAR

Kubayangkan engkau di meja makan, menungguku pulang.
Sedang aku masih harus jauh berjalan, tertatih-tatih
Dan meraba-raba di banyak tikungan: angin dan musim dingin
Menghantamku ke tebing-tebing curam. Gelap menghambur
Ke arahku dari semua penjuru. Kulihat jauh di depanku,
Rumah-rumah berjendela terang. Perapian terkembang.
Tapi jauh, jauh sekali.

Aku kini tiada bisa bermimpi, aku kini tiada berani lagi.
Sebab masih tercium sampai di sini abu dan ludah bacin:
Kaldu kebencian yang melumuri kotaku. Sebab aku
Si papa yang bekerja berhari-hari ini, selalu melihat
Langkah tegap serdadu kemiskinan menderap ke arahku.
Aku tiada bisa merekahkan musim bunga
Dan menegakkan seribu istana.

Ingin kulihat matamu, mata yang menaburkan seribu
Matahari. Mata yang bisa jadi teduh, menjemput
Sunyi yang teramat jauh. Sunyi yang bengal
Dan gemar bertualang, agar pulang ke celah telinga:
Rumah bagi semua suara.

Tapi masih terasa gigil petualangan ketika aku tunduk kepada
Panggilan-panggilan untuk kembali ke depanmu, ke sebuah
Meja makan, ke sebuah santap malam yang kau siapkan,
Sementara aku masih di tebing curam ini. Padaku cuma ada
Bekal ingatan, catatan yang belum genap kutuliskan
Tentang tikungan-tikungan dan jarak panjang
Sampai jauh rambu terakhir perhentian!

O, betapa aku ingin pulang, ibu!

Angin dan musim dingin lewat, mendarat
Dengan bau daging panggang yang kubayangkan
Kau siapkan di meja makan.

WETON

Beri aku 270 malam
Untuk menatap kebusukan pagi ini

Tangisku yang pertama
Apa hanya menjadi sebuah pertanda?

Seekor katak menyelip di bebatuan
Halilintar memecah menjelang kelahiran
Alap-alap layang di ranting dahan-dahan

Di sini begitu pepat
Gelap ini begitu menyengat
Dan aku sekarat!

Tetapi akan kukenakan kain
Yang membikinku lebih tampan lagi
Gemerlapanlah gemintang dini hari.

Aku akan dikekalkan para Padri
Sebagai lagu penuh pujian,
Sebagai seribu orkestra sepanjang masa,
Sebagai silabel dalam setiap kata
Dan menjadi nyanyian murung para pendosa

Telah kusingkapkan langit dengan kata-kataku
Kubikin kecut udara dengan mimpi-mimpiku
Bintang begitu pucat di kemegahan mataku
Dan usia menghambur di gunung dan lautan

Esok akan bisa kusaksikan
Memar pada wujud asing ini;
Sepucuk cinta yang tumbuh mengalir
Simbol merah jambu di kemarau jiwaku.

Aku akan menjadi bagian hari ini
Aku akan menjadi seribu cermin
Dalam bayang-bayang negeri
Yang mati terpancung, menunduk,
Terapung, dan tak lagi agung.

Jiwa yang terkutuk ini melompat keluar
Dengan seribu taring dan cakar tajamnya,
Akan mencabik dunia hingga ke liang nyawa

Tetapi begitu sunyi mati
Meski berwangi mimpi
Ajal menjemputku di kemudian hari
Langit berkabung menyambut
Yang cantik dan mekar
Yang jernih berkilauan.

Tuhan, Tuhan,
Mengapa Engkau
Mengirimku kemari?

Pranita Dewi

Lahir, di Denpasar, 19 Juni 1987. Menulis puisi, prosa liris dan cerita pendek. Sejumlah puisinya telah terbit di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media massa lainnya. Beberapa puisi lainnya telah diterjemahkan ke bahasa Prancis, Thailand, & Inggris.

All stories by:Pranita Dewi

Pranita Dewi

Lahir, di Denpasar, 19 Juni 1987. Menulis puisi, prosa liris dan cerita pendek. Sejumlah puisinya telah terbit di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media massa lainnya. Beberapa puisi lainnya telah diterjemahkan ke bahasa Prancis, Thailand, & Inggris.

All stories by:Pranita Dewi