Puisi-Puisi Aria Aber

820 820 A. Nabil Wibisana

Azalea Azalea

Pagi ayahku terbang ke Kabul
aku membunuh waktu dengan menata semak
azalea. Malu pada aroma polosnya,

aku terkenang pagi pertama diriku tiba di Amerika,
pekarangan meruapkan wangi melati
dan perdu-perdu hijau. Inilah yang selalu

ingin kulampaui: taman-taman, remedi bagi benak,
tak seorang pun menyaput bau busuk tungkai yang putus,
meski katakomba berkidung untukku. Aku memangkas

daun, menimbun tanah di lubang galian bak jerit pilu
sebuah doa. Ambang maut yang baik,
menjauhlah dari tempatku duduk

saat aku membaca berita. 21.600 pon,
134 kali bobot ayahku, Ibu
dari Segala Bom meledakkan berhektar tanah

dalam dentuman parau. Ibu, apa sebenarnya amanah
kekerasan? Aku mencemaskan ajal ayahku setiap kali
ia terbang pulang, dan kadang kala aku memimpikan ia

terurai sebagai santapan ribuan cacing—
Aku akan punya alasan untuk memohon. Azalea di dalam ruangan
lebih suka tempat yang teduh, meniru akar-akar pohon,

tapi aku tak tahu apa pun tentang genesis. Selama sebelas
tahun aku kerap berdusta tentang asalku,
jengah pada alunan koda,

lonceng kosong yang dalam itu. Berapa banyak
pajak tahunanku dihabiskan untuk membom tanah
yang melahirkanku adalah pertanyaan yang tak pernah

ingin kurenungkan. Mari bercinta sementara
sebuah peternakan di Nangarhar hancur lebur
dengan bangkai sapi—tubuh-tubuh—dan oh, lalat…

Tidak—yang perlu kutahu adalah bagaimana mengatakan non-nuklir
tanpa mesti mengatakan azalea, azalea, azalea.
Atau melihat halaman tanpa memalingkan wajah.

Mari bercinta sampai tubuh kita membusuk, mari bergiat
untuk mengejar surga. Di bawah keran, azalea
menjulurkan ribuan mahkotanya seolah mabuk

pada berita baik, sementara aku membuka google untuk mencari
gambar kampung halaman: setiap gunung, setiap hutan menampilkan
pria samar dengan senapan laras panjang. Dan aku tak bisa melihat

wajah mereka, siapa yang asing, siapa yang asli.

 

Pemakaman Seorang Afganistan di Paris

Para bibi mendentingkan gelas anggur
dan mengarak kesedihan mereka dengan aroma musk mahal
yang berbisik di sepanjang lift dan lorong.
Setiap kematian alami menegaskan
kematian yang tak wajar: setiap bibi punya seorang putra
yang terbunuh, atau seorang putri yang tertimbun puing-puing
selama dua tahun, sampai para petugas datang mengetuk pintu
sambil memegang kantong yang berisi gaun
dan tulang. Tapi apa yang kutahu?
Aku menikmati pedikur dan makan roti Prancis
ketika membaca Swann’s Way. Saat berkata kepada
seorang bibi bahwa aku ingin pulang,
ia memekik itu bukanlah yang kauinginkan.
Nikmati krim keju itu saja, kata yang lain.
Oh, betapa ajaib jika bisa hidup dan melihat
jejak kaki ayahku di kebun adik perempuannya.
Dengan kesal, ayahku memotong bunga-bunga bakung,
menjawab setiap waktu ketika seorang periset menelepon dan bertanya
seberapa sering Anda memikirkan bahwa hidup Anda
adalah sebuah kesalahan? Selama prosesi pemakaman, ratapan para bibi
bergetar: kabel-kabel yang tertiup angin kencang dipenuhi gagak.
Aku benci setiap menitnya. Tuhan menciptakan
segalanya dari ketiadaan, tapi ketiadaan
toh tetap bersinar, kata Paul Valéry. Paris tak pernah memesonaku,
tapi ketika seorang asing bertanya
apakah begitu busuk keadaan di Afganistan, aku begitu terkesiap
sampai-sampai aku memeluknya. Dan ia membiarkanku,
pergelangan kakinya perlahan menyentuh pergelangan kakiku.

 

Operasi Rahasia Amerika Serikat dalam Perubahan Rezim, I

1949: Kudeta di Suriah
1949-53: Albania
1951-56: Tibet
1953: Kudeta di Iran
1954: Kudeta di Guatemala
1956-57: Suriah, Operasi Berserak, Operasi Lambang Negara
1959-2000: Kuba, usaha pembunuhan Fidel Castro
1959: Kamboja, Plot Bangkok
1961: Kudeta Kongo
1961: Kuba, invasi Teluk Babi
1961: Kuba, Operasi Musang
1961: Republik Dominika
1963: Kudeta Vietnam Selatan
1964: Kudeta Brasil
1966: Kudeta Ghana
1970: Kudeta Kamboja
1971: Kudeta Bolivia
1970-73: Chili
1976: Kudeta Jamaika
1979-89: Afganistan, Operasi Topan

Kau lihat orang-orang gunung itu, berjanggut
dan memakai turban, sangat lusuh sebenarnya,
mereka tak punya apa-apa… mereka sangat berterima kasih
untuk senjata-senjata itu, mereka bilang
mereka tak sabar untuk membunuh orang-orang Rusia
dan betapa hatimu akan terharu
sebab orang-orang itu begitu teguh percaya
pada Tuhan mereka,
yang dalam satu sisi
adalah Tuhanku pula.

—Joanne Herring

Apa yang paling penting dalam sejarah
dunia? Taliban atau keruntuhan imperium Soviet?
Sejumlah muslim penghasut atau pembebasan
Eropa Tengah dan berakhirnya Perang Dingin?

—Zbigniew Brzezinski

 

 Operasi Rahasia Amerika Serikat dalam Perubahan Rezim, II

1980-1992: El Salvador
1982-1989: Nikaragua, Plot Kontra
1983: Granada, Operasi Amuk Genting
1989: Panama, Operasi Pasal Adil
1991: Kuwait, Operasi Badai Gurun
1991: Kudeta di Haiti
1991-2000: Irak, Resolusi 687
1991-2004: Kudeta di Irak
1997: Indonesia
2000: Kudeta di Yugoslavia
2005: Suriah, Operasi Kayu Sycamore
 

Kebijakan Luar Negeri

Hari-hari gin dan tonik dan susu kunyit,
rehat kudapan dan anggukan sopan para sahabat,

ya, ya, perang itu. Kami tak menahan apa pun.

Dengarkan saja denyut satu sama lain, simaklah suara truk
yang menyayat di kejauhan. Di air keruh bak mandi, aku membaca

Kissinger, perbatasan yang dingin, Osama.

Agustus pun perencana, mengalihan perhatianku
pada mata kacang polongmu. Mengapa menyesali sesuatu?

Kita memberi bangsa Soviet Vietnam mereka sendiri,

jawab si tua Brzezinski, ketika ditanya
apakah ia, setelah empat puluh tahun situasi yang sulit,

akan mendanai kaum mujahidin lagi. Ya, ya.

Siapa yang bisa menyalahkannya? Ia ingin menyelamatkan Polandia,
tanah airnya. Dan ia mati dengan kemenangan di tangan.

Di Kandahar, seisi desa musnah,

bahkan tak seekor kambing pun selamat, tapi apa yang kulakukan hanyalah
melepas pakaian dan makan keju batang, terlindungi oleh AC.

Lagu Next Lifetime Erykah Badu diputar ulang—

tiada yang suci, kau percaya, semua terombang-ambing
dalam tubuh kita. Tapi kau tetap membiarkanku menyentuhmu sampai

tangis membuat kita malu seperti apologi pemerintah.

Bajingan, bisik hantu di kepalaku. Bajingan
tengik: serangan bunuh diri yang lain, operasi rahasia yang lain.

Ya, ya, perang itu, kami mengangguk terperangah.

Luar negeri adalah lampu yang lupa kita matikan. Kita tak pernah berkata:
Salahkan kami. Kita menyikat gigi dan berkumur. Lantas menyelinap

dalam tidur lelap seperti roda-roda mobil jenazah.

 

Operasi Topan, Bertahun-tahun Kemudian

Yang kutahu, Tuhan mungkin saja
lebih menyukai bocah gunung
yang kulitnya cokelat berdebu, yang alisnya
mengeras akan ingatan pada orang-orang
yang ia rajam sampai mati dan ia kencingi
jasadnya. Ia seorang murid.
Ia telah bersaksi, dan perlahan
rusak; setiap bola mata heran
dengan apa yang telah menembus
pupil: pada musim gugur, tubuh akan berubah
mengikuti lingkungannya—bahkan dam. Pun
batu. Kita adalah apa yang diajarkan kepada kita,
benar, tapi kita juga adalah apa yang kita
harapkan. Aku berharap lebih, alih-alih sebuah perang
yang membentuk kita menjadi bunglon
atau sepotong kertas dingin beku yang
tergantung di pergelangan kaki. Begitu pasti,
ke mana kita akan berakhir, tapi manasuka
ialah kata yang menentukan garis nasib
hidup kita; sebuah nama adalah sebuah gen pula,
yang barangkali berkembang atau menentang
kromosom. Murid-murid berharap
dibuai para ibu—berharap mendapat makan siang,
atau waktu satu jam untuk bermain bola. Murid-murid
berayun bolak-balik, dihangatkan oleh tirta
ramalan. Sebuah dusta, jika diulang-ulang
ad nauseam, pada akhirnya akan menjadi
sebuah doa. Dan topan bukanlah topan
meskipun ia juga memiliki mata—
ia bisa melihat. Tapi akankah ia bersaksi?
Jika mitos itu benar, murid-murid berkumpul,
sains sungguh sahih dan partikel Tuhan,
pada akhirnya, tak dirancang untuk
ramah kepada kita. Namun, si murid membayangkan Tuhan
sebagai wujud yang bergerak dan penuh warna. Ia merinai
sebelum menarik pelatuk senapan,
bernyanyi aku seorang murid,
aku seorang murid, aku seorang murid
Tuhan, dan ia benar, sebab begitulah adanya
dan lahan kerontang yang telah kita siangi
di negeri ini adalah sekolahnya.

 

Aria Aber berasal dari keluarga pengungsi Afganistan. Ia dibesarkan di Jerman. Sejumlah puisinya telah tersiar di berbagai jurnal ternama, antara lain The New Yorker, New Republic, Kenyon Review, Narrative, dan Poetry Magazine. Buku debutnya yang berjudul Hard Damage memenangkan the Praire Schooner Book Prize in Poetry tahun 2019. Kini ia tinggal Oakland dan mengemban tugas sebagai Stegner Fellow in Poetry di Universitas Stanford.

—Enam puisi di atas dipilih dan diterjemahkan dari Hard Damage (University of Nebraska Press, 2019).

A. Nabil Wibisana

A. Nabil Wibisana

Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Editor dan penerjemah, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

All stories by:A. Nabil Wibisana
A. Nabil Wibisana

A. Nabil Wibisana

Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Editor dan penerjemah, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

All stories by:A. Nabil Wibisana