Puisi-Puisi Afri Meldam

820 820 Afri Meldam

Naik Kuda Cokelat Muda

tiket sudah di tangan, dua lembar kartu ringan
“ini bisa dipakai berkali-kali, jika hati tuan sedang perih,”
aku tak tahu harus melihat apa dulu
sebaiknya kita tak usah bergandengan tangan
aku malu dilihat makhluk-makhluk berbulu
mari berjalan sendiri-sendiri
seperti para binatang
yang tak bisa saling menggenggam jemari

“aku akan naik kuda,” ujarmu nganga
lalu beberapa lembar rupiah lagi dari dompet tipisku
kau wanita atau seekor singa
aku mengelap keringat dingin di pelipis

“aku mau naik kuda cokelat muda,” katamu merajuk
lalu aku diam merunduk dan membawamu masuk
mengitari seisi kebun binatang yang lengang
menapaki semuanya dengan ladam yang usang

“kau kuda cokelat muda yang gagah,” pujimu sungguh-sungguh
aku terus berjalan terengah dalam kucuran deras titik-titik peluh
kulihat orang-orang menertawaiku dari balik kandang
dan sungguh mereka tak tahu aku tak suka kacang

Jakarta, 2020

 

Memotong Leher Jerapah

senin pagi, mari ke kebun binatang
bertamasya sampai petang
melihat hewan-hewan tertawa terpaksa
mendengar para satwa menderita duka lara

senin pagi, kita lupakan macet Jakarta
ke kebun margasatwa saja kita
ada seekor jerapah tua di sana
kita potong lehernya belah tiga
untuk kau, aku, dan tuhan

lehernya terlalu panjang, kata tuhan penuh kasih
jangan biarkan ia makan pucuk muda pohon khuldi

biar tak ada daun-daun mati pucuk
biar tak ada kandang-kandang busuk
ada pisau di saku celanaku
telah kuasah sampai tajam begitu
untuk memotong lehernya
atau siapa saja
yang kita jumpa di sana:

yang menderita di Jakarta
taman margasatwa kita semua

Jakarta, 2019

 

Melamar Kuda Nil Berkutil 

aku sudah putuskan melamar kuda nil itu
ia sendirian di sungai penuh minyak
sampah, tinja dan kata-kata
mungkin ia akan menggigitku murka
tapi ia tetap tak akan bisa berbuat banyak
kesepian adalah luka paling mengerikan!

wahai kuda nil berkutil, maukah kau menerima lamaranku
akan kubersihkan gigimu setiap hari sampai putih
akan kugosok lubang hidungmu setiap kau mau
akan kuiris putus kutil di sekujur tubuhmu

o kuda nil berkutil
kenapa kau hanya mendengus
dan menyembur air ke mukaku

apa aku tak setampan kuda nil jantan di kubangan
dengan kutilnya yang telah melilit sekujur badan?

Jakarta, 2019

 

Keluarga Gajah Afrika

sedikit lemak di badan membuat kami begitu lamban
berjalan terseok-seok di toko-toko pusat perbelanjaan
sementara memburu diskon akhir tahun adalah kewajiban
dan sungguh kami tak pernah mau ketinggalan, tuan

jadi kami membuka mulut lebar-lebar
menyerahkan segala isi semesta ke pelukan asam lambung

jadi kami mengulurkan belalai sepanjang gedung
melilit segala produk yang membuat debar

sungguh, kami tak akan pernah kenyang, tuan

Jakarta, 2020

 

Panu Zebra Pemalu

kenapa ada belang putih di tubuhmu yang hitam
kenapa ada belang hitam di tubuhmu yang putih
aku tak tahu
kau tak tahu
mereka tak tahu
tak ada yang tahu
tapi aku tahu bahwa ada serumpun panu
bersarang di punggungmu
menjadikan belang putih semakin putih
menjadikan belang hitam sedikit putih
tapi siapa yang akan melihatnya
jika belang putihmu tumbuh di atas hitam
dan belang hitammu tumbuh di atas putih

warna-warna yang mengecoh mata

Jakarta, 2020

Afri Meldam

Lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media cetak dan daring.

All stories by:Afri Meldam

Afri Meldam

Lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Puisi-puisinya tersiar di beberapa media cetak dan daring.

All stories by:Afri Meldam