Peter Kasenda: Saya Terobsesi pada Peristiwa 1965
Hari kedua (2/12/16) penyelenggaraan Pekan Literasi Kebangsaan Festival Indonesia Menggugat salah satunya diisi dengan diskusi buku Hari-Hari Terakhir Sukarno, D. N. Aidit dan Suharto (Komunitas Bambu) yang ditulis oleh Peter Kasenda. Rama Prambudhi ditunjuk untuk menjadi moderator mendampingi Peter Kasenda yang akan berbicara tentang bukunya dan pengetahuannya sekitar ketiga tokoh besar Indonesia.
Sebelum memulai, Rama membacakan sebuah puisi berjudul “Hanya Inilah Jalannya”. Rama enggan menyebutkan secara lengkap si pengarang, ia hanya menyebutkan inisialnya saja sebagai DNA. Jika kita telusuri dalam mesin pencari, puisi itu adalah karya ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia.
Peter mengaku sangat terobsesi dengan peristiwa 1965. Pria yang lahir di jalan Aceh kota Bandung dan besar di Surabaya ini mengaku di masa kecilnya pernah melihat karung-karung yang mengambang di sungai di Surabaya. Karung-karung itu dipercaya berisikan mayat para anggota dan simpatisan PKI yang dibunuh pasca peristiwa 1965.
Peristiwa 1965 hingga kini masih diselimuti kabut misteri. Beberapa versi muncul namun belum bisa mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi. Versi militerlah yang paling berpengaruh dalam ingatan kolektif masyarakat bahwa G30S adalah peristiwa penculikan dan pembunuhan 7 jenderal angkatan darat yang didalangi oleh PKI demi merebut kekuasaan pemerintahan yang sah.
“Orang hanya tahu bahwa peristiwa 65 itu penculikan dan pembunuhan 7 jendral. Tapi banyak yang tidak tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa tersebut,” ungkapnya. Untuk itu, Peter berusaha menelusuri sejarah Indonesia melalui pendekatan biografi para tokoh republik Indonesia.
Peristiwa 1965 juga setidaknya telah meredupkan dua tokoh besar sekaligus memunculkan dua tokoh yang sebelumnya bisa dibilang terkucilkan. Kedua tokoh yang redup dan tenggelam itu antara lain Sukarno dan D. N. Aidit.
Kekuasaan Sukarno sebagai presiden Indonesia kian melemah pasca peristiwa 1965. Posisinya sebagai presiden Republik Indonesia kemudian digeser oleh Suharto. Apalagi setelah menjadi tahanan rumah atas dugaan keterlibatannya dengan G30S, lambat laun ia mulai dilupakan.
Memang muskil disangkal siapa yang tak mengenal nama Sukarno sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia? Namun tak ada pula yang dapat menyangkal bahwa pengaruh politiknya kian melemah setelah peristiwa 1965. Pemikiran dan gagasan besarnya pun ikut tenggelam.
Nama selanjutnya yang ikut tenggelam adalah Dipa Nusantara Aidit atau yang lebih umum disapa Aidit. Aidit sebelum 1965 adalah pemuda dengan sederet prestasi politik yang gemilang. Bayangkan saja, di usianya yang masih muda Aidit mampu membangkitkan kembali pengaruh PKI dalam percaturan politik Indonesia. Setelah dihancurkan lewat peristiwa Madiun, PKI yang dipimpin Aidit, Njoto, dan Lukman mampu menduduki peringkat keempat pada pemilihan umum tahun 1955.
Sosok Aidit juga sangat disegani baik oleh lawan maupun kawan politiknya. Ia juga sempat menjadi idola bagi berbagai kalangan masyarakat dengan kepiawaiannya dalam berorasi dan mengorganisasikan masyarakat akar rumput.
Namun, Aidit pasca peristiwa 1965 adalah sosok yang sering diasosiasikan dengan penjahat, licik, dan bengis. Ia serupa iblis yang haus darah dan kekuasaan. Apalagi setelah film Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noer menjadi tontonan wajib setiap tahun dalam memperingati G30S. Bahkan, hingga kini keberadaan makam Aidit masih tak diketahui.
Sementara ada yang tenggelam, ada pula yang muncul ke permukaan. Bahkan, tanpa disangka dan diduga sebelumnya. Yakni Suharto sang komandan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan Sarwo Edhie Wibowo yang tak lain adalah mertua presiden Republik Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono.
Suharto sebelum peristiwa 1965 adalah perwira yang terpinggirkan dan tak memiliki banyak pengaruh. Prestasinya di bidang militer pun sangat timpang bila dibandingkan dengan Ahmad Yani atau A. H. Nasution. Karena tak memiliki pengaruh kuat itu pulalah bisa menjadi keuntungan bagi sang panglima tinggi ini: tak jadi target penculikan kelompok Cakrabirawa.
Meski tak mengenyam pendidikan yang mumpuni seperti para tokoh republik lainnya, namun ia mampu memanfaatkan kondisi 1965 hingga dapat memimpin republik ini selama 32 tahun. Sungguh prestasi yang bukan main-main.
Sosok yang muncul selanjutnya adalah Sarwo Edhie Wibowo. Mirip dengan Suharto, tak banyak mengenalnya sebelum peristiwa 1965. Kemudian ia muncul sebagai pemimpin dalam operasi militer penumpasan PKI. Tapi ia tak seberuntung sang panglima tinggi, sebab setelah Suharto dengan kuat menancapkan kekuasaannya, perlahan-lahan Sarwo Edhie tersingkir kembali.
Yang tak kalah menarik lagi adalah kemiripan pada hari-hari terakhir kekuasaan Sukarno dan Suharto. Gerakan mahasiswa Indonesia setidaknya memiliki andil dalam runtuhnya dua kekuasaan tersebut. Namun tentu saja ada perbedaan yang mencolok antara keduanya.
Jika yang pertama, gerakan mahasiswa berdampingan erat dengan militer bahkan ada indikasi intervensi militer di dalamnya. Yang terakhir, gerakan mahasiswa 1998 lebih murni tanpa campur tangan militer.
Di luar Gedung Indonesia Menggugat, gerimis mulai turun. Ada kekhawatiran yang tiba-tiba muncul. Bukan karena hujan yang biasa disertai petir akan turun. Namun tentang Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (R-KUHP) yang akan memasukkan hukuman penjara bagi setiap orang yang menyebarkan ajaran Komunisme, Marxisme-Leninisme baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Apakah mungkin mempelajari secara lengkap dan kritis sejarah republik ini dengan membatasi pengetahuan kita tentang komunisme?[]
Sorry, the comment form is closed at this time.


Lucas
ngapain belajar komunis? kakek saya itu korban ganasnya PKI. komunisme itu udah mampus dan menyesatkan!
ilham
waduh, korban dari kota mana, Om?
ganasnya PKI itu seperti apa ya?