Pertunjukan Teater SAB3E Jadi Kado Lebaran di Garut

820 820 Openhousegarut

Bagaimana jadinya jika liburan Idul Fitri diisi dengan menonton pertunjukan teater? Jawabannya dapat ditanyakan pada 160-an orang penonton yang menyaksikan teater berjudul “Sandiwara Akan Berakhir di 3 Episode” di kedai kopi Abelii, Kota Garut, pada 7 Mei 2022. Teater yang dipadati penonton sampai rela berdesakan ini layak diapresiasi, selain kelahirannya yang agak “nyeleneh”, juga karena animo yang tinggi dari kaum muda Garut.

Disebut agak nyeleneh kelahirannya, sebab teater SAB3E (Sandiwara Akan Berakhir di 3 Episode) tidak berasal dari satu kelompok teater. Keseluruhan proses terciptanya teater itu adalah murni dari para kaum muda pelaku seni lintas disiplin. Para pelakunya terdiri dari aktor teater dan aktor pemula, musisi setempat, penari, perupa, seorang tukang cukur, dan sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Garut yang tergabung dalam sebuah kelompok bernama OPEN HOUSE. Open yang kami maksud, yakni “terbuka” dan house itu Garut. Sederhananya, kami ingin Garut memiliki keterbukaan pikiran, kerendahan hati dan kemandirian. Meskipun berangkat dari berbagai keterbatasan, namun kami mempunyai semangat yang sama untuk membuat sebuah “karya bersama” secara sukarela, militan, dan kolektif. Dari semangat itulah teater SAB3E lahir.

“Sebutlah ini piknik gaya baru saja, sehabis hari raya menonton teater anak muda yang sukarela”, seloroh Baharzah Martin selaku aktor yang ditanyai soal teater SAB3E usai acara. Seolah enggan bicara berat-berat, Ilyas Mate (selaku penulis naskah) ketika ditanyai soal relevansi kekinian naskah, mengatakan: “Isinya kan cuma curhat, seputar kegelisahan anak muda Garut, soal cinta, pekerjaan dan peralihan-peralihan yang sangat cepat dalam hidup, begitulah. Dan luar biasa, animo penonton sangat mengejutkan!” 

Sekilas Alur Cerita Teater SAB3E
Ketika sore hari di teras kafe Abelii, seorang ajudan bupati membuka acara peresmian gedung pertunjukan. cukur cerewet yang memberitakan banyak rahasia yang telah diketahuinya dari para orang-orang penting. Namun kecerewetan tukang cukur itu rupanya berbuah protes dari Marino, sebab berbagai penjelasan itu menjadikan kepalanya lama dicukur. Tak lama kemudian seorang polisi datang menceritakan sebuah insiden tabrakan mobil pada perempuan galau.

Lagi-lagi sang sutradara memberitahukan—dalam percakapan dan perdebatan tukang cukur dan pelanggan serta polisi dan perempuan—bahwa episode dua telah berakhir dan akan diselesaikan pada episode tiga di ruang berbeda, yakni di lantai dua kafe Abelii (Gedung pertunjukan). Di sinilah semua masalah berakhir, yakni pada tiga episode.

Tentu saja, alur sekadar alur cerita akan membuat semua pembaca pusing. Untuk mengobati hal itu, teater SAB3E sebentar lagi akan tayang di Youtube. Sekali lagi, teater SAB3E bukan nama kelompok, tapi adalah judul teater dan kedepannya OPEN HOUSE akan tampil berikutnya di beberapa kedai kopi lainnya di Garut. Akhirnya, sang bupati pun menggunting pita, dan membuka pintu kaca, pertanda pertunjukan akan segera dimulai.

Di dalam ruangan, Marino duduk mematung sedang menunggu kepalanya dicukur. Setelah pembawa acara memberitakan bahwa pertunjukan akan segera dimulai, datanglah seorang tukang.

Animo Mengejutkan dari Kaum Muda
Tim produksi teater SAB3E menyiasati kemungkinan minimnya penonton dengan membuat dua sesi pertunjukan. Sesi 1 pada pukul 16.00-17.00 dan sesi 2 pada pukul 20.00-21.00. Target masing-masing sesi hanya dipatok 50 penonton, sebagaimana disampaikan Ahmad Hayya selaku pimpinan produksi, “Istilahnya minder lah kita itu pada awalnya. Makanya hanya 50 penonton setiap sesi. Tapi yang terjadi di luar dugaan, sesi 1 ada 60 penonton dan sesi 2 sampai 90 penonton.”

Bahkan Epy Kusnandar, selaku aktor ikonik Preman Pensiun yang menyempatkan diri menonton teater SAB3E, menyebutkan “Sungguh mengagetkan, entah dari mana (para penonton) datang. Padahal zaman saya, anak muda di Garut suka nyebut nonton teater itu nanaonan jeung asa gegeloan (apa-apaan dan kesannya gila). Sekarang semuanya sungguh mengagetkan, dan semoga hal ini berlanjut terus sehingga membangun kesadaran kebudayaan kaum muda di Garut khususnya.”

Sebenarnya, dari tiga tempat (ruang) yang berbeda dalam setiap episode, kapasitas penonton dapat dibilang “mustahil” menampung lebih dari 50 penonton. Itu terjadi jika ruang yang dijadikan “panggung” pertunjukan “dibatasi”, sebagaimana teater pada umumnya. Beruntungnya, teater SAB3E memakai konsep Bertolt Brecht (1898-1956) yang memungkinkan “panggung” bisa diciptakan di mana dan kapan pun. Hal lain yang paling mendasar dari pemikir teater Jerman itu juga adalah soal batas antara aktor dan penonton yang berada dalam ruang-waktu yang sama, sehingga ruang teater bisa tetap berjalan dalam kondisi berdesakan dengan penonton.