Fb. In. Tw.

Pertanyaan dari Benak Puisi

saat itu melihat langit adalah versi lain
dari banyak kegembiraan yang lain 

(Mimpi dari Milimeter Jarak Sepi, 2005)

 

Mana yang lebih hendak diinginkan penyair ketika ia berhasil menulis sebuah puisi, apakah bahasa puitisnya berminat disebut sebagai kreatif atau produknya sebagai ‘kreasi puitis’? Lalu sebenarnya, apakah yang akan berhasil diciptakan oleh penyair di dalam puisinya ketika sampai pada pembaca? Apakah sebuah perasaan yang akan muncul bersama sikap perubahan dalam menghadapi kehidupan? Atau justru penyair sedang membuat fakta kehidupan yang sebenarnya sudah ada sebelumnya? Kurang lebih begitulah, pertanyaan-pertanyaan yang senada dengan kegelisahan Suzanne K. Langer menghinggapi pikiran saya ketika menghadapi puisi Ujianto Sadewa. Puisi-puisi di dalam Aligator Merangkak Sajak, saya ingin mencoba menyentuh lebih ke esensi artistiknya, karena saya rasa memang kumpulan puisi ini sudah menggeser anggapan saya bahwa buku ini adalah ‘masterpiece’ bagi kepanyairan Ujianto Sadewa.

Kita bisa bersepakat, bahwa puisi-puisi Ujianto Sadewa merupakan bentuk dari kata-kata warisan penyairnya yang dipergunakan dalam bersyair, bukan kata-kata yang diciptakan olehnya. Hingga akhirnya kita menemukan ‘fakta’ dari apa yang dikatakan puisi lewat cara menyampaikannya. Sejauh apapun puisi tersebut mencoba ‘berlari’ di atas pikiran, tapi selalu ada satu hal yang dituju yaitu kemungkinan-kemungkinan yang kita kenal. Kemungkinan-kemungkinan yang kita kenal itulah yang dibebankan penyairnya pada kenyataan kehidupan—sebuah nilai.

Memang puisi selalu menjadi sebuah himbauan emosi kepada pembacanya, meraih banyak simpati atas perasaan penyair di dalam dunianya. Tentu puisi di atas, tadi saya kutip, muncul dengan kehebatan akan susunan kata, tetapi tidak hanya sampai pada pola katanya saja. Pemunculan itu juga memang didasari oleh pernyataan diri penyairnya sendiri. Oleh sebuah pengungkapan apa yang dibiarkan terbuka untuk pikiran kemudian dibuat menjadi sangat ‘rentan’ akan tafsir lain. Puisi yang selalu ‘beresiko’ memiliki arti bukan berarti ia bebas ke mana saja berlari menghinggapi makna di kepala pembaca. Justru puisi itu selalu ‘jatuh’ pada pilihan pengalaman pembacanya serasa sebuah sergapan, menghanyutkan dan kemudian suasana perasaannya tiba-tiba bisa ikut larut di dalamnya.

Puisi-puisi di dalam Aligator Merangkak Sajak, yang ditulis di dekade awal, banyak sekali saya menemukan bagaimana alam di diri penyairnya menjadi sebuah produk ‘hidup’ yang dikhidmati dalam pencapaian peristiwa. Peristiwa nilai-nilai religi sang penyair, pada puisi Wol misalnya, mengesankan adanya pemosisian subjek ke dalam ‘produk’ dan alam-lah yang mengeksekusi ke mana tujuan dari pernyataan sang penyair. Termasuk Imsomnia Daun,  begitu bertumpu pada citraan visual. Rekaan imajinasinya terus saja bergulir di sekitar isotopi alam (daun, tumbuh, gugur sampai kabut dan matahari) menahan aksen artistik tak melebar ke mana-mana.

Puisi “Kejahatan Mencuri Foto”, sangatlah kentara kalau Ujianto Sadewa memang ‘menyerahkan’ dirinya kepada gejala di sekitar ruang (alam) tersebut. Untuk mengalami eksekusi di mana subjek dan objek saling beralih dan posisi atau bahkan tidak saling menguasai satu sama lainnya. Senja, awan, langit dan sebuah getar dari lubuk perasaan yang timbul sehabis memandangi peristiwa di dalam puisi tersebut, dan ‘sesuatu’ dengan sangat jahat mencuri adegan ‘foto’ tersebut dari rongga dada sang penyairnya.

Mungkin karena derita adalah burung-burung bagi Ujianto Sadewa, fenomena itulah yang khusuk terus-terusan berkali dipanjatkan oleh syairnya. Ujianto menyimpan kesadaran kalau seluruh gerak, baik musim atau gejala di muka bumi selalu mewakili pernyataan dirinya. Berputar-putar sebagai proyektor yang dengan berbagai cahaya menyorot ke tembok batinnya. Memberikan film-film baru, menancapkan layar yang besar untuk kembali ‘dibicarakan’ di dalam puisi-puisinya.

Walaupun kata-kata warisan sang Penyair mulai tampak mendominasi sebagai hasil pengaruh bacaannya, di puisi-puisi dekade awal, Ujianto Sadewa belum menanggalkan alam keseluruhannya sebagai cara bahasa diungkapan dalam syair-syairnya. “Puisi Transplantasi Kata-kata pada Kornea Mata” ada sedikit pergeseran di dalam cara Ujianto Sadewa mengoptimalkan alam sebagai alat bagi kreasi puisinya. Perlakuan Ujianto Sadewa menjadi lebih khusus dan spesifik, karena alam telah menjadi sangat samar, sebagai subjek atau objek yang dihadirkan.

….

aliran tenang di sungai teduh adalah kebahagian terbaik
tanpa gelombang 

tidak hujan
bukan angin 

jangan kau poskan suratmu padaku
sebab hujan telah lama reda

1999

Kemungkinan antara hujan sebagai peristiwa dan hujan sebagai latar pernyataan diri penyairnya saling bergantian dihadirkan. Menggaris-bawahi kembali, bahwa kadang-kadang penyair memang menempuh (kesengajaan) kesenjangan makna membuat misteri lain dari puisi. Walaupun terkesan di sana Ujianto Sadewa memasang pola-pola kata yang ganjil, seperti istilah ilmiah (ini kata-kata warisan penyairnya) tetapi di dalam bangunan puisinya kecenderungan itu tak mengubah kenikmatan bahasa puitik.

Abtraksi perasaan dari Ujianto Sadewa sangatlah bersifat lompatan-lompatan atas referensi yang ia temukan. Selama proses ‘membaca’ Ujianto Sadewa pun mengurasi momen dan bentuk mereka sebagai unsur-unsur estetika dalam puisinya. Semacam kolase atau puzzle dari ruang dan raung waktu berbeda. Ini semua bisa kita dapati, salah satunya di puisi “Katarsis Mata dan Telinga”, “Transfigurasi Angin dan Daun”, juga pada “Lamentasi”.

Kemudian pada dekade kedua, di sekitar tahun 2000-an, puisi-puisi Ujianto Sadewa mengalami pergeseran tema. Kemunculan motif tema pada puisi-puisi dekade kedua, memang bukan tidak diawali oleh sang penyair di dekade sebelumnya. Warna perkotaan, urban dan potret-potret kemanusian terpasang di beberapa puisi di dalam “Aligator Merangkak Sajak”. Bila kita membaca, “Lima Menit dari Jalan Raya” misalnya, cara ungkap Ujianto menjadi sangat kental terhadap bahasa-bahasa ilmiah. Biologi misalnya, seperti kata larva dan protein. Sebenarnya di banyak judul istilah ilmiah, khususnya biologi ini juga dipakai sebagai jalan menegaskan konsep berpuisi yang coba dihadirkan Ujianto Sadewa. Namun dari awalnya hanya sebagai ‘pintu masuk’ kata-kata tersebut di dekade kedua, itu sudah tak lagi sampai di sana. Melainkan merangsek ke dalam syair dan menjadi diksi-diksi.

Dari yang awalnya komposisi puisi, diatur seperti sebuah ‘kerangka’  mana kepala mana tubuh dan tangan juga kaki, kini Ujianto meleburkan itu semua. Nilai dan bobot tak lagi bertumbuh pada filosofisnya, tapi pada bunyi di tiap tubuh lariknya. Lebih berotot dan punya saraf yang selalu bermuara pada tema yang lagi difokuskan. Kota-kota dibicarakan dari produk, katalog, kayuhan sepeda, bencana, genre musik, film dan lukisan. Atau sebaliknya satu kebiasaan manusia merangkum segalanya di dalam, selera musik, hobi, kota dan peristiwa personal.

seperti capung yang mati tanpa daging dan darah
ia air terjun tanpa silsilah mengalir dari berbagai arah
menepikan sejuk pada pernikahan
seperti menyetop mobil dengan ragu

(Ia Telah Pergi Seperti Menyetop Mobil dengan Ragu, 2001-2004)   

 

tapi pada telapak trotoarmu juga
kujejakkan kaki dalam satu parade
berebut botol minuman keras dengan seorang pemulung
di depan sebuah tempat sampah bar yang tutup
pada pagi hari di braga 

(Catatan Harian dari Katalog Produk Kecantikan, 2005)

Penyair seperti biasanya mengajak pembacanya untuk menangkap situasi dari persoalan yang sedang dihadapinya. Mengembangkan citra dari kota yang biasa menghubungkan dengan kita, tentang kebiasaan, tabiat dan muara peristiwa akan berpengaruh pada kita sebagai pembacanya. Pengalaman inderawi yang lewat (atau dilewatkan) melalui kata-kata adakah merupakan esensi dari kreasi penyairnya? Bila kita saling menginformasikan apa saja yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh penyair dalam menghadapi sebuah puisi apakah itu justru akan membuat canggung kita menyantap puisi sebagai pengalaman estetik dan bukan sebagai pengalaman perilaku menciptakan puisi?

Terakhir, di dekade ketiga, puisi-puisi dalam Aligator Merangkak Sajak, terasa sangat bersabar mengejawantahkan seluruh proses yang pernah dilewatkan penyair di hampir 16 tahun menulis puisi. Ujianto Sadewa lebih kalem, lebih membiarkan bagian-bagian tertentu bicara dengan sendirinya keluar atau tampil. Misteri-misteri yang dulu sebagai alam raya di pikiran juga di alam terbuka, masih bisa ditemukan. Khazanah pengalaman membaca Ujianto Sadewa yang masih tersimpan sebagai memori juga masih bisa dirasakan, dengan tanpa tergesa-gesa menyalip di lekuk larik.

kau rapati sesak dada senja
mengangini sudut terbuka waditra kata
kau mengalun setengah nada dari biji kromatik matamu
yang lesang
dan berang.

(Garis Mata Senja, 2014)

Dalam beberapa jeda kita bisa mengghuni dramatik dari unsur-unsur bangunan puisi tersebut. Istilah-istilah dalam musik lebur ke setiap karakteristik diksi, dan tetap tak meninggalkan pijakan ‘senja’ sebagai gerbang dari maksud pernyataan penyair.

Mungkin ada benarnya yang dimaksud oleh Ujianto Sadewa, kalau hari telah malam/ buku telah malam pula/ dan para siswa mengeja bahasa/ berceloteh kata-kata//. Adalah bagian dari dirinya sendiri yang makin ke sini, makin menemukan esensi dari puisi ialah memberanikan diri berkutat dengan pertanyaan seperti apa puisi itu mesti disampaikan? Dan apa yang timbul dari puisi di dalam perasaan-perasaan kita. Rasanya memang tak cukup mewakili beberapa tanggapan saya atas pembacaan puisi-puisi di dalam Aligator Merangkak Sajak, bila tanpa sebuah obrolan diskusi lebih lanjut lagi. Di mana pertanyaan-pertanyaan untuk puisi dari ‘dalam’ puisi itu selalu misteri yang tak pernah berhenti.[]

 

 

Catatan ini disampaikan sebagai pengantar pada acara Launching Aligator Merangkak Sajak, 5 Februari 2017 di toco.buruan.co

 

Post tags:

Penyair dan novelis. Kumpulan puisinya yang telah terbit "Hikayat Pemanen Kentang" dan "Partitur Hujan". Penulis novel "Memeluk Kehilangan". Tinggal di Bandung.

Comments
  • lukman a sya

    boleh juga pembahasanmu kawan

    10 Februari 2017

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register