Orang-orang Aneh di Jalan Miguel

820 820 Rauf Fauzy

Melalui buku, kita bisa berkunjung ke seluruh penjuru dunia. Termasuk berkenalan dengan orang maupun tokoh baru. Seperti perjalanan saya ke Pelabuhan Spanyol, Trinidad, salah satu negara di wilayah Karibia. Untuk bisa sampai ke sana, saya memilih untuk membaca kumpulan cerpen berjudul Jalan Miguel (Penerbit Trubadur, Januari 2018) karya Vidiadhar Surajprasad Naipaul, terjemahan Lutfi Mardiansyah.

Setibanya di Pelabuhan Spanyol, saya langsung menemui masalah di Jalan Miguel. Masalah pertama saya dapati ketika bertemu dengan Bogart, tokoh dalam cerpen pertama buku ini. Masalah seks, perceraian, dan penangkapan penjahat, jadi ‘bumbu’ perjalanan pertama saya.

‘Begini,’ ujar Hat di trotoar pinggir jalan malam itu, ‘Dia (Bogart) meninggalkan istri pertamanya di Tunapuna dan datang ke Pelabuhan Spanyol. Mereka tidak punya anak. Tetapi berada di sini membuatnya merasa sedih dan berkecil hati. Dia pergi, bertemu seorang gadis di Caroni dan dia menghamili gadis itu. Di Caroni mereka tidak main-main dengan hal semacam itu dan Bogart harus menikahinya.’

‘Tapi kenapa dia meninggalkan gadis itu?’ tanya Eddoes.
‘Agar bisa menjadi laki-laki sejati, seperti kita di sini.’

Permasalahan Bogart ini menuntut perhatian dari pembaca—bisa berasal dari mana saja.  Jalan Miguel seakan jadi tempat buangan atau tempat kembali ketika seseorang gagal. Agak aneh karena orang-orang di sana bangga dengan peristiwa tersebut. Bangga karena sebuah kasus besar tengah menyeret nama ‘Jalan Miguel’ berkat salah seorang warganya.

Kesan aneh akan tiba di benak pembaca selepas membaca cerpen pertama. Tapi, lama-lama pembaca akan terbiasa dengan orang-orang ‘unik’ di Jalan Miguel.

Sementara di cerpen berjudul “Benda Tanpa Nama”, saya berkenalan dengan seorang tukang kayu bernama Popo. Ia tak henti membuat apa saja dan mengandalkan pendapatan istrinya untuk hidup.

Popo tak pernah menghasilkan uang barang sedikit pun. Istrinya biasa pergi keluar dan bekerja, dan itu mudah saja, sebab mereka tidak punya anak.

Suatu hari, istrinya hilang dari rumah. Istrinya dibawa kabur oleh rekan kerjanya. Setelahnya, ia sering mabuk-mabukan di pinggir jalan dan mendapatkan pengakuan dari geng (di) Jalan Miguel.

Popo mulai banyak minum, dan aku tidak menyukainya kalau dia sedang mabuk. Dia jadi bau rum dan dia sering menangis kemudian marah-marah dan ingin memukuli semua orang. Itulah yang membuatnya diterima menjadi anggota geng Jalan Miguel.
Hat bilang, ‘Kita telah keliru menilai Popo. Dia itu laki-laki sejati, seperti kita semua.’

‘Dia itu laki-laki sejati’ menjadi pandangan lumrah bagi pembaca. Konsepnya: Naipaul menginginkan masalah-masalah di Jalan Miguel menjadi suatu kebanggaan bagi orang-orang Jalan Miguel itu sendiri, bahkan menjadi satu peristiwa tak terlupakan dan kelak terkenang. Ketika misalnya ada seorang suami ditinggalkan istrinya dan mulai mabuk-mabukan sampai mengacau di jalanan, orang-orang Jalan Miguel akan senang dan menganggapnya kawan. Naipaul membentuk karakter khas dari tokoh-tokoh di Jalan Miguel ini.

Konon, aku pencerita merupakan Naipaul semasa kecil. Barangkali peristiwa itu adalah kenangan Naipaul atas orang-orang yang dikenalnya dulu. Memandang Jalan Miguel sebagai suatu tempat penuh masalah dengan tokoh-tokoh unik dan menuliskannya menjadi sebuah buku. Dengan begitu, secara tidak langsung, Naipaul mengenalkan Trinidad & Tobago ke dunia luar. Kerja kreatif yang luar biasa.

Tapi ada hal aneh, meski Jalan Miguel berada di Pelabuhan Spanyol, pembaca tidak akan menemukan pekerjaan berkenaan dengan aktifitas yang biasa ditemui di pelabuhan. Padahal secara geografis, Pelabuhan Spanyol adalah ibu kota Trinidad. Lokasinya di dekat pantai. Dan jika melihat berbagai literatur, Jalan Miguel yang sebenarnya adalah Jalan Luis. Letaknya tidak begitu jauh dengan pantai.

Selain Bogart dan Popo, di Jalan Miguel ada berbagai karakter; ada orang cerdas tapi gagal berkali-kali dalam ujian dan memutuskan untuk menjadi tukang sampah, penyair yang tidak pernah menyelesaikan puisi terbesar yang pernah dituliskan, petinju yang cengeng, guru yang pandai menipu, dan masih banyak lagi. Beruntung sekali yang menjadi judul buku adalah Jalan Miguel  dan bukan Jalan Miguel di Pelabuhan Spanyol. Sebab, beberapa kali pengulangan kata ‘Pelabuhan Spanyol’ pada beberapa cerpen dalam buku ini hanya berakhir menjadi nama tempat saja.

Barangkali itu upaya Naipaul agar buku ini bisa terasa di berbagai kota di seluruh dunia. Upaya mengingatkan pembaca kepada jalan kumuh di sebuah kota. Pada pekerjaan-pekerjaan di kota mana saja. Naipaul berhasil menghadirkan Jalan Miguel sebagai latar fiksi. Jalan Miguel dengan orang-orang aneh di dalamnya, sulit dan tidak akan bisa tergantikan.

Lepas dari itu semua, buku yang diterjemahkan Lutfi Mardiansyah ini memang asyik sekali. Saya menikmati buku ini dengan lancar tanpa terganjal lika-liku bahasa. Dan tentu saja, dengan diterjemahkannya buku ini ke dalam bahasa Indonesia akan sangat membantu masyarakat sastra Indonesia berkenalan dengan karya Naipaul, peraih Nobel Sastra tahun 2001. Jadi, apakah Anda berminat ‘berwisata’ ke Jalan Miguel?[]

Judul                   : Jalan Miguel
Pengarang        : V. S. Naipaul
Penerjemah      : Lutfi Mardiansyah
Penerbit             : Penerbit Trubadur
Tahun Terbit    : Januari 2018
Halaman           : vi+280 hlm 13×19 cm
ISBN                    : 978-602-50034-1-7

Dapatkan buku ini di Toco.buruan.co

Rauf Fauzy

Rauf Fauzy

Penulis Cerpen. Ketua Divisi Kajian dan Ekspresi ASAS UPI.

All stories by:Rauf Fauzy