Mitos Alejandra Pizarnik

820 820 Aryo Jakti Artakusuma

Mitos Alejandra Pizarnik tumbuh cepat, bukan karena dia bunuh diri di usia muda—overdosis Seconal pada usia 36 tahun—tetapi juga karena kekuatan dari bahasanya, seorang “perempuan soliter muram” yang menolak tersapu oleh waktu. Perempuan soliter muram, yang kata-katanya pada akhirnya adalah subjek tentang dirinya. Tidur, kematian, masa kanak-kanak, teror, dan malam. Ia menggabungkan subjek-subjek tersebut dengan kepercayaan penuh terhadap bahasa, yang secara paradoks akhirnya membangkitkan kecurigaan dalam dirinya, bahwa kata-katanya memiliki dimensi fana dan apa yang mereka sebut sebagai ketidakhadiran.

“Alejandra Pizarnik. Cukup dengan menyebut namanya maka getaran-getaran puisi dan mitos menghambur ke udara bebas. Lirik dan juga tragedi dahsyat,” tulis kompatriotnya Luis Chitarroni. Serta apa yang dikatakan banyak orang tentangnya, mitos Pizarnik tumbuh tak terbendung, di antara para pembaca muda, yang mengingatkan dirinya kepada Lautreamont dan Artaud, yang melihat di dalam dirinya seorang penyair memasuki neraka yang jarang dikunjungi oleh puisi kontemporer berbahasa Spanyol.

Mitos tentangnya tumbuh di antara anak muda karena mereka menemukan semuanya sendiri (untuk penerbit saat ini sebenarnya tidak mudah untuk melakukan hal itu), bahwa ada suatu waktu dalam dunia sastra ketika seorang penulis adalah sosok yang diselimuti misteri: eksentrik, karakter yang rumit; manusia dari dunia liyan, tidak seperti penulis modern sekarang, yang kebanyakan mengaku sebagai orang biasa dengan rekening koran di bank, mengurus lektur dari birokrasi di kantor mereka.

Daya pikat Pizarnik, sebagai sosok yang diselubungi misteri dan kepribadian yang rumit, harus ditambahkan fakta bahwa, kata demi kata, dia “menulis tentang malam”, dan pembaca yang tertarik padanya akan menemukan bahwa tulisan nokturnal ini, yang memiliki risiko tinggi, lahir dari keinginan paling murni, sesuatu yang sangat sedikit terlihat dari penulis abad ke-20: lirik yang ekstrem dan tragedi.

Pizarnik menyukai seni dan angan-angan malam hari, perempuan bangsawan, sisi negatif dari suatu hal (“cakrawalaku sebagai maldoror dengan anjingnya”), kastil putih menakjubkan dari syair-syairnya, seni gabungan (yang mana, seperti yang telah kami katakan, membatasi untuk berkata puitis secara bertahap membawanya menuju keheningan dan bunuh diri yang sama), surealisme, pengabdian mendadaknya, puisi minimalisnya, puisi yang dia percaya pembaca harus menyelesaikannya, Arthur Rimbaud, gagasan memadamkan matahari untuk memulihkan kuasa malam yang kelam, amfetamin dan anti depresan, Lewis Carroll melalui gelas bening, gadis-gadis muda yang membuka dan menutup diri, ritme hewan, kekanak-kanakan (yang dibicarakan oleh Gombrowicz) sebagai kekuatan gelap, puisi-pantun Antonio Porchia, ekstraksi batu yang disebut kegilaan, seni Janis Joplin, yang membandingkan dirinya dalam baris berikut:

kau harus menangis hingga kau berhenti
untuk membuat dan menyanyikan sebuah lagu kecil,
berteriak lantang untuk mengisi lubang ketiadaan
itulah yang kau lakukan, dan kulakukan.

Kekanak-kanakan gelap dalam dirinya menghasilkan daya tarik yang memikat dan menakjubkan di jaman puisi personal yang membosankan ini, atau puisi lirik akademis. Alejandra Pizarnik lahir di Avallaneda, Argentina, putri dari imigran Rusia, sepak terjangnya di dunia sastra dimulai sejak ia masih sangat muda.

Pada 1955 di Buenos Aires, rumah penerbitan Botella al Mar menerbitkan koleksi pertamanya, The Most Foreign Country. Ia kerap mengatakan bahwa, seperti yang dilakukan penyair-penyair Romantis dan Antonin Artaud, karya dan hidupnya dibuat sebagai petualangan yang unik. Tapi hal ini masih bisa diperdebatkan dan juga menggiring orang-orang berkomentar dan mengatakan dirinya sebagai “orang ngelindur di tepi kabut” dan hal-hal konyol lainnya.

Dari 1960 dan 1964, ia sekolah di Paris, berkenalan dengan Octavio Paz dan Julio Cortazar, juga beberapa penulis Prancis seperti Andre Pieyre de Mandiargues, yang menulis kepada Pizarnik setelah bukunya terbit, yang menurut saya adalah buku-bukunya yang paling mengganggu tidur, Extractring The Stone Of Madness: “Saya jatuh cinta dengan puisi-puisimu: Saya senang sekali jika kamu membuatnya lebih banyak, supaya teror dan cinta menyebar di mana-mana.”

“Dia yang mati dengan gaun birunya sedang bernyanyi. Lagunya diliputi kematian dan dia bernyanyi di bawah sinar matahari dengan mabuknya. Dalam lagunya ada gaun biru, kuda putih, hati bertato hijau dengan gema dari hatinya yang telah mati,” bisa dibaca di “Nocturnal Singer,” puisi prosa dalam Extracting the Stone of Madness, puisi yang didedikasikan untuk Olga Orozco. Cinta dan teror serta tendensi akan keheningan, namun Pizarnik tetap bernyanyi.

Pizarnik Kembali ke Buenos Aires pada 1964, yang mana ia menulis mahakaryanya seperti A Musical Hell dalam waktu yang sama dengan beberapa momok mental yang muncul. Tahun yang dipenuhi bait-bait terapi psikis dan percobaan-percobaan frustratif terhadap bunuh diri dengan obat tidur babiturik, dan dengan insomnia akutnya yang selalu mejadi latar belakang, topeng malam dalam tempat sesat yang hanya ia ketahui: “Tak diundang kemana pun kecuali  di akhir.”

Edisi dari puisi lengkapnya, disunting oleh Ana Becciu, diterbitkan bersamaan semasa ia hidup, koleksi puisi anumertanya dikurasi dan dikumpulkan oleh Olga Orozco dan Ana Becciu sendiri dan diterbitkan di Argentina pada tahun 1982, sejumlah puisinya belum sempat diterbitkan. Jelas bahwa, seperti yang Cesar Aira ungkapkan, karya Pizarnik tidak lain merupakan pencarian subjek metamorfosa ke dalam puisi, digerakkan oleh sebuah spirit saintifik atas fakta-fakta itu sendiri. Itulah kenapa puisi-puisi yang belum dipublikasi yang terdapat pada Compelete Poetry memunculkan sebuah impresi bahwa Pizarnik ingin mendorong lebih kuat lagi subjektivitas tipuannya setepat-tepatnya. Saya katakan ini kepada siapa pun yang ingin menyimaknya: Ketika kita percaya kita akan melihat hidup dan karya menyatu dalam sosok seorang penulis, mari pertimbangkan bahwa hidup mereka sengaja dibuat keliru dan dibuat-buat hanya untuk mendukung karyanya, yang benar adanya.

Puisi anumertanya ditemukan di papan tulis studionya: “anak yang berdoa/mengamuk pada kabut/tertulis di aram-temaram/melawan gelap/aku ingin berjalan/kemana pun jika tak ada/ menuju kedalaman/o hidup/o bahasa/o Isidore.”

The Count Of Lautreamont adalah Isidore. Itulah yang terjadi jika bangsawan berengsek memegang kunci, ketika mahakaryanya dikunci selamanya, secara berkala membuka misteri dari semesta, yang akan meyakinkan gadis soliter ini abadi, penyair perempuan sunyi, kini tampaknya terhenti. Ia berdiri (menurut Gombrowicz). Dan ia tetap berdiri dalam diam seutuhnya dan definitif seolah-olah ia sedang terduduk diam. Seperti itulah hidup; seperti itulah Seconal menampakkan dirinya.

*Diterjemahkan dari Bahasa Spanyol oleh Rosalind Harvey.
**Esai ini pertama kali terbit dengan judul
“An Overdose of Seconal” di Majalah Music & Literature (17 Mei 2015)

Enrique Vila-Matas lahir di Barcelona, 31 Maret 1948. Ia merupakan salah seorang novelis Spanyol terbesar saat ini. Ia juga merupakan pendiri Knight of the Order of Finnegans, sebuah komunitas pecinta James Joyce.

Aryo Jakti Artakusuma

Aryo Jakti Artakusuma

Pegiat Komunitas Selepas Senja. Tinggal di Yogyakarta.

All stories by:Aryo Jakti Artakusuma