Merentang Ruang Nur Utami S.K

820 820 Muhammad Fasha Rouf

Ketika pertama kali mengenal tulisan, saya belajar untuk membaca aksara di sekitar saya. Bibir saya mengeja, hati-hati sekali. Saat itu, saya tak kepalang bahagia jika dapat menemukan dan membaca kata-kata baru.

Sayang, proses kerja masa kecil itu perlahan pudar. Padahal, untuk menjadi makhluk bijak, manusia mesti terus melakukan kerja itu. Alih-alih melupakan, seharusnya saya meningkatkan proses membaca selain kata-kata. Peristiwa dan makna-makna.

Saya tersadarkan pentingnya membaca hal-hal dekat dan seringkali dianggap remeh-temeh itu ketika tuntas membaca buku Berbagi Ruang. Kumpulan 49 esai karya Nur Utami S.K.

Membaca judul buku, melihat foto seorang perempuan menatap tajam pada laptop sambil menopang dagu di halaman sampul, saya mengira buku ini akan banyak membahas wacana feminisme. Peran perempuan masih banyak tersisih dalam “ruang” hidup kita. Saya duga, judul buku ini semacam gugatan bahwa ruang itu perlu dibagi. Perempuan mesti diberi.

Tebakan saya menguat ketika membaca daftar isinya. Utami membagi bukunya ke dalam empat bagian, “Beranda” (enam esai), “Ruang Tamu” (14 esai), “Kamar” (Sembilan esai), “Dapur” (20 esai). Empat sub-judul itu menjadi ruang yang—dalam kebudayaan kita—selalu identik dengan perempuan. Apalagi, bagian dapur memuat porsi tulisan lebih banyak.

Kadang, menebak isi buku seperti menebak isi kocokan dadu. Buku ini sama sekali tak menyesaki pembaca dengan isu gender. Utami memilih hadir sebagai perempuan lewat gaya menangkap berbagai peristiwa di sekitarnya. Ia tenggelam lalu meluapkan jadi tulisan. Rasa perempuan sebagai penulis sangat terasa. Intim, hangat, detail, dan kontemplatif.

Kata “ruang” dalam buku ini ternyata memiliki makna dan penekanan lain. “Tempat” dan “Ruang” bermakna. Utami sadar itu. “Tempat” diartikan hanya sebuah wujud fisik tanpa memori. Sedang “ruang” menghadirkan wacana yang melekat di dalam tempat tersebut, baik ingatan maupun penerawangan berkelebat.

Kesadaran menghadapi tempat bukan sekadar wujud fisiknya saja. Berpijak dari itu, Utami mengangkat persoalan kecil ke hadapan publik. Ia menghadirkan topik dari suatu sudut ruang penting. Lalu, mengolah dengan tafsir dan pemaknaan ulang.

Konsep di atas tergambar dari banyak tulisan saat Utami tulis di kedai kopi, tapi dalam wacana-wacana berlainan. Begitu pula saat ia menulis “Snack Time”. Gara-gara tulisan di sebuah sudut Bandara, tiba-tiba ingatannya menjelajah pada berbagai simbol masa kecil antara ia dan Ibu, antara kasih sayang dan perkembangan diri.

Baca juga:
Darah Muda: Problematik Pendidikan
Bukan Perawan Maria Paradoks Keagamaan

Gagasan cemerlang lain yang banyak muncul dalam buku ini adalah perbedaan persona “I” and “Me” dalam interaksionisme simbolik. Utami sadar betul dirinya terdiri dari berlapis-lapis identitas. Lapisan-lapisan itu selalu ia bongkar untuk jadi bahan renungan. Kadang, ia menertawakan diri sendiri saat menjadi “Me” di ruang publik atau melepaskan diri dengan jujur saat menjadi “I” di ruang personal.

Misalkan, saat ia mengakui sebagai dosen yang sering berkhotbah kepada mahasiswa untuk sering menulis. Di akhir tulisan, ia menertawakan diri sendiri karena jarang menulis. Peran ganda dalam berbagai ruang, sangat cermat ia racik jadi tulisan. Konsep ini apalagi sangat tampak dalam tulisannya “Citra Diri”.

Pendalaman kuat terhadap persoalan-persoalan di mana dan kapan ia harus menjadi “I” dan menjadi “Me” menghantarkannya pada sebuah spektrum lebih luas. Ia seringkali mengusik persoalan kesadaran kita untuk membedakan mana “ruang publik” dan “ruang privat”.

Ia banyak menggugat bagaimana orang-orang saling terasing saat bersama, kebanggaan diri di ruang publik, atau pudarnya ruang privat, terutama setelah hadir reformasi teknologi. Ia mengulik secara intens dan mendalam tema-tema itu dalam banyak tulisan.

Pembaca kelak dapat menemukan “Ruang Suara” tentang suara bisa menjadi polusi. Misalkan, ia tak nyaman ketika ada segerombol orang berbincang-bincang di dalam bioskop atau di dalam angkot.

Menarik saat Utami menulis “Media dan Massa”, membahas soal pengelolaan akun media sosial personal dan perusahaan. Menurutnya, dua akun tersebut memiliki tanggung jawab berbeda. Perusahaan pada akhirnya merangsek ke media sosial untuk mendapatkan reputasi, sementara akun diri pribadi kadang tak diperhatikan dengan teliti.

Teknologi dan globalisasi sering jadi latar belakang. Karena itu, kita sebagai manusia semakin kabur dalam memaknai ruang hidup kita sendiri. Kita sering rela menukarkan identitas kita dengan identitas lain (“Sendiri Bersama-sama”), mencampur-baur bahasa kita dengan asing (“Mewarnai Globalisasi”), hingga menelanjangi diri kita di hadapan media sosial lain (“Privasi vs Pribadi”).

Tampaknya, ketiga konsep “ruang” itu menjadi kekuatan besar esai-esai Utami. Esai-esai Utami seperti kudapan. Cocok dinikmati sambil santai, tapi gizinya tetap tercapai. Semua ide-ide ruang itu kebanyakan lahir dari satu energi bahwa ia merupakan ahli bahasa dan sastra. Bahasa bagi dirinya tak sekadar busa kata-kata tanpa makna, tapi mengandung konstruksi serta wacana  mendalam dan patut dicermati.

Upaya Utami dalam mendukung gagasan-gagasan itu ialah dengan hampir selalu memasukkan buku-buku referensi dan didominasi dalam bahasa Inggris. Hal itu dapat menjadi kekuatan. Pembaca akan merasa bahwa tulisan-tulisan ini tak hanya persoalan remah-remah tak penting. Meski begitu, Utami kurang berhasil dalam beberapa tulisannya.

Pertama, referensi justru seringkali mengeluarkan fokus pembaca dari rel ide awal. Alih-alih memperkuat arah jalan, justru referensi itu kadang mengaburkan lebih jauh. Pembaca bisa sulit kembali pada gagasan semula. Hal itu terlihat pada tulisannya berjudul “Matahari”. Ia menuliskan pentingnya teman dalam hidup, namun harus memutar lebih jauh dulu pada referensi “Reaching Out: Interpersonal Effectivness and Self-Actualization”.

Kedua, buku-buku referensi itu kadang membatasi Utami menghayati ruang personal. Saat saya membayangkan segelas teh dan makna-maknanya pada ingatan Utami, ia tiba-tiba memasukkan buku terkait ingatan jangka panjang dan ingatan jangka pendek. Padahal, dengan daya sensitivitas tinggi, saya yakin ia akan mampu mendalami dan membedah hal tersebut lebih tak terbatas. Akhirnya, kita akan asyik pada pergumulan nurani dan ingatan Utami belaka.

Namun, dua alasan itu teratasi ketika Utami memang benar-benar menulis terkait wacana publik, permasalahan sosial. Peristiwa pribadinya hanya jadi contoh kecil. Pembaca justru akan mendapatkan kecanggihannya menggali referensi dan menghadapkan itu pada persoalan nyata.[]

Identitas Buku
Judul Buku      : Berbagi Ruang (Kumpulan Esai)
Penulis             : Nur Utami S.K
Penerbit           : Frasa Media
Tahun Terbit   : 2017
ISBN                   : 978-602-73481-5-8
Tebal Buku     : 214 +xvi halaman

Muhammad Fasha Rouf

Redaktur Rubrik Resensi Buruan.co. Lahir di Cianjur. Peneliti partikelir.

All stories by:Muhammad Fasha Rouf
Leave a Reply

Muhammad Fasha Rouf

Redaktur Rubrik Resensi Buruan.co. Lahir di Cianjur. Peneliti partikelir.

All stories by:Muhammad Fasha Rouf
error: