Istirahatlah Kata-Kata: Tak Sepenuhnya Mengistirahatkan Kata-Kata

820 510 M. Aden Ma'ruf

Awal tahun 2017 kita bisa bertemu dengan sosok Wiji Thukul, sosok aktivis dan penyair yang hilang dan dirindukan. Kerinduan kepada Thukul yang vokal menyuarakan ketidakadilan pemerintah pada zamannya ini bisa terpenuhi dengan menonton film Istirahatlah Kata-kata.

Film biografi Wiji Thukul tersebut awalnya berjudul Solo, Solitude lalu berganti menjadi Istirahatlah Kata-kata. Sebelum jauh membahas film, ada hal menarik tentang pergantian judul tersebut.

Secara sederhana, sebuah judul merupakan pintu masuk sebuah karya. Jika melakukan penggantian judul, Yosep Anggi Noen sebagai sutradara sadar betul bahwa ada banyak hal harus dipertmbangkan. Satu yang penting yaitu judul baru tersebut haruslah mewakili isi cerita dalam film.

Lantas, tepatkah mengganti judul Solo, Solitude menjadi Istirahatlah Kata-kata?

Film tersebut menampilkan sisi lain seorang Wiji Thukul, yang diperankan oleh aktor Gunawan Maryanto, yang sedang bersembunyi dari kejaran pemerintah Orde Baru di Pontianak. Film tersebut lebih menampilkan kegelisahan dan ketakutan Thukul karena waktu itu ia bisa mati kapan saja dengan mudah. Sampai film berakhir, tidak ada tindakan mencolok dari tokoh yang kita cintai dan rindukan itu, selain memberikan sebotol tuak pada seseorang yang gila karena tidak bisa jadi tentara.

Judul awal Solo, Solitude mewakili peristiwa yang dialami Thukul. Diksi ‘solitude yang berarti kesunyian atau kesepian mewakili kondisi Thukul semasa bersembunyi dari kejaran pemerintah Orde Baru. Sedangkan diksi ‘solo bisa merujuk pada kota Solo dimana Thukul tinggal. Tapi, diksi tersebut lebih sesuai jika dimaknai melalui arti terjemahannya yaitu tunggal atau sendiri.

Solo, Solitude bisa mengantarkan kita pada isi film yang bercerita tentang seseorang yang berada dalam kesunyian dan kesepian. Lalu, bagaimana dengan judul Istirahatlah Kata-kata?

Judul Istirahatlah Kata-kata bukan arti dari proses penerjemahan judul sebelumnya. Judul tersebut merujuk pada satu puisi Wiji Thukul yang menggunakan judul yang sama. Puisi “Istirahatlah Kata-kata” merupakan seruan aku lirik kepada kata-kata untuk beristirahat agar nanti mereka bisa “menghimpun tuntutan-tuntutan”.

Terdapat kesamaan antara film dengan puisi Thukul tersebut. Diksi ‘istirahatlah’ pada judul film tersebut tidak merujuk pada makna negatif semisal kematian. Diksi tersebut juga bukan merupakan perintah untuk menghabiskan waktu istirahat dengan berleha-leha. Sedang, diksi ‘kata-kata’ bisa dimaknai sebagai representasi Thukul dan para aktivis lain.

Melihat jalan cerita dalam film tersebut, Istirahatlah kata-kata tidak hanya mewakili isi film, tapi juga kondisi para aktivis waktu itu. Judul tersebut tidak hanya berhasil mewakili isi film, tapi juga kondisi zaman itu.

Maka, Thukul yang dalam film memutuskan untuk bersembunyi di Pontianak bukan berarti pengecut. Tapi, itu menunjukan kecerdasan Thukul karena memilih untuk menyelamatkan diri.

Barangkali, waktu itu Thukul berpikir jika tidak bersembunyi, ia akan mati dan penggulingan rezim Soeharto tidak akan pernah terjadi.

Fase Perubahan Thukul dalam Film
Ketika film Istirahatlah Kata-kata menunjukan karakter Thukul yang berbeda seperti yang telah terbentuk dalam benak kita, wajar saja kecewa. Namun, jika kemudian kita tidak lagi menjadikan Thukul sebagai sosok yang disimbolkan sebagai seorang yang melawan penindasan dan membela rakyat kecil setelah menonton film ini, maka kita telah melakukan sesuatu yang keliru.

Dalam alur film yang berjalan linier, tidak sepenuhnya Thukul ketakutan menghadapi realitas yang memaksa dirinya untuk bersembunyi. Terdapat dua fase perubahan psikologis Thukul dalam film ini.

Pertama, Thukul yang ketakutan. Fase ini merupakan fase awal dalam film. Thukul yang baru tiba di Kalimantan dibalut ketakutan. Pikirannya merasa curiga dan selalu waspada. Beberapa adegan menunjukan itu, salah satunya yaitu ketika mengunjungi rumah Thomas dan Thukul bertanya apa ada pintu lain jika sewaktu-waktu harus lari.

Thukul juga mencoba menjaga kebiasaan dirinya semasa dirinya belum menjadi orang yang diburu. Tapi, ia tidak berhasil. “Dari tadi coba baca-caba sama nulis tapi tidak bisa,” ungkap Thukul.

Puncak kegelisahan Thukul adalah ketika bertemu dengan seorang tentara di tempat cukur rambut. Adegan tersebut merupakan satu dari sedikit adegan yang membuat jantung penonton berdebar cepat. Tapi, tidak ada tindakan lebih dari Thukul atau tentara tersebut. Kejadian berlanjut dan Thukul akhirnya punya gaya rambut baru.

Rambut baru, identitas baru sebagai Paul, dan hadirnya teman-teman di Pontianak merupakan jembatan Thukul memasuki fase selanjutnya. Setelah memiliki identitas baru, ketakutan-ketakutan Thukul mulai luntur. Thukul berani bepergian sendiri dan nongkrong di kedai kopi. Bahkan dalam salah satu adegan di kedai kopi, Thukul lantang bersuara dengan membacakan puisi kemerdekaan itu nasi dimakan jadi nasi. Puncak dari fase ini adalah kembalinya Thukul menemui Sipon, di Solo.

Meski pada bagian penutup Thukul seolah tidak kembali membawa air minum untuk Sipon sampai film berakhir, tapi tindakan itu tidak menunjukan bahwa Thukul menelantarkan keluarganya. Tidak kembalinya Thukul dalam adegan tersebut bisa saja untuk menggulingkan rezim Soeharto dua tahun sebelumnya. Tindakan tersebut juga sekaligus untuk mengakhiri penderitaan keluarganya.

Kata-kata Tidak Sepenuhnya Beristirahat
Thukul sebagai sebuah “kata” yang sedang beristirahat dengan melakukan pelarian, tidak benar-benar mengistirahatkan dirinya. Meski film lebih menunjukan gerak aktor dibanding dialog, tapi kita masih bisa menikmati kata-kata lewat bentuk lain.

Kata-kata hadir dalam bentuk puisi-puisi Thukul pada film tersebut. Hadirnya puisi-puisi tersebut tidak hanya tempelan, tapi juga memperkuat adegan yang terjadi pada film tersebut. Selain puisi “Istirahatlah Kata-kata” terdapat juga puisi “Para Penyair Adalah Petapa Agung” yang selain mengenalkan sosok Thukul, tapi kritik terhadap kondisi sosial zaman itu.

Bentuk lain dari hadirnya kata-kata yaitu dalam bentuk quotes. Dalam film Istirahatlah Kata-kata terdapat beberapa quotes di luar puisi-puisi Thukul. Salah satunya adalah dialog terakhir dalam film yang disampaikan Sipon, “Aku ga mau kamu datang, tapi aku juga ga mau kamu pergi. Aku cuma mau kamu ada.”

Terlepas dari benar atau tidak seluruh peristiwa film ini, kita tahu Thukul akan selalu ada. Sebagai sebuah film biografi yang mengampilkan sisi lain Thukul, film ini berhasil memberi pandangan lain tentang sosok Thukul. Film ini tidak menunjukan sikap pengecut seorang Thukul. Dan Istirahatlah kata-kata tidak sepenuhnya menghilangkan kata-kata.[]

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Redaktur Umum buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf
Leave a Reply

M. Aden Ma'ruf

M. Aden Ma'ruf

Redaktur Umum buruan.co. Menulis puisi dan cerpen. Hobi menonton film.

All stories by:M. Aden Ma'ruf
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.