Fb. In. Tw.

Ironi Aligator Merangkak Sajak

Pukul 15.30 terdengar pembacaan puisi di salah satu kios Kebun Seni tepatnya di Toco.Buruan.co. Satu-satunya toko buku di Kebun Seni, Jalan Tamansari No. 69, Bandung ini, terhitung rajin melaksanakan kegiatan setiap minggunya. Setelah sukses dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya, minggu (5/2/2017) giliran kumpulan puisi Aligator Merangkak Sajak karya Ujianto Sadewa yang dibahas oleh Faisal Syahreza dan Hasta Indriyana, dengan Muhammad Ma’ruf selaku moderator.

Diskusi ini diawali oleh Faisal Syahreza. Faisal membagi dalam tiga dekade perjalanan Ujianto yang mempengaruhi estetika puisinya.

“Dekade pertama, puisi Uji ini lebih dekat dengan alam. Seorang penulis itu bukan menciptakan kata-kata tapi kata-kata yang hadir itu adalah warisan. Warisan dari apa yang ia dapat. Nah, Uji dalam dekade ini sangat dipengaruhi oleh lingkungannya di Desa,” tukas Faisal.

Dekade pertama yang dimaksud Faisal adalah periode 1996 hingga 2000an. Pada periode ini Ujianto dalam puisinya memang sangat kental dengan alam. Dekade kedua yaitu periode 2000 hingga 2010 yang dianggap sebagai periode eksistensinya Uji. Eksis yang dimaksud merupakan ‘pameran’ bacaan yang mempengaruhi puisi-puisinya.

“Pada dekade kedua ini Uji seperti bereksperimen terhadap puisi-puisinya. Hasil bacaannya ia tuangkan terutama diksi biologi, motif dari puisinya itu lebih kepada kebiasaan manusia urban tapi terlihat seperti momen puitiknya Afrizal Malna,” lanjut Faisal

Pendapat Faisal Syahreza ini diamini juga oleh Hasta Indrayana. Bahkan Hasta berpendapat bahwa estetika Soni Farid Maulana juga hadir dalam dekade kedua ini.

“Saya sepakat dengan Faisal Syahreza kalau puisi Aligator Merangkak Sajak pada dekade kedua ini banyak dipengaruhi oleh Afrizal Malna serta bacaan-bacaan lainnya, bahkan menurut saya puisi-puisinya juga ada pengaruh dari Soni Farid Maulana.”

Dekade kedua menjadi yang paling eksperimen dalam antologi Aligator Merangkak Sajak. Diksi-diksi ilmiah—harus melihat kamus—seringkali muncul pada puisinya. Dekade ketiga menjadi periode baru bagi Ujianto. Menurut Faisal, Puisi-puisi periode 2010 hingga 2013 lebih bermain rima dan sangat dinikmati oleh pembaca. Sedangkan Hasta berpendapat bahwa komposisi puisinya sangat pas dan enak untuk dilihat.

Setelah pembahasan, diskusi tanya jawab berlangsung seru dengan hujan yang tiba datang lalu pergi. Pada diskusi ini dapat disimpulkan, bahwa puisi-puisi penyair memang tak pernah lepas dari apa yang sedang ia lakukan dan apa yang sedang dibaca. Yang menarik kedua pembahas bersepakat jika puisi pada antologi ini menawarkan ironi.

Adzan maghrib berkumandang bersamaan itu diskusi berakhir. Setelah adzan acara dilanjtukan dengan penampilan musik dari kelompok Kereta Angin Partikelir, Kedai Kopi Pahit, dan Metafisis 9 Knot, yang seluruhnya turut dipersoneli oleh Ujianto Sadewa. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama.[]

Post tags:

Lahir di Sukabumi, 26 Juli 1995. Bergiat sebagai ketua UKSK UPI dan Anggota ASAS UPI.

Comments
  • lukman a sya

    mantapp.

    10 Februari 2017

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register