Fb. In. Tw.

Garin Nugroho Ungkap Proses Pembuatan Film “Guru Bangsa Tjokroaminoto”

Sutradara Garin Nugroho membongkar seluk-beluk pembuatan film terbarunya Guru Bangsa Tjokroaminoto dalam sebuah diskusi di Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Kamis (16/4).

Diskusi bertajuk Proses Kreatif Film Guru Bangsa Tjokroaminoto tersebut merupakan salah satu acara penutup pada rangkaian kegiatan 30 Taoen Gambar Idoep Garin Nugroho yang diselenggarakan SSAS pada 2-16 April 2015.

Dalam diskusi berdurasi sekitar dua jam itu, Garin menuturkan bahwa dirinya memilih sosok Tjokro untuk diangkat dalam film karena pendiri Sarekat Islam (SI) tersebut tidak begitu populer di mata masyarakat. Selain itu, dalam diri Tjokro terkandung hal positif yang turut mewarnai sejarah negeri ini.

“Tjokro itu kan kurang populer. Kalau ngangkat yang sudah populer ya masyarakat pasti lebih tahu dari aku,” ujar Garin sambil tertawa. “Kenapa mesti Tjokro? Dalam dirinya ada keberanian untuk menghidupkan keberagaman,” lanjutnya.

Sosok Tjokroaminoto memang identik dengan keberagaman. Nama-nama besar seperti Soekarno, Semaoen, Muso, dan Kartosoewirdjo tercatat pernah bersentuhan langsung dengan Sang Guru Bangsa dalam hubungan guru-murid.

Garin lalu menyebutkan bahwa tujuan besarnya membuat film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah sebagai media pendidikan sejarah. “Sejarah Pribadi jarang sekali diungkap oleh Sejarah Formal. Film ini dimaksudkan untuk menunjukkan fragmen-fragmen yang tidak ditulis di buku-buku sejarah. Gagasan sejarah dalam film ini dapatlah dikatakan sebagai Sejarah Alternatif.”

Akhir-akhir ini Garin memang cenderung menggarap film dengan tema sejarah biografi atau sejarah alternatif. Sebelum Tjokroaminoto, sosok yang lebih dulu diangkat Garin dalam karyanya adalah Soegija, uskup pribumi pertama di wilayah Hindia Belanda.

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto menghabiskan dana sebesar 15 miliyar. Ketika ditanya apakah dengan uang sebesar itu Garin memperoleh untung, dengan ringan ia menjawab, “Ya rugilah. Uang 15 miliar buat bikin film kayak gini kok dibilang untung. Yang mau nonton emang siapa? Haha. Tapi inilah perbedaan seniman dengan pengusaha. Kalau seniman menghabiskan uang, padahal miskin. Kalau pengusaha ya menggandakan uang.”

Dalam menggarap film Tjokroaminoto, Garin berusaha menghadirkan seluruh kode budaya yang hidup sekitar tahun 1900-1920an. Hal itu mencakup latar alam, latar bangunan, cara berpakaian, bahasa ekspresi hingga bahasa tubuh. Untuk itulah beberapa peran diberikan pada mereka yang secara lahir-batin memiliki nilai-nilai Jawa.

“Di luar persoalan adanya hubungan darah dengan Tjokro, saya pilih Maia Estianty karena dia bisa akting dan nyanyi. Itu nilai plusnya. Selain itu, kehadiran Maia dan Tedjo (Sudjiwo Tedjo) dimaksudkan pula untuk menguatkan karakter Surabaya dalam film saya,” ujar Garin.

Mengangkat film-film biografis semacam Tjokro atau Soegija tentu bukan tanpa resiko. Garin menyadari, pro-kontra terhadap karya-karya demikian akan selalu ada. Bahkan untuk sosok Tjokro, Garin mengakui beberapa pihak meminta agar Tjokro ditampilkan sesuai keinginan mereka. “Kelompok ini ingin Tjokro begini, alasannya jelas. Kelompok itu ingin Tjokro begitu, alasannya juga jelas. Saya dengar saja semuanya. Keputusan akhir tetap saya yang ambil,” tuturnya.

Untuk menikmati film-film sejarah biografis, Garin menyarankan agar penonton larut pada logika film. Bukan pada logika sejarah. Artinya, meski didasarkan pada fakta sejarah, film biografis tetaplah sebuah film. Bukan sejarah. Ia adalah karya otonom yang berusaha menampilkan sisi-sisi penting dari sejarah panjang seseorang, versi sutradara. Dengan membiarkan logika film berjalan, kekecewaan penonton yang didasari pengetahuan atau harapan pribadinya akan suatu objek—dalam hal ini tokoh sejarah—akan sedikit teratasi.

Lepas dari persoalan untung-rugi, ada satu hal yang membuat Garin senang dan bangga akan karya terbarunya itu. Lagu “Internasionale” tidak disensor. “Inilah nilai penting film Tjokro. Dibiarkannya lagu komunis “Internasionale” didengar orang banyak di bioskop-bioskop merupakan sejarah besar dalam dunia perfilman Indonesia. Semacam proses rekonsiliasi dalam ruang lingkup yang kecil,” jelasnya.

Tak banyak sutradara yang memiliki keberanian dan idealisme seperti Garin Nugroho. Besar harapan, setelah film Guru Besar Tjokroaminoto diputar, bioskop akan lebih banyak memutar film-film bagus karya anak bangsa, yang tentunya mendidik sekaligus mencerahkan. Film-film semacam demikian akan menjadi hiburan penting di tengah gempuran film-film horor dan picisan.[]

Post tags:

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

You don't have permission to register