Diskusi Santai dan Akrab di Festamasio VII Bandung
Setelah Pementasan “Tanah (Bajuri Iling Kawin)” karya Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Kelompok Studi Seni Universitas Lampung (UKMF KSS UNILA) peserta Festival Teater Mahasiswa Nasional (Festamasio) VII Bandung di Gedung Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pembawa acara memberitahukan kepada penonton bahwa ada diskusi bersama kelompok teater kampus asal lampung tersebut.
Penonton beserta kontingen peserta Festamasio VII Bandung, dari Makassar, Malang, Serang, Banjarmasing dan kota lainnya, yang menyaksikan pementasan sangat antusias dengan ajakan pembawa acara. Diskusi bertempat di Lantai I Gedung Pusat Kegiatan Mahasiwa (PKM) UPI. Di sana para penonton beserta peserta duduk lesehan di atas lantai untuk mengikuti jalannya diskusi.
UKMF KSS UNILA yang merupakan penampil ketiga pada Festamasio VII Bandung hari Kamis (7/5/2015) kembali didaulat untuk duduk di hadapan para penonton yang ingin menyimak diskusi. Mulai dari Sutradara, Aktor, Penata Artistik, Penata Musik, Penata Lampu, dan kru lainnya dihadirkan untuk terlibat diskusi.

Suasana diskusi setelah pentas “Tanah (Bajuri Iling Kawin” UKMF KSS UNILA di Festamasio VII Bandung (8/5/2015). (Foto: Opet)
Diskusi dilangsungkan dalam suasana santai dan akrab. Bahkan pemilihan moderator yang menjadi penghubung antara audiens dengan UKMF KSS UNILA ditawarkan secara terbuka kepada audiens oleh Ketua Teater Lakon, Rendra Wicaksono. Arif Ambon, salah seorang dari audiens yang merupakan perwakilan dari Teater KAFE IDE Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), mengambil peran itu tanpa canggung.
Arif membuka diskusi dengan meminta kawan-kawan dari UKMF KSS UNILA memperkenalkan siapa-siapa saja yang terlibat dalam pementasan mereka. Sang sutradara Anida Masila memperkenalkan satu-persatu kawannya. Setiap nama, peran, dan tugas kawannya disebut oleh Anida, audiens menyambutnya dengan tepukan tangan.
Setelah itu, beberapa orang audiens menanggapi pementasan yang mereka lakukan. Ada yang sekadar mengucapkan selamat atas suksesnya penampilan mereka, ada yang menanyakan proses penciptaan naskah, ada yang menyampaikan kritik atas konsep garap, ada pula yang bahkan membahas unsur tradisi dalam pementasan yang mereka sajikan.
Setiap tanggapan dan pertanyaan itu dijawab satu-persatu oleh sutradara, penulis naskah (Anggraini Agfar), dan penata lainnya sesuai dengan konteks pertanyaan yang diajukan oleh audiens. Meskipun suasananya santai, diskusi berlangsung cukup serius.
Banyak hal bisa dipetik dari diskusi tersebut. Seperti pertanyaan mengenai proses keratif penciptaan naskah yang ditanyakan oleh Maruf Muhammad, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Arena Studi Apriasi Sastra (ASAS) UPI. Pertanyaan itu dijawab langsung oleh sang penulis naskah, yang menyatakan bahwa naskah itu ditulis dari realitas yang ada di kotanya, Lampung.
Anggraini yang juga menjadi aktor, menyampaikan pula soal tradisi yang sangat kuat di Lampung mengenai pernikahan, bahwa pantang bagi seorang perempuan Lampung untuk bercerai. Di samping itu, mereka juga menceritakan proses garap teater yang dilakukan selama hampir lima bulan.
Pementasan “Tanah (Bajuri Iling Kawin)” memang menyuguhkan tema poligami dengan latar cerita daerah Lampung. Dalam pementasan diceritakan seorang tokoh bernama Bajuri, seorang tuan tanah yang melakukan poligami. Ia sampai memiliki tiga istri. Namun, kemudian ia ditinggal dua istrinya karena bangkrut, tidak kaya dan tidak punya tanah lagi. Hanya istri pertamanya, yang berdarah asli Lampung, yang mau menerimanya kembali.
Diskusi setelah pentas ini bukan yang pertama dilakukan di Festamasio VII Bandung. Setiap satu kelompok teater selesai pentas, mereka akan melakukan diskusi dengan para audiens. Diskusi seperti ini sangat menarik. Selain dapat berfungsi sebagai otokritik bagi peserta yang baru tampil, juga dapat menjadi masukan bagi audiens atau kelompok teater lain yang hadir pada saat diskusi.
Bagi kawan-kawan yang penasaran dengan diskusi Festamasio VII Bandung, masih ada tiga pementasan lagi pada Jumat (8/5/2015) dari Teater Kampus Universitas Hasanudin, Bengkel Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Teater Kampus FSD UNM. Pementasan pertama dimulai pukul 10.01 WIB. []

