Bervakansi Buku di Bandung

820 820 Zulfa Nasrulloh

Tak diragukan lagi, Bandung memang kota wisata. Selalu saja ada wana wisata baru yang menarik untuk dikunjungi. Dari mulai kuliner yang memanjakan lidah, hingga tempat-tempat cantik yang memberi rasa penasaran bagi pengunjungnya. Maka tidak heran, jika setiap akhir pekan, kota ini selalu ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.

Dampak paling sering dirasakan kota ini adalah kemacetan. Kota yang katanya sejuk ini pada beberapa titik vitalnya jadi bising dan pengap polusi. Begitu pun suasana yang terjadi di sekitar Museum Kota Bandung pada hari Sabtu, 28 April 2019. Pada akhir pekan yang sibuk itu, para pegiat sastra dan buku berkumpul dan bervakansi bersama, mencari jeda dan inspirasi di tengah kebisingan kota.

Kegiatan yang diinisiasi oleh MACA Program dan Penerbit Buruan & Co ini diberi nama Vakansi Buku Bandung. Vakansi berarti liburan. Harapannya kegiatan yang akan dilakukan setahun sekali ini dapat jadi wisata kreatif sekaligus edukatif baru di Kota Bandung khususnya terkait perbukuan. Menularkan semangat, bahwa buku merupakan tempat bervakansi yang menyenangkan.

Pada gelarannya yang pertama, acara ini diberi tajuk “Munggahan Sastra”. Munggahan merupakan tradisi masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Masyarakat biasanya menggelar acara makan bersama dan bersilaturahim bersama keluarga. Kegiatan perdana ini pun diharapkan memiliki semangat yang sama, semangat berbagi gagasan dan pengalaman di bidang literasi, khususnya sastra.

Sastra menjadi arena rekreasi yang dihadirkan dalam Vakansi Buku Bandung #1. Kegiatan ini menyajikan enam buku sastra untuk dijelajahi dalam diskusi santai. Diskusi dibagi menjadi dua sesi dan pada tiap sesinya dibahas tiga buku oleh pembahas-pembahas  yang menarik. Hadir pula penulis buku mengutarakan proses kreatif mereka dalam dunia sastra.


Dari Ingatan ke Pakistan
Dimoderatori oleh Adhimas Prasetyo, sesi pertama dimulai dengan pembahasan buku Tentang Ingatan karya Lovely Lily oleh Evi Sri Rezeki. Evi membahas bagaimana manusia menyimpan pengalaman hidupnya sebagai ingatan. Sepanjang membaca puisi Lily, Evi menemukan banyak tema kesedihan dan kesunyian yang bersitegang antara keinginan mengingat atau melupakan. Puisi Lily merupakan pengkhianatan terhadap melupakan. Evi sepakat pada teori memori jangka panjang Richard Atikson dan Richard Shiffrin bahwa manusia memilih memori hidupnya secara emosional dan mendebatnya dalam suatu monolog yang tak berkesudahan. Lily melakukan itu di dalam puisinya. Ia seolah ingin melupakan banyak hal padahal sebenarnya ia tengah mengekalkan ingatan-ingatan tersebut.

Giovanny Dessy Austriningrum membahas buku Risalah Mainan karya Wida Waridah. Gio melihat banyak hal menarik dari karya Wida, terutama puisi yang mengangkat tema perjalanan. Gio memaparkan bahwa perjalanan sejak dulu selalu diidentikan dengan kaum lelaki. Dulu perempuan tabu berada pada pergaulan semacam itu. Dunia luar adalah dunia terbatas bagi perempuan. Dunia perempuan selalu diidentikkan dengan dunia domestik dan personal. Padalah dikotomi dunia personal dan universal di dalam karya yang ditulis oleh perempuan, adalah buah dari hegemoni kekuasaan patriarki. Gio sepakat, seperti yang dihadirkan oleh puisi Wida, dunia personal merupakan dunia universal itu sendiri. Kita mesti memandang sudut pandang perempuan tidak dalam dikotomi tersebut.

Pembicara terakhir dalam sesi pertama ini adalah Zulkifli Songyanan yang membahas buku puisi Kenduri Waktu karya Lukman A Sya. Zulkifli memaparkan keberhasilan Lukman dalam memasukan bahasa daerah dalam hal ini bahasa Sunda ke dalam puisi-puisinya. Seperti pada puisi berjudul Soang, Lukman tidak menggunakan diksi “angsa” yang terkesan mewah dan anggun. Ia menggunakan diksi “soang” yang dalam bahasa Sunda terkesan hewan ternak biasa. Lukman menunjukan perbedaan rasa bahasa itu sebagai warna makna baru atas “angsa”. Keberanian berekplorasi dalam bahasa, menjadikan puisi-puisi di dalam buku Kenduri Waktu kaya akan bentuk dan tema. Namun Zulkifli menekankan penilaian baiknya pada beberapa puisi Lukman yang bernafaskan sufistik.

Diskusi buku sesi kedua, menghadirkan dua kumpulan puisi dan satu prosa terjemahan. Dipandu oleh Santrosky Shy, diskusi itu berlangsung pada sore hari. Pembahas pertama yakni Marsten L. Tarigan mengkritik buku Mereka Terus Bergegas karya Bode Riswandi. Marsten melihat bagaimana Bode terutama pada puisi Tentang Waktu terlalu tertib dalam mengolah bunyi. Seperti ada kesengajaan yang tak berhasil menguatkan fungsi bunyi itu sendiri. Puisi berima akhir sama yang serupa syair itu, dipandang Marsten terlalu robotik dan sistematis. Marsten juga memandang Bode telah mengangkat narasi sejarah di dalam puisinya seperti seseorang yang mengarsipkan masa lalu. Meski kerja pengarsipan dipandang penting, namun puisi mestinya mampu memberi  warna lain pada sejarah tersebut.

Pembicara kedua yakni Dian Hardiana membahas buku puisi Ritus Waktu karya M. Arfani Budiman. Dian melihat suatu konsistensi puitik dari Arfani Budiman. Puisi Arfani selalu berkutat pada tema-tema yang sederhana dan cenderung personal. Bagi Dian, persoalan personal adalah persoalan yang paling universal. Kejujuran dalam mengungkapkan persoalan personal itu bisa dibaca pada karya-karya Arfani. Saat berbicara tentang perasaannya, metafora-metafora sederhana dihasilkan Arfani melalui penginderaan pada lingkungan sekitar. Perkembangan yang paling terlihat dari karya terbarunya ini adalah bentuk puisinya. Arfani melakukan eksplorasi pemenggalan kalimat (enjambment), sehingga tercipta suatu nada baru, tekanan tekanan makna baru, dari tuturan puisi yang biasa digunakannya.

Selanjutnya pembahasan beralih pada buku ketiga, yakni novel terjemahan Kereta Api dari Pakistan karya Kushwant Singh. Tampil membahas buku itu penerjemahnya sendiri Stanley Khu. Stanley bicara banyak tentang ketertarikannya menerjemahkan banyak karya sastra India yang dinilainya masih kurang di Indonesia. Padahal di dalam khazanah prosa India, terdapat banyak persoalan yang sangat relevan dibaca masyarakat Indonesia. Pada buku Kereta Api dari Pakistan, Stanley melihat bagaimana konflik agama menjadi latar persoalan yang memikat di dalam novel tersebut.

Di sela-sela diskusi, beberapa komunitas seperti ASAS UPI, Komunitas Celah Celah Langit, Pecandu Sastra, Pecandu Buku, dan Warung Sastra Cianjur, membacakan karya-karya puisi yang dibahas. Kegiatan ini pun diramaikan oleh lapakan buku dan cinderamata dari berbagai penerbit dan penjual buku alternatif seperti TOCO, Ultimus, Lawang Buku, Kartasis Book, Munisipal Books, Jaringan Buku Alternatif, Mimamsa, Sanggare, dan Buku Mahal. Banyak pengunjung datang, berbelanja buku dan mengikuti setiap rangkaian kegiatan ini dengan antusias.

Sebagaimana tujuannya kegiatan ini membawa pengunjung pada penjelajahan narasi dan gagasan dari banyak karya sastra. Kegiatan yang berlangsung hingga malam ini ditutup dengan penampilan dua grup musik folk dan satu grup music rock yang selalu menjadikan puisi sebagai inspirasi karya mereka.

Bob Anwar dengan iringan harmonika dan perkusi sendoknya membuka sesi musik ini dengan atraktif, naratif, dan menyenangkan. Mereka memusikalisasikan puisi-puisi seperti “Seekor Burung Bisu” karya Frischa Aswarini, “Foto” karya Anis Syaidah, dan “Pagi di Jakarta” karya Yopi Setia Umbara. Dilanjutkan oleh Lain yang mengubah suasana jadi lebih sendu melalui iringan cello dan violinnya. Kegiatan Vakansi Buku Bandung ditutup oleh musik yang menggebu dari Kapak Ibrahim. Atraksi drum dan gitar listrik memberi warna pada musikalisasi puisinya. Kita dibawa pada tema-tema kebersamaan seperti pada lagu “Egaliter” dan puisi “Aku” karya Chairil Anwar pun jadi makin terasa vitalitasnya.[]

Zulfa Nasrulloh

Zulfa Nasrulloh

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

All stories by:Zulfa Nasrulloh
Leave a Reply

Zulfa Nasrulloh

Zulfa Nasrulloh

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

All stories by:Zulfa Nasrulloh
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.