Apakah Ada Hidden Message dalam Film Lucy?

702 336 Anka Wijaya

Seorang kawan pernah meminta pendapat saya tentang sebuah film yang berjudul Lucy. Kawan saya itu, sangat excited terhadap film yang telah ditontonnya itu. Seolah-olah telah menemukan pencerahan baru dalam pustaka pengetahuannya.

Saya sendiri waktu itu tidak bisa memberikan pendapat secara gamblang, karena belum pernah menonton film tersebut. Pengetahuan saya hanya terbatas pada triller filmnya saja. Dan berdasarkan cuplikan film tersebut, saya memberikan pernyataan yang seadanya saja.

Walaupun begitu, saya merasa senang sekaligus merasa ganjil saat melihat triller film tersebut. Hal ini membuat saya merasa penasaran dan ingin tahu isi film tersebut secara lengkap. Akibat pertanyaan kawan saya itu, kepenasaran saya mencapai klimaksnya. Pada akhirnya, saya pun menonton film tersebut sampai selesai.

Ketika melihat triller film Lucy (diperankan Scarlett Johansson), saya sangat gembira karena dunia barat seolah-olah mulai menerima pengetahuan marjinal yang tidak diterima di dunia saintifik mainstream yang atheistik, dan bersandar pada teori evolusi Darwin. Adalah sebuah langkah besar ketika dunia barat mau menerima eksistensi potensi energi dalam manusia.

Dalam pandangan dari seorang ilmuwan, disebutkan bahwa manusia baru bisa menggunakan 10% dari potensi otaknya. Sedangkan 90% potensi otak manusia diyakini belum terpakai. Itu berarti bahwa potensi otak manusia belum bisa dimaksimalkan. Apabila seluruh potensi otak manusia bisa dimaksimalkan, maka diyakini potensi manusia untuk menjadi manusia yang super menjadi besar kemungkinan kenyataannya.

Keyakinan ini pun selama ini hanya diyakini oleh orang-orang yang mendalami dunia mistik/ metafisika dan tenaga dalam saja, seperti perguruan silat Hikmatul Iman. Dunia saintifik yang atheistik, selama ini selalu menolak keras keberadaan potensi manusia ini. Jadi, sebuah kejutan besar ketika dunia barat, khususnya kelompok masyarakat perfilman Hollywood yang atheistik dan Darwinistik, mau membuka ruang pada pengetahuan seperti ini.

Namun memang, walaupun saya merasa gembira, saya juga sedikit menyimpan kecurigaan terhadap film ini. Dari judul film, Lucy, pikiran saya langsung tertuju pada dua sosok yang selama ini saya lihat sebagai ikon yang terus-menerus membelokkan pikiran manusia dari kebenaran. Sesaat setelah membaca judul film, bayangan Lucifer muncul dalam benak saya. Sedangkan lucifer adalah ikon dari dunia kegelapan.

Selain lucifer, bayangan mahluk purba yang dipropagandakan sebagai leluhur manusia pun turut muncul dalam pikiran saya. Di dunia paleontologi, Lucy adalah nama fosil kera yang usianya mungkin sekitar 10 juta tahun. Lucy adalah ikon dari teori evolusi Darwin. Ada hubungan apa antara kemampuan 100% otak manusia dengan kedua sosok ini? Apakah ada hidden message” yang ingin disampaikan dalam film ini?

Ketika menonton film Lucy, kecurigaan saya pun dapat terbukti benar. Film ini adalah propaganda dari sebuah agama kuno, yakni atheisme dengan ajaran dan dogmanya yaitu evolusi Darwin. Di setengah jam awal film, penonton digiring kepada pemahaman bahwa manusia adalah keturunan kera yang bernama Lucy. Sosok rekaan manusia purba yang masih kera bernama Lucy ini pun dimunculkan dalam adegan sedang minum di sungai.

Di scene lain, dalam sebuah ceramah saintifik, Morgan Freeman yang berperan sebagai ilmuwan menyatakan bahwa alam semesta dan kehidupan hadir akibat ketidaksengajaan. Kapasitas otak manusia pun dinyatakan sebagai sebuah evolusi dari penggunaan yang lebih minim oleh mahluk-mahluk yang lebih rendah sebelum manusia. Pemahaman seperti ini hanya dimiliki oleh agama atheis.

Lalu mengapa atheisme dengan dogma evolusi Darwinnya, memaksakan diri untuk memasukan kemampuan manusia super (100% otak manusia aktif), ke dalam ajarannya? Padahal selama ini masyarakat saintifik yang atheistik dan berpegang teguh pada dogma evolusi Darwin menolak mentah-mentah akan kehebatan potensi otak dan energi manusia. Bukankah bagi mereka, manusia super hanya ada dalam fantasi manusia saja?

Saat ini evolusi Darwin sebagai ujung tombak dari agama atheis sedang babak belur oleh temuan -temuan baru di dunia saintifik yang memiliki fakta berseberangan. Hampir di segala disiplin ilmu, temuan-temuan saintifik yang diharapkan semakin memperkuat teori evolusi Darwin, malah semakin memperlemah. Tak ada satupun temuan yang semakin menguatkan teori evolusi Darwin. Jikapun ada, masih dalam perdebatan yang sangat sengit.

Oleh karena itu, dibutuhkan teori dan fakta ilmiah baru yang setidaknya bisa dipropagandakan sebagai bukti adanya evolusi. Bila menggunakan perangkat dan temuan kuno seperti fosil, agama atheis sudah sangat sulit untuk memenangkan propaganda. Karena bukti-bukti yang ada lebih memperlihatkan fakta sebaliknya…

Bersambung ke Apakah Ada Hidden Message dalam Film Lucy? (2)

Anka Wijaya

Kontributor tetap buruan.co. Senang mengamati isu-isu sains. Tinggal di Cimahi.

All stories by:Anka Wijaya
5 comments
Leave a Reply

Anka Wijaya

Kontributor tetap buruan.co. Senang mengamati isu-isu sains. Tinggal di Cimahi.

All stories by:Anka Wijaya
error: