Fb. In. Tw.

Aligator Penyair Ujianto Sadewa

“Jika manusia melupakan puisi, mereka akan melupakan diri mereka.” –Oktavio Paz

Apabila saya seekor aligator, apakah saya mau menulis puisi? Puisi hanya milik manusia, lahir dari imajinasi manusia, dari daya pikir dan daya membayangkan: kenangan, perasaan, peristiwa dan benda-benda. Hingga muncul citra atau gambar di dalam pikiran, kemudian gambar tersebut berubah menjadi suara, suara yang bukan suara pada umumnya kita dengar saat seseorang mengucapkan basa-basi, mencurahkan rasa marah, rintih atau sedih. Kata Oktavio Paz, puisi merupakan suara lain, suara seseorang dan suara setiap orang.

Apabila saya terlahir sebagai seekor aligator, apakah saya akan menamai tempat saya tinggal sebagai rumah, akan tahu bahwa Desember merupakan bulan terakhir pada sistem penanggalan kalender masehi yang selalui ditandai hujan dan angin yang berembus dingin, mengagumi senja sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, bisa mengutuk eksploitasi terhadap alam, bisa menulis tentang jalanan lengang dan  terminal yang ramai. Apa yang rasakan oleh manusia dirasakan juga oleh seseorang yang menulis puisi, akan tetapi semua itu tentu akan menjadi lain saat dituliskan oleh seorang penyair.

Salah seorang penyair yang menulis mengenai itu semua adalah penyair Ujianto Sadewa, ada 73 puisi yang ia tulis mengenai segala sesuatu yang biasa manusia lihat dan rasakan, puisi-puisi yang kemudian ia bukukan dalam sebuah antologi berjudul Aligator Merangkak Sajak. Ia menulis segala sesuatu yang telah umum tersebut, misalnya terminal, jalan, hujan, dengan cara berbeda, dengan cara lain. Kita simak satu puisi di dalam buku puisi Aligator Merangkak Sajak yang ditulis penyair Ujianto Sadewa berikut ini:

SEPANJANG JALAN SUCI

Melulu keringat yang keluar dari jangat
jalanan kota yang terus melebar dengan trotoar terbongkar
tiang-tiang listrik berkarat dan mahoni yang sekarat
hidup yang mesti terus dikayuh
oleh peluh yang melepuh

bukankah tadi kau lihat juga
akar-akar pohon menganga
seonggok gelondong-gelondong mati
berlubang di tepi jalan
adalah saksi yang akan melapor pada-nya:

“mereka telah menghabiskan sumber hidup
dan mencoba mengekalkan apa-apa yang tidak kekal!”

2005

Selain bertutur mengenai jalan, di dalam antologi puisi Aligator Merangkak Sajak, Ujianto Sadewa menulis hujan, senja, kendaraan, rumah, angin, terminal, Desember… segala sesuatu yang dirasakan juga oleh segenap umat manusia dan coba Ujianto Sadewa kekalkan. Apabila saya seekor aligator, tentu saya tidak mungkin bisa berjalan ke terminal, naik kendaraan dan menulis segala sesuatu yang saya lihat dan saya rasakan sepanjang perjalanan.

Aligator dalam puisi Ujianto Sadewa adalah aligator yang lain, seseorang yang terus menerus tinggal di antara derai hujan, kemacetan, banjir, gemar bersepeda, jalan-jalan, minum kopi, ia merangkak sebagaimana orang kota merangkak: menghayati beton, wastafel, airmata, sekolah, kenangan.

Di antara orang banyak di Indonesia ini, sangat sedikit orang yang mau baca buku, lebih sedikit lagi orang yang mau menulis puisi. Apabila saya, atau Ujianto Sadewa sejenis aligator, lalu menulis puisi, saya, juga Ujianto Sadewa tentunya jenis yang langka dan aneh.

Puisi tak mengambil tempat dalam ruang, puisi dibuat dari kata-kata, manusia bisa berkata-kata dan bisa menuturkan segala sesuatu dengan indah, dengan berbeda.[] Sukabumi, Desember 2016

Data buku
Judul buku: Aligator Merangkak Sajak
Penulis: Ujianto Sadewa
Penerbit: asasupi
Cetakan ke: 1, Oktober 2016
Jumlah Halaman: 92 Hlm.
ISBN: 978-6027-3768-7-8

 

Post tags:

Penyair. Tinggal di Sukabumi.

You don't have permission to register