Fb. In. Tw.

Kritik untuk Monolog Tan Malaka

Monolog Tan Malaka “Saya Rusa Berbulu Merah” adalah kritik. Tulisan ini akan membedah seberapa berhasil monolog itu mengkritik publik dan penonton pertunjukan. Tentang bagaimana menjelaskan sejarah dan menghadirkan kecamuk personal seorang Tan Malaka. Bagaimana menjelaskan pada penonton dan publik bahwa kemerdekaan kita dibangun dengan ruh revolusi yang tidak 100 persen.

Belum dimulai, Front Pembela Islam (FPI) menghadang pertunjukan ini. Sehingga di hari pertama monolog itu akan digelar Rabu (23/3/2016), FPI membubarkan para penonton di Institut Francais D’Indonesie (IFI) Bandung dan meminta pementasan dibatalkan. Akhirnya dengan berat, penuh pertimbangan, dan dukungan dari berbagai pihak, pementasan diundur keesokan harinya pada hari Kamis (24/3/2016).

Kenapa FPI tidak partisipatif saat itu? Dengan sangat jelas, Tan berkata di dalam monolognya, bahwa segalanya hanya persoalan politik dan ideologi yang berbeda. Bagi Tan, politik adalah lelucon. “Kemerdekaan politik, tanpa kemerdekaan ekonomi adalah lelucon yang sangat menyedihkan!” teriaknya lantang. Barangkali kalimat itu adalah inti dari apa yang ingin disampaikan monolog ini, yakni kemerdekaan ekonomi atau kedaulatan ekonomi sebagai ruh revolusi yang sebenarnya.

Persoalan kemudian di dalam monolog itu adalah adanya “Para Pesohor” Republik yang memilih diplomasi sebagai cara mempertahankan kemerdekaan. Sebagaimana kita tahu, Indonesia pasca kemerdekaan ditentukan nasibnya oleh perundingan-perundingan seperti Linggarjati, Renville, Roem-Royen, dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Strategi diplomasi menjadi jalan di tengah agresi militer dari sekutu (NICCA) dan Belanda. Tan tidak bersepakat dengan hal tersebut.

“Bagaimana kita bisa berdiplomasi dengan orang saat kepala kita tertunduk, bagaimana kita bisa berunding dan bermufakat dengan maling di dalam rumah.” Monolog tersebut diucapkan dengan lantang oleh Joind Bayuwinanda, aktor yang perawakan dan garis wajahnya mirip Tan Malaka. Pilihan casting yang menarik.

Pertanyaan kemudian, bagaimana monolog ini berhasil menghadirkan Tan Malaka dengan segala gagasannya?

Seorang teman yang juga merupakan Direktur Mainteater, penyelenggara monolog tersebut, petang itu Sahlan Mujtaba berkata pada saya, “Baru datang? Padahal tadi (yang dimaksud adalah sebelum sesi pertama/sore harinya) teater yang sebenarnya terjadi di luar (menunjuk luar gedung IFI)”. Kalimat itu mengilhami saya untuk membahas monolog ini. Saya paham maksud kalimat itu, bahwa hubungan antara pertunjukan dengan yang terjadi di luar gedung IFI Bandung (penjagaan ketat pertunjukan oleh Polisi) adalah relasi yang penting dalam pertunjukan ini, yakni teater yang mampu memberi dampak dan kesadaran sosial.

Di luar pertunjukan, pementasan tersebut memang berhasil menyita perhatian publik. Dimulai dengan reservasi penonton yang penuh hingga trending topik di media Twitter musabab larangan FPI. Lebih menakjubkan lagi adalah saat pelaksanaan, dua truk penuh polisi menjaga pertunjukan tersebut hingga IFI mencuri perhatian masyarakat. Peristiwa kebudayaan semacam ini berhasil menjadi ruang reflektif dan menciptakan pernyataan betapa kebebasan berekspresi masih sulit di negeri ini. Lantas bagaimana yang terjadi di dalam gedung pertunjukan, apakah aktor dan kerja instrumen pertunjukan mampu membawa penonton pada kondisi reflektif semacam itu?

Saya menikmati pertunjukan tersebut pada sesi pertunjukan kedua. Cukup lama saya melihat tampilan visual panggung arena berbentuk persegi. Yang menarik adalah panggung yang didominasi oleh bangun dasar dan garis. Meja dan kursi berbentuk kubus, benang-benang merah berderet simetris di sisi panggung, juga di salah satu sudutnya.

Benang-benang tersebut menampilkan efeknya saat disorot oleh cahaya, seolah memperpanjang imajinasi penonton saat aktor mendekati benang-benang tersebut. Benang tersebut menjadi dinding, menjadi semangat, dan terkadang menjadi keberangan Tan Malaka. Bagi saya benang itu berhasil membangun pertunjukan, sebab secara ilusif mampu memunculkan pengertian garis sebagai ciri, cikal bakal, bentukan, atau penegas sesuatu.

Cerita dimulai dengan Tan yang berkenalan. Perkenalannya cukup membosankan. Bukan hanya karena persoalan teknis semisal suaranya yang pelan dan kondensor yang tidak berfungsi, tapi juga teks yang saya kira bermasalah. Awalnya, teks monolog karya Ahda Imran tersebut menghadirkan ungkapan-ungkapan metaforis, seperti mengajak penonton untuk masuk dan berempati pada penderitaan psikologis Tan dengan pengakuannya sebagai Rusa Berbulu Merah. Belum larut kami pada metafor itu, monolog beralih pada tanggal-tanggal dan peristiwa-peristiwa yang terlalu cepat berganti. Seperti memaksakan kronologi sejarah ke dalam cerita.

Akhirnya Rusa Berbulu Merah sebagai konotasi yang menandai kedalaman psikologis Tan Malaka terseret denotasi-denotasi sejarah yang kaku. Penonton tidak dibawa masuk pada wilayah pergulatan emotif yang mengenal Tan sebagai manusia. Penonton terlalu diporsir untuk mengenal Tan Malaka sebagai sejarah. Mungkin hal ini tidak dibangun oleh aktor. Sebab aktor nampak kebingungan dengan fakta-fakta sejarah yang terlontar dari mulutnya, yang seolah tak senada dengan gestur yang harus ia lakukan.

Saya benar-benar mempertanyakan upaya Wawan Sofwan sebagai sutradara menciptakan adegan Tan dengan gerak-gerik penuh kecurigaan (gerak leher yang tengok kanan-kiri) seperti mengintai sesuatu. Sementara teks yang diujarkan aktor masih berkutat pada data-data sejarah. Apakah ingin membangun impresi rahasia dari fakta-fakta sejarah tersebut? Atau aktor bermaksud menghidupkan fungsi ruang?

Tan dalam monolog ini sebenarnya ada di mana? Kesimpulan saya saat itu adalah, Tan berada di sebuah ruang persembunyian. Lalu ruang itu didefamiliarisasi. Jarak dari satu kursi ke kursi lain berubah menjadi jarak gerilya Tan dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang jarak antara kursi yang satu dan kursi yang lain diberi visualisasi sejarah oleh proyektor di atasnya, yang jujur saja tidak begitu jelas. Sutradara tidak mempertimbangkan jangkauan pandang penonton (persoalan tempat yang belum tersiasati).

Berbagai peristiwa diceritakan dengan visualisasi yang tak jelas. Di antara semua peristiwa, yang paling berhasil adalah peristiwa rapat besar di Lapangan Ikada. Sebab dibangun tidak hanya oleh visualisasi, tetapi juga oleh musik berupa bunyi drum yang menggambarkan gelora semangat dan nyanyian “Darah Rakyat” yang membahana. Peristiwa itu dibangun sebagai harapan-harapan Tan pada Soekarno dalam menghadapi rakyat dengan semangat revolusi, menginginkan presiden mengajak rakyat melawan penjajah (saat itu Jepang yang tidak menerima kemerdekaan RI). Tapi rupanya tempo suasana dibuat kandas karena Soekarno meminta gelora rakyat itu pulang, bubar dan meminta percaya pada Para Pesohor dengan jalan diplomasi. Saat itu, Tan mengerti, garis perjuangannya berbeda dengan Para Pesohor. Saat itu pula ia lebih memilih berjuang bersama barisan rakyat.

Kronologi tersebut menempatkan tokoh Para Pesohor sebagai antagonis. Saya selalu melihat pertunjukan dari konflik yang dibangun oleh kehadiran antagonis di dalam cerita. Antagonis adalah yang menjadi penghalang tokoh utama untuk mencapai tujuannya. Saya mencatat beberapa faktor penentang itu diantaranya: sejarah, Para Pesohor, imperialisme (negara-negara imperial), Jepang, dan kapitalisme, juga sedikit tentang romantika personal Tan.

Ahda Imran menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang tak pernah sepaham dengan Tan Malaka. Ketaksepahaman ini dimunculkan sebab sejarah tak mencatat Tan dalam panggung pergerakan kemerdekaan. Para Pesohor adalah relasi antagonis yang paling kuat, dimana Tan benar-benar merasa mereka tak menjalankan kerja revolusi yang sesungguhnya. Terutama saat Tan harus ditangkap atas syarat sekutu ingin melakukan perjanjian dengan Republik. Sekutu yang terdiri dari negara-negara imperial ini, dilihat Tan akan melangsungkan kolonialisme dengan metode kapitalistiknya.

Garis merah dari cerita yang dibangun oleh pertentangan-pertentangan itu dihadirkan dalam struktur sejarah yang kronologis. Terkesan hanya memaparkan sejarah. Seperti meminta penonton untuk merasakan impresi keterasingan dan penyesalan Tan pada Para Pesohor yang membawa revolusi Republik. Untuk melacak Rusa Berbulu Merah sebagai metafor kita membutuhkan kerja pelacakan pada teks-teks sejarah itu. Semisal Merah berarti spirit gerakan sosialis yang dianut Tan dalam menentang imperialisme yang kapitalistik. Atau Rusa sebagai pilihan hewan untuk mewakili entitas personal Tan Malaka -meski jujur saja tidak ditunjukan di dalam pertunjukan, Rusa tersebut mewakili makna yang mana?

Apakah Rusa sebagai semangat Materialisme Dialektis di dalam Madilog (buku Tan, yang berbicara tentang gagasan berpikir di dalam revolusi)? Rusa sebagai entitas personal yang identik dengan Tan? Atau Rusa sebagai hewan yang mesti diilhami habitualnya? Pertunjukan tersebut hanya berkata, bahwa, akulah Tan Malaka alias Ellias Fuentes, Estahislau Rivera, Alisio Rivera, Hasan Gozali, dan akhirnya disebutkan “Akulah Rusa Berbulu Merah”. Apakah juga merujuk pada identitas Tan yang bergerilya dan tetap berjuang mesti tanpa diakui (sebagai rusa yang berbeda dari kawanannya)?

Monolog ini saya sepakati sebagai kritik. Benar-benar kritik terhadap kondisi Indonesia hari ini (peristiwa pelarangan dan represi dari ormas itu telah membuktikannya). Tapi jika mendengar landasan gagasan yang disebutkan Sahlan Mujtaba tentang teater yang memberi dampak sosial, di dalam gedung pertunjukan, teater ini kurang melibatkan penonton secara argumentatif. Pertunjukan ini masih terjebak pada kronologi sejarah yang deklaratif dan eksplanatif.[]

Zulfa Nasrulloh, pegiat dan pemerhati sastra dan seni pertunjukan. Mendirikan media alternatif Majalaya ID. Masih lajang.

Comments
  • cerdas kakak 🙂

    30 Maret 2016
  • lukmanasya

    oke

    27 Maret 2016
    • Zulfa Nasrulloh

      thnkyuu guru..

      28 Maret 2016
  • Asep Supriatna

    Oh, kitu nya ?
    Hanjakal kamari teu tiasa lalajo, aya acara keluarga, pulang ka kembur.
    Jadi panasaran eung hayang nongton !
    Nuhun ulasanana, Ang !

    27 Maret 2016
    • Zulfa Nasrulloh

      Nuhun kang, wilujeung

      28 Maret 2016

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register