Fb. In. Tw.

Memahami “Mengukur Jalan, Mengulur Waktu” dan “Rindu yang Membawamu Pulang”

Rabu (16/3/2016), Pesta Buku hari ke-2 kembali dilaksanakan di Plasa Gedung Geugeut Winda (PKM) UPI. Setelah kemarin Anak-anak Multatuli karya Ubaidilah muchtar terlaksana dengan meriah dan lancar, hari ini dua buku di-launching dan didiskusikan, yaitu buku antologi puisi Mengukur Jalan, Mengulur Waktu (MJMW) karangan Yopi Setia Umbara  dan novel Rindu yang Membawamu Pulang karya Ario Sasongko.

Pertama, buku Yopi Setia Umbara (YSU) yang didiskusikan. Ada dua pemateri yang menyajikan hasil bacaannya terhadap buku tersebut, yaitu Nenden Lilis Aisyah (Dosen, Sastrawan) dan Zulkifli Songyanan (Sastrawan). Diskusi tersebut dimoderatori oleh Naufal Hafizh (Penyair)

Menurut Nenden puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini, dalam bentuknya yang konvensional dan kesederhanaanya, ternyata memberikan dan sekaligus memperlihatkan hasil perenungan atau kontemplasi. Hal itu tertuang dalam beberapa puisinya, di antaranya puisi “Malam Berjalan Tanpamu”, “Mengukur Jalan, Mengulur Waktu”, “Di Astana Gede”, dan “Sekedar Bertambat”. Bahkan di puisi “Mengukur Jalan, mengulur Waktu” Nenden mengatakan adanya persepsi tentang penggambaran kehidupan masyarakat modern dan pandangan eksistensialisme akan hidup di dunia. 

Denganmu mengukir jalan
Di antar gedung-gedung besar
Di kota yang tercipta dari gairah

Celah sempit dilalui banyak orang
Dan kendaraan semua bergerak
Beradu cepat entah ke mana

seperti kita yang masih tak jelas
bergegas hendak pulang
tak tahu ke mana

perjalanan hanya mengulur waktu
mencipta kesedihan demi kesedihan
sempurna sebagai nisan ingatan

mungkin petualangan belum usai
namun di sepanjang jalan
aku mencium aroma kematian

(Mengukur Jalan, Mengulur Waktu)

Sementara menurut Zulkifli, puisi-puisi YSU umumnya berbicara mengenai renungannya akan cinta, ketidakkuasaan manusia melawan arus perubahan, ruang atau lanskap dan kesadaran akan kerdilnya manusia di hadapan Tuhan, kehidupan dan maut. Lanjutnya, puisi-puisi dalam antologi MJMW senantiasa berbicara pada kita ungkapan-ungkapan yang (terkesan) lurus dan hening bening: terang, mudah dipahami; meski di satu sisi bernada sendu—menyiratkan kegetiran hidup.

Dalam sesi diskusi pun banyak sekali yang memberikan pertanyaan dan pernyataan, salah satunya Edwar Maulana (Sastrawan), yang terpesona dengan puisi YSU, “Pernyataan Cinta”, sebab memiliki sudut pandang yang berbeda dengan pernyataan cinta lainnya. Menurut Edwar, lariknya pendek hanya saja maknanya luas.

aku menulis namamu berulangkali
di air

(Pernyataan Cinta)

***

Setelah diskusi Puisi YSU berjalan dengan lancar dan meriah, dilanjutkan dengan diskusi novel Rindu yang Membawamu Pulang karya Ario Sasongko. Moderatornya Langgeng Prima Anggradinata (Dosen, Sastrawan), Yulianeta (Dosen) dan didampingi juga oleh penulisnya Ario Sasongko (AS).

Langgeng memberikan pengantar bahwa novel Rindu yang Membawamu Pulang mengangkat masalah rasis yang terjadi di masa kolonial, lebih spesifiknya mengenai etnis Tionghoa atau Tiongkok. Setelah itu Langgeng pun menceritakan sinopsis novel, menurutnya, novel ini bercerita tentang kisah cinta antara Gun (Bumi Putra) dan Ling (Tionghoa).

Mereka bertemu di antara perbedaan. Lantas mereka pun ikut berjuang untuk kaumnya, Gun memperjuangkan kemerdekaan sementara Ling memperjuangkan etnisnya agar sejajar dengan Belanda. Bertahan dalam perbedaan dan ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup melepaskan. Namun cinta membuatnya bertahan. Hingga rindu yang mempersatukan.

Yulianeta membuka pembahasannya dengan ketakjubannya terhadap Ario sebab berani menulis novel seperti ini. Novel yang mengangkat permasalahan rasial pada zaman kolonial yang sampai sekarang pun masalah ini tetap hadir, hingga seakan-akan menghegemoni.

Lanjutnya,  novel ini seakan-akan menghadirkan kenyataan lalu, yang menjadi kenyataan baru yang menarik untuk dikaji dari berbagai aspek. Selain itu, Yulianeta pun mengatakan karya Ario hampir sejajar dengan karya Pram dan Semaun, hingga ia mewajibkan kepada mahasiswanya serta peserta diskusi yang hadir untuk membaca buku ini.

Dari nama segalanya bermula. Apalah jadinya jika di dunia ini manusia hidup tanpa nama? Bagaimana mereka bisa saling menuju? Tanpa nama, sesama manusia hanyalah makhluk-makhluk asing yang tidak terhubung satu dan lainnya.

Cuplikan yang dibacakan Yulianeta di sela-sela diskusi

Sebagai penulis pun Ario menceritakannya proses kreatifnya ketika menulis novel ini. Menurutnya, novel ini ditulis dalam rentang waktu satu setengah tahun. Kelamaan riset, ungkapnya dengan melebarkan senyum. Risetnya 1 tahun, sementara menulisnya 5 bulan. Lanjutnya, ia menceritakan asal-muasalnya mengapa memilih topik ini.

Menurutnya, berawal dari keresahannya melihat gejala di sekitarnya, permasalahan rasial sering terjadi kadang terlihat, kadang juga tersembunyi. Lantas, ia aneh, mengapa masyarakat Tionghoa selalu menjadi sasaran dari masa kolonial hingga pascakolonial. Itulah menurutnya landasan awal ia menulis novel ini.

***

Lebih lengkapnya, kedua buku tersebut bisa dibaca dan didapatkan di tempat bazar Pesta Buku sekaligus bertemu dengan penulisnya. Acara Pesta Buku yang diselenggarakan ASAS dan UKSK UPI masih akan berlangsung hingga tanggal 17 Maret 2016. Tempatnya masih di Gedung Geugeut Winda (PKM) UPI. Di hari terkahir, akan dibahas buku kumpulan esai Tia Setiadi dan kumpulan cerpen Niduparas Erlang. []

Mahasiswa Deparetemen Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Begiat di ASAS UPI dan Teater BARAYA.

You don't have permission to register