Fb. In. Tw.
Galeh berfose setengah badan di galeri luiksan, mengenakan kemeja dan kacamata, berambut cepak.

Puisi-Puisi Galeh Pramudianto

Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.

 

Segala Kesepian di Dunia Punya Nama

 

ia tahu ini hanya sinema semenjana
tapi rasanya seperti sedang menonton ulang dirinya sendiri
dari sudut yang belum pernah dilihat

ia tekan tombol putar ulang

karena di tengah adegan
saat tokoh a di dalamnya diam di pojok ruangan
ia melihat sesuatu yang familiar:
cara tokoh a menggenggam lututnya

dan senyum gingsulnya ditutupi antinovel penyair cumbu sigil:

matahari di balik bukit partisan

dan itulah adegan favoritnya
karena di situ
tak ada yang bicara
tapi segala kesepian di dunia
tiba-tiba terasa punya nama.

 

2026

 

 

 

Aislin Jatuh Cinta dengan Penghapus 

 

Aislin gemar 
menghapus semua kata
kata baginya 
serupa tubuh saat berteater olah sukma
dapat menjadi kapas beterbangan
juga batu diam seribu 

 

Ia bahkan bisa menyembunyikan bulan 
sehingga membawa kegelapan sementara
pada malam ketika ia dan kucingnya pergi
ke taman kota untuk mencuri jarum jam
agar semua waktu di dunia berhenti, katanya

 

ketika ia harus menghilang dari manusia
ia menulis namanya sendiri dan lekas menghapusnya 
ia berada dimensi tanpa ada siapa-siapa selain dirinya
terkadang penghapus suka berbicara padanya ketika malam tiba
“tulislah ‘Aislin’ sekali lagi”
agar bisa menjadi bukan siapa-siapa
atau sama sekali tidak di dunia

 

baginya cara-cara untuk melupakan 
adalah dengan menulis dan menghapusnya
dan penghapus menghapus lima larik terakhir ini
seperti Aislin tahu sedari dulu
sia-sia adalah keseharian umat manusia.

 

2026

 

 

Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)

 

Ia datang melewati gerbang bambu yang separuh patah
menyusuri jalan tanah di mana bayangan tanuki memanjang
lalu menyusut seperti tarikan napas terakhir 

 

Ia melihat rumah-rumah jamur
yang pintunya terbuat dari daun kamper
bau tanah basah menyelinap ke dadanya
ada tawa dari balik semak
ada tangis menyerupai suara burung hantu

 

Di celah pohon cedar
tanuki berlatih menjadi batu
memintal mantra dari lumut
untuk mengusir buldoser mimpi buruk

Ia menunduk di pinggir rawa
menyentuh air dan membelah bulan

seperti kisah-kisah silat
lalu bertanya dalam hati:

apakah hutan ini akan tetap bernama hutan
ketika pohon terakhir hanya tersisa di cerita rakyat?

 

seekor tanuki menatap
mata bulat seperti kubangan yang dalam
“kau akan kembali ke rumahmu,” kata tanuki
“sedangkan kami akan berubah menjadi bayangan
di kota yang memakan akar kami.”

 

2026

 

 

 

Aislin Mengunjungi Okja (2017) 

 

Okja diciptakan dari laboratorium
dijual sebagai omong kosong masa depan pangan
dikurung dalam pabrik besi dan neon

Ia menembus layar laptopnya

dan masuk melalui celah pagar kawat
“kebebasan telah dipadamkan
  oleh mesin yang menyebut dirinya kemajuan” 

 

dan langkah mungil bersama Mija 

di malam berkabut 

menjadi ajakan
membuka sangkar
mematikan conveyor
mengembalikan Bumi
kepada segala yang ada dan tiada.

 

2025

 

 

 

Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir

 

Cahaya strobo menelan wajah sembrono
muncul, hilang, muncul lagi
seperti pita magnetik tinggal statistik

asap rokok melingkar di kabin
lampu rem membelah gelap
jalan melipat diri menjadi nadi sepi

Kamera genggam merekam tanpa tangan
menghapus siapa saja yang menonton

telepon berdering di dalam glove box:
“aku di rumahmu sekarang.”
ia menoleh ke luar jendela
hanya malam kian berselaput 

di jok belakang, wajah berubah menjadi bayangan lain
kulitnya berganti rupa, suaranya kerap berdeham
senyumnya tertahan seperti 

adegan mencekam kebanyakan

Aspal bergetar di bawah ban
kelapkelip lampu memutar masa lalu
spion di dalam melihat dirinya menyetir

ke arah dirinya sendiri

kilometer terakhir tiba tanpa penanda

Suara mesin meluruh jadi dengung halus
ia keluar dari tubuhnya
masuk ke dalam gelap berdenyut

satu frame sebelum segalanya padam.

 

2025

 

 

Galeh Pramudianto, lahir 20 Juni 1993 dan berdomisili di Wadassari, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Sehari-hari ia mengajar Tzu Chi School. Puisi-puisinya telah diterjemahkan di Jurnal Mantis, Stanford University dan Arkansas International. Ia pernah menerima beberapa penghargaan, antara lain: Awicarita Puisi Terbaik Festival Literasi Tangerang Selatan 2018, Acarya Sastra 2019 dari Badan Bahasa, puisinya Laut yang Tak Bisa Disunting meraih puisi terpilih pada Cipta Puisi Piala Kebangsaan 2025. Manuskripnya Mengunjungi Kembali Adegan Favoritmu menjadi manuskrip terpilih pada Payakumbuh Poetry Festival 2025. Bukunya berjudul Asteroid dari Namamu (2019).

Post a Comment

You don't have permission to register