Puisi-Puisi Galeh Pramudianto
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Segala Kesepian di Dunia Punya Nama
ia tahu ini hanya sinema semenjana
tapi rasanya seperti sedang menonton ulang dirinya sendiri
dari sudut yang belum pernah dilihat
ia tekan tombol putar ulang
karena di tengah adegan
saat tokoh a di dalamnya diam di pojok ruangan
ia melihat sesuatu yang familiar:
cara tokoh a menggenggam lututnya
dan senyum gingsulnya ditutupi antinovel penyair cumbu sigil:
matahari di balik bukit partisan
dan itulah adegan favoritnya
karena di situ
tak ada yang bicara
tapi segala kesepian di dunia
tiba-tiba terasa punya nama.
2026
Aislin Jatuh Cinta dengan Penghapus
Aislin gemar
menghapus semua kata
kata baginya
serupa tubuh saat berteater olah sukma
dapat menjadi kapas beterbangan
juga batu diam seribu
Ia bahkan bisa menyembunyikan bulan
sehingga membawa kegelapan sementara
pada malam ketika ia dan kucingnya pergi
ke taman kota untuk mencuri jarum jam
agar semua waktu di dunia berhenti, katanya
ketika ia harus menghilang dari manusia
ia menulis namanya sendiri dan lekas menghapusnya
ia berada dimensi tanpa ada siapa-siapa selain dirinya
terkadang penghapus suka berbicara padanya ketika malam tiba
“tulislah ‘Aislin’ sekali lagi”
agar bisa menjadi bukan siapa-siapa
atau sama sekali tidak di dunia
baginya cara-cara untuk melupakan
adalah dengan menulis dan menghapusnya
dan penghapus menghapus lima larik terakhir ini
seperti Aislin tahu sedari dulu
sia-sia adalah keseharian umat manusia.
2026
Aislin Mengunjungi Hutan Pom Poko (1994)
Ia datang melewati gerbang bambu yang separuh patah
menyusuri jalan tanah di mana bayangan tanuki memanjang
lalu menyusut seperti tarikan napas terakhir
Ia melihat rumah-rumah jamur
yang pintunya terbuat dari daun kamper
bau tanah basah menyelinap ke dadanya
ada tawa dari balik semak
ada tangis menyerupai suara burung hantu
Di celah pohon cedar
tanuki berlatih menjadi batu
memintal mantra dari lumut
untuk mengusir buldoser mimpi buruk
Ia menunduk di pinggir rawa
menyentuh air dan membelah bulan
seperti kisah-kisah silat
lalu bertanya dalam hati:
apakah hutan ini akan tetap bernama hutan
ketika pohon terakhir hanya tersisa di cerita rakyat?
seekor tanuki menatap
mata bulat seperti kubangan yang dalam
“kau akan kembali ke rumahmu,” kata tanuki
“sedangkan kami akan berubah menjadi bayangan
di kota yang memakan akar kami.”
2026
Aislin Mengunjungi Okja (2017)
Okja diciptakan dari laboratorium
dijual sebagai omong kosong masa depan pangan
dikurung dalam pabrik besi dan neon
Ia menembus layar laptopnya
dan masuk melalui celah pagar kawat
“kebebasan telah dipadamkan
oleh mesin yang menyebut dirinya kemajuan”
dan langkah mungil bersama Mija
di malam berkabut
menjadi ajakan
membuka sangkar
mematikan conveyor
mengembalikan Bumi
kepada segala yang ada dan tiada.
2025
Di Kilometer Terakhir Lost Highway (1997), Putaran Tanpa Akhir
Cahaya strobo menelan wajah sembrono
muncul, hilang, muncul lagi
seperti pita magnetik tinggal statistik
asap rokok melingkar di kabin
lampu rem membelah gelap
jalan melipat diri menjadi nadi sepi
Kamera genggam merekam tanpa tangan
menghapus siapa saja yang menonton
telepon berdering di dalam glove box:
“aku di rumahmu sekarang.”
ia menoleh ke luar jendela
hanya malam kian berselaput
di jok belakang, wajah berubah menjadi bayangan lain
kulitnya berganti rupa, suaranya kerap berdeham
senyumnya tertahan seperti
adegan mencekam kebanyakan
Aspal bergetar di bawah ban
kelapkelip lampu memutar masa lalu
spion di dalam melihat dirinya menyetir
ke arah dirinya sendiri
kilometer terakhir tiba tanpa penanda
Suara mesin meluruh jadi dengung halus
ia keluar dari tubuhnya
masuk ke dalam gelap berdenyut
satu frame sebelum segalanya padam.
2025

