Puisi-Puisi Alfa Zain
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Kepada Senin
Dan kau,
seperti biasa,
membuka mata,
menyalakan lampu kamar mandi,
dan berpura-pura bahwa hidup adalah hal yang masuk akal
Bangunjiwo, 26 April 2026
Berdering
Tergeletak di antara reruntuhan
gerbong khusus perempuan.
Notifikasi terus masuk:
“Ma, kapan sampai?”
“Ma?”
Tokopedia mengingatkan:
“Pesananmu akan tiba besok.
Jangan lupa beri ulasan ya.”
Spotify masih memutar playlist
yang dibuat untuk perjalanan pulang.
Lagu favoritnya —
sekarang tidak ada yang dilewat.
Baterai 3%.
Mode hemat daya aktif.
Imogiri, 29 April 2026
Ibadah Khaki
Pagi-pagi sekali, seragam cokelatmu
sudah rapi di atas sandaran kursi.
Ia tampak lebih bersemangat darimu,
seolah-olah dialah yang sebenarnya
mendapat SK.
“Jangan lupa pasang papan namamu,” bisiknya.
“Agar orang-orang tahu siapa yang harus mereka salahkan
saat urusan tidak selesai-selesai”
Di kantor, kau duduk menghadap komputer
yang usianya lebih tua dari masa kerjamu.
Kau mengetik laporan dengan sisa tenaga,
Sebab kau tahu, menjadi pegawai negeri
adalah seni mengelola rindu pada rapel gaji
yang datangnya seperti jodoh dalam sinetron:
sering terlambat, tapi selalu bikin deg-degan.
“Tuhan,” doamu di antara tumpukan berkas,
“berilah hamba kesabaran seluas meja birokrasi ini.
Imogiri, 1 Mei 2026
Kamus Kecil Tentang Kelelahan
Di rak buku yang berdebu,
tidak ada bab tentang hari libur.
Sebab kata-kata, seperti juga kau,
adalah buruh yang bekerja sepanjang waktu
untuk menyusun sebuah pengertian
yang seringkali gagal dipahami pembacanya.
Kau pulang dengan punggung
menyerupai jilid buku yang hampir lepas.
Dan “Negara,” katamu sambil menutup sebuah novel,
“adalah sebuah teks yang penuh dengan kesalahan cetak.”
Meski kota mungkin sedang meneriakkan namamu.
Tapi kau lebih memilih duduk di pojok perpustakaan,
mencari satu kata yang tidak ada hubungannya
dengan produksi, target, atau efisiensi.
Imogiri, 1 Mei 2026
Siklus
Di laci meja, sisa obat tidur
tinggal menyisakan satu butir.
Kau menatapnya tanpa emosi.
Ia tampak jauh lebih pasti
ketimbang semua rencana masa depan
yang kau susun dengan gemetar.
Kesepian adalah notifikasi
yang tidak kau balas sejak kemarin —
indikator baterai yang pelan-pelan habis,
dan tubuh yang lupa
bagaimana cara berpura-pura.
Imogiri, 15 Mei 2026

