Fb. In. Tw.
Ulasan Buku Muhammad Fakhri Fadhlullah - Buruan.co

Alusi dan Luka Kota Si Anak Batang

Pada akhirnya,
tak ada yang ia punya. Tidak ada
terkecuali puing-puing air mata
serupa pecahan kaca

Sedang waktu menghembus
aroma lima helai kamboja
yang menyisip di telinga

 

Berbicara puisi, sedangkal pemahaman saya, adalah berbicara tentang segudang majas, simbol, dan makna yang berlapis-lapis. Oleh sebab itu, sebagaimana genre karya sastra lain, puisi juga bersifat interpretatif tergantung pada pengetahuan dan pengalaman individu pembacanya. 

Dingin Kenangan Anak Batang: Huma, Cinta, dan Tragedi (2026) karya Novan Leany adalah salah satu dari sedikit buku puisi yang saya punya. Dalam kumpulan puisinya, Novan memuat setidaknya 38 puisi yang ia kurasi sendiri. Sebagai penyair, Novan  memiliki kecenderungan mengangkat tema dan isu kedaerahan yang ramai disebut “lokalitas”. Langgamnya membentuk identitas tersendiri sebagai penyair. Saya berupaya melihat bagaimana Novan memberdayakan gaya bahasa “alusi” dalam puisi yang ia ciptakan.

Huma, Cinta, dan Tragedi: Antara Judul dan Jebakan Pembaca

Judul yang tertera dalam sampul setiap buku merupakan pintu dari rumah dengan segalanya isinya. Tak jarang, judul adalah representasi dari keseluruhan isi buku yang membuat pembaca bisa menduga-duga isi buku yang akan dibacanya. Namun, kadang kala judul biasanya menjebak. 

Saya, sebagai pembaca, awalnya menduga Dingin Kenangan Anak Batang ini akan dipenuhi dengan puisi-puisi personal yang hanya membicarakan tentang kesunyian hidup sang penyair. Dalam pembacaan sekilas, judul ini saya pahami tentang anak batang, mungkin merujuk pada subjek masyarakat kota secara individu, dan nasib-nasib kenangan personal yang “dingin”.

Setelah pembacaan berkali-kali, saya kemudian disadarkan bahwa saya telah terjebak pada pemahaman dangkal dengan judul yang digunakan Novan pada kumpulan puisinya. Lebih dari sesuatu yang hanya bersifat personal, kumpulan puisi ini berusaha membicarakan, mulai dari mitologi ke historis dengan caranya yang khas, sebagaimana yang tertulis pada subjudul Huma, Cinta, dan Tragedi jika dipahami dengan meminjam testimoni Raudal Tanjung Banua. 

Maka, ada tiga titik yang perlu dipertimbangkan dalam memahami kumpulan puisi ini. Pertama, huma merujuk pada potret kekayaan khazanah kampung halaman yang mencakup tradisi, kuliner, keluarga, ekologi, dan seterusnya. Kedua, cinta, yang saya pahami sebagai alat untuk merefleksikan segala sesuatu dan menjadi jembatan dengan titik lainnya. Terakhir, tragedi menjadi pelengkap yang mengaduk-aduk segalanya, menjadi anomali yang menyempurnakan ketiga titik ini.

Pada akhirnya, jebakan ini menjatuhkan saya padang lubang buaya yang tidak hanya dipenuhi oleh buaya sebagai pemangsa. Tapi berbagai macam binatang buas yang menerkam ketika semakin dalam saya masuk, yaitu puisi demi puisi, maka semakin beragam pula alusi yang saya temukan.

Ketegangan Alusi dan Meta-data Seorang Penyair

Alusi sebagaimana yang diterangkan Keraf (1984) adalah suatu majas kiasan di mana penyair mensugestikan baik seseorang, tempat, dan peristiwa tertentu dalam puisi yang ia tulis. Keraf menjelaskan bahwa ada tiga yang perlu dipertimbangkan dalam upaya membentuk alusi yang baik. Pertama, keyakinan bahwa pembaca juga mengenali alusi yang penyair gunakan. Kedua, penyair juga harus yakin jikalau alusi yang ia buat kemudian dapat memperjelas tulisannya. Ketiga, alangkah baiknya penyair menghindari acuan yang telah umum digunakan dalam pembentukan suatu alusi.

Maka, dengan paparan demikian dapat dipahami jika alusi sepenuhnya berbeda dengan ilusi palsu dan khayal. Sebagai keyakinan, dalam upayanya membentuk alusi-alusi dalam puisinya, penyair melakukan proses riset mendalam dengan baik secara referensial dan empiris dalam meramu setiap puisinya.

Buku Novan merupakan kumpulan “alusi” puisi yang memuat berbagai alusi-alusi kampung halaman. Kiasan alusi ini menjelma nyaris pada semua puisi Novan Leany yang membicarakan tentang sejarah, mitos, tradisi yang mungkin telah menjadi langgamnya di jalan terjal kata-kata. Mulai dari Daeng Mangkona hingga kalung uncal, semuanya hasil dari riset panjang dan penyair, dengan licentia puitica-nya mengubah itu semua menjadi kumpulan alusi-alusi dari berbagai fragmen sehingga jadilah kumpulan puisi ini.

Mengapa Meninggalkan pergi Daeng Mangkona?

Puisi pertama dalam kumpulan puisi ini, “Aku Ingin Pergi, Daeng Mangkona” adalah hasil olah sejarah pelayaran tokoh Daeng Mangkona. Untuk memahami lebih dalam puisi yang ditulis Novan saya perlu menelaah bacaan sejarah yang relevan digunakan oleh penyair sebagai alusi. Singkatnya, pada sekitar tahun 1668, alih-alih menerima tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda di tanah kerajaan, Daeng Mangkona dan juga rombongan Bugis Wajo memilih minggat dan berlayar ke bumi Etam dan menempati daerah yang sekarang disebut Samarinda Seberang atas persetujuan dan perjanjiannya dengan Raja Kutai. Dan Novan dengan gayanya yang khas, berhasil mengolahnya menjadi puisi yang menarik. Perhatikan dua larik pertama yang saya kutip di bawah ini.

“[…] Bukan salah kau Daeng Mangkona,
tidak pula penyebab asal muasal kau berlayar […]”

Pada dua larik ini, penyair seperti ingin merangsang pembaca untuk mencari tahu lebih dalam tentang “asal muasal kau berlayar” yang merupakan konteks awal yang sebelumnya telah dipaparkan. Kemudian, pada larik-larik selanjutnya pada bait yang sama kita dihadapkan dengan kontras lain yang sama sekali berbeda. Puisi ternyata tidak hanya membicarakan masa lalu, tapi juga kondisi dewasa ini. Cobalah perhatikan dua kutipan dari puisi di bawah ini.

[…] sebab, tubuh kota ini memang hadir
memikul keluh tahun-tahun […]

[…] Sampai seorang lupa, ada air mata
tumpah di lesung kota
jadi debu-debu yang menguat
luka masa lalu
tatkala langit memadamkan […]

Melalui kutipan pertama, penyair menghadirkan personifikasi “tubuh” pada kota layaknya manusia yang telah mengalami jenuh keluh dalam waktu yang lama. “Kota” pada bagian ini dapat diinterpretasikan merujuk pada Samarinda yang secara kontekstual merupakan tempat Daeng Mangkona mendarat. Namun, nyatanya pada masa kini Samarinda telah bertransformasi menjadi kota metropolitan yang terlalu banyak memikul keluh. Pada kutipan selanjutnya, penyair barangkali melihat bagaimana kondisi sosial urban yang bahkan kadangkala tidak acuh pada penderitaan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Pada larik “tatkala langit memadamkan” dapat dipahami sebagai masalah atau penderitaan yang tengah terjadi pada masyarakat urban berakhir tanpa diselesaikan begitu saja.

Secara keseluruhan puisi “Aku Ingin Pergi, Daeng Mangkona” cukup berhasil merefleksikan kembali sejarah dengan realita sosial urban hari ini. 

Solong dan Seseorang yang Diterkam Kota

Novan menulis puisi berjudul “Solong, Cinta, dan Tragedi”. Puisi ini sendiri menceritakan Solong yang merupakan komplek kecil di ujung kota yang terkenal sebagai tempat eks lokalisasi di Samarinda. Akan tetapi, bukan persoalan ini yang ingin saya bahas, melainkan subjek yang tak nampak adalah tentang “seseorang” yang ia beri tempat dalam puisinya.  Semisal, kita andaikan saja “seseorang”  di sini adalah sebuah “kota” tafsir ini, kemudian akan memberi pandangan lain, selain persoalan nama tempat yang tercantum dalam puisi Novan.

Jika anggapan kota sebagai subjek puisi diterima. Maka, saya sebagaia pembaca bisa melihat kehidupan secara lebih holistik. Sebagaimana kompleksitas struktur sosial yang dibentuk pada masyarakat urban. Hal ini disebabkan kota sebagai titik temu keberagaman sering kali menyebabkan berbagai konflik atau dinamika yang terjadi. Puisi ini justur mengajak saya untuk mengeksplorasi dinamika tersebut dengan pandangan lain yang lebih humanis pada subjek seseorang yang terbuang secara sosial oleh masyarakat seperti tampak pada kutipan di bawah ini.

[…] “Sempatkah hamba
mendengar adzan subuh
sementara, tubuhku
terus melayanimu
setiap waktu?” katamu, […]

Kutipan ini memiliki kesan suasana yang cenderung menyedihkan sebagaimana gaya Novan yang demikian khas. Bayangkan tentang seseorang yang terbuang secara sosial dan kampung karena berada di luar norma sebab kota yang menerkam moral. Namun, dalam subjek puisi ini, “seseorang” masih berupaya mendengarkan adzan subuh dan mungkin berusaha menunaikannya. Apa yang disebut iman barangkali tidak hanya pada hati manusia yang berprofesi “halal” atau mereka yang selalu tampak beriman di mata masyarakat. Tapi juga mekar indah di hati mereka yang terbuang sekali pun. Lebih lanjut mari perhatikan kutipan retoris di bawah ini.

[…] “Kenapa Tuhan tetap mengabulkan doa
seorang yang terbuang dari kampungnya?” […]

Pertanyaan retoris seperti di atas yang seolah tidak meniscayakan adanya jawaban, atau barangkali, jawabannya sudah jelas. Pertanyaan retoris seperti ini memberi kekuatan religiusitas pada puisi ini entah disengaja atau tidak oleh penyair. Kedalaman pertanyaan ini membuat saya hanyut pada renungan akan kasih sayang Tuhan yang tidak dangkal sebagaimana manusia. Frasa “terbuang dari kampungnya” dapat dipahami sebagai bentuk penolakan yang terjadi pada mereka yang berada di luar norma paradigma masyarakat.

[…] serupa riang adik
masuk sekolah
tahun ajaran baru
adalah kegembiraan,
yang terbuat dari
desahmu […]

Dalam kutipan ini subjek puisi kemudian menunjukkan sisi paling humanis dengan menunjukan perasaan kegembiraan tulus yang dibentuk dengan pengorbanan dan penderitaan yang dimiliki mereka yang terbuang dan diterkam oleh kota. 

Dengan demikian, dapat dilihat pula sikap penyair yang nampaknya menunjukkan bahwa kota barangkali secara perlahan-lahan menerkam, dalam hal ini mereka yang terbuang. Namun, dapat dilihat pula bahwa kaum seperti ini juga sangat bersifat humanis. Dan Novan Leany memotretnya dengan baik sehingga terciptalah puisi yang barangkali menjadi puisi paling ikonik di kumpulan puisi ini.

Membiaskan Cinta yang Kandas dalam Puisi

Puisi “Dongeng Kalung Uncal” mengisahkan tentang cinta. Puisi ini mengolah cerita rakyat Kutai yang merupakan akulturasi wiracarita besar dari India yaitu Ramayana. Menurut pandangan orang-orang Kutai, kalung uncal adalah pusaka keramat kerajaan yang bernilai paling tinggi secara mutu dan harganya. Dan, oleh Novan, cerita rakyat ini diolah menjadi puisi dari cinta tragis aku lirik yang dapat diinterpretasikan sebagai Rahwana. Mari perhatikan bait puisi tersebut:

[..] Aku bukan Sri Rama yang meragukan kesucianmu
Sebab cinta ini kasih, hidup sejak lama
menyelam dalam luka dan duka
seperih memar cambuk di panggung budak […]

Perkara ketulusan dari cinta itu sendiri barangkali tidak ada ujungnya. Rahwana adalah sosok antagonis dalam wiracarita Ramayana yang cukup unik. sebab, menurut sebagian orang ia adalah sosok yang memiliki perasaan yang tulus soal cinta. Dalam bait di atas misalnya, Rahwana memberikan penegasan ketulusan dan kerelaan untuk mendapati kasih dari Sang Dewi meskipun pada dua larik terakhir cinta itu disandingkan seperti luka memar cambuk di panggung seorang budak. 

[…] Dalam malam bisu dan penuduhan
atas kebohongan cinta yang palsu
aku bersumpah, demi kalung uncal
yang hilang melingkar di lehermu
kuingat  Dewi Sinta di atas menara berkata,
“Biarkan aku tetap hangus terbakar
kelak kau akan melihat aku jadi abu
atau aku kembali kepadamu” 

Bait terakhir dalam puisi ini mengkombinasikan sudut pandang Rahwana yang melihat penuduhan yang dilakukan Sri Rama pada Dewi Sinta sebagai kebohongan cinta yang palsu. Raja kerajaan Alengka ini bahkan sampai bersumpah melihat keteguhan Dewi Sinta ketika prosesi mandi api suci. Puisi ini diakhiri dengan janggal barangkali untuk meninggalkan kesan cinta tulus dari sang Dewi itu sendiri. Meskipun, kita semua tau kesungguhan cinta itu kemudian menyelamatkan Dewi Sinta dari ujian. 

Puisi ini menghadirkan konflik yang telah menjadi persoalan bagi manusia yang bersifat universal. Oleh sebab itu, meskipun memiliki alusi yang kentara, puisi ini tetap relevan untuk pembaca yang bahkan tidak mengenal Ramayana atau cerita rakyat kalung uncal sebelumnya.

Bagi saya buku ini merupakan inventarisasi sejarah, mitos, dan kekayaan budaya lokal. Seringkali, Samarinda sebagai kota tidak lepas dengan segala kebisingannya, macet, panas, hujan, dan banjir sudah menjadi identitas dari kota tepian ini. Namun, dalam kondisi urban seperti itulah kesunyian dapat dialami oleh siapapun, mungkin juga dengan penyair ini. 

 

Sumber bacaan:

Keraf, G. (1984). Diksi dan Gaya Bahasa: Komposisi Lanjutan 1. Jakarta: PT Gramedia.

Muhammad Fakhri Fadhlullah asli Tanah Grogot, Kalimantan Timur adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Mulawarman yang mencintai buku-buku dan aktif berorganisasi sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya. Selebihnya, menjadi bagian Komune TerAksara Indonesia.

Post a Comment

You don't have permission to register