Mengenali Duka lewat Puisi-Puisi Adinda
Publikasi ini merupakan bagian dari program “MTN Presentasi: Buruan.co 2026”, kolaborasi Buruan.co dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya
Kematian jadi salah satu momen agung kebudayaan. Mungkin karena tanda tanya tentang kehidupan setelahnya tak memiliki jawaban pasti, ragam komunitas meresponsnya dengan berbagai ritual dan pesta. Lewat puisi-puisinya, Adinda Latifatur Rokhima masuk ke momen-momen kematian dan keberdukaan, menawarkan gesekan personal dan kebudayaan yang menarik.
Dari empat puisi yang dimuat di rubrik Mekar melalui program MTN Presentasi: Buruan.co 2026, terdapat dua puisi yang menghadirkan tema kematian, yaitu “Perjamuan Duka” dan “Antrean Batara Kala”. Dalam pembahasan ini, saya akan melihatnya dari dua perspektif: (1) sudut pandang penyair secara personal, (2) bagaimana ia memandang kematian dari sudut pandang kebudayaan di sekitarnya.
Di luar tema kematian, dua puisi Adinda lainnya, yakni “Secangkir Getir di Lidah Ibu” dan “Anasir Kata dan Bahasa” tetap menampilkan momen-momen puitis soal kesedihan, soal bagaimana puisi menjadi peranti mempelajari duka.
Kematian yang Personal
Adinda masih duduk di kelas 11 bangku SMA, remaja 18 tahun. Jika kematian ditaksir oleh umur belaka, bukankah secara umum, remaja seharusnya lebih banyak menampilkan sikap penuh gairah untuk hidup seribu tahun lagi? Adinda tak menawarkan ketakutan akan kematian. Ia mengajak kita mengakrabinya lewat kematian seseorang yang memukul hidup kita, yang mungkin dukanya kita pikul sepanjang usia.
Pertama, Adinda menghayati kematian melalui simbol-simbol yang akrab di sekitarnya. Ia meminjam benda-benda yang hadir saat peristiwa kematian teramati:
Sementara mataku bengkak serupa nasi tanak
merekah, basah
sayu, seperti ayam tak berbumbu
sebab aku kehilanganmu
(Perjamuan Duka)
Metafora kesedihan yang teramat seperti nasi tanak dan duka yang hambar seperti ayam tak berbumbu bukanlah simbol yang dilemparkan begitu saja. Ia mengikatnya lewat pembuka di puisinya, bahwa ia sedang menghayati momen kematian itu dari dapur rumah: Di dapur, begitu banyak pertanyaan kehidupan/ mengalahkan pertanyaan siapa yang bersedih. Seluruh pengembangan bahasa simbolis dan kiasan terasa utuh di dari dapur sebagai ruang amatannya itu.
Sebagai seseorang yang nyinyir, sebenarnya menarik untuk melihatnya dari sisi ruang. Mengapa, hingga momen penting seperti kematian, perempuan harus tetap lebih akrab dengan ruang dapur? Apakah momen-momen sakral kebudayaan dan keagamaan yang tampil di ruang depan (seperti memimpin ritual, pemakaman, dan lain sebagainya) memang lebih layak dikuasai para lelaki? Pertanyaan itu sebaiknya berhenti di sini saja, dan mari kembali ke puisi Adinda.
Puisi berjudul Antrean Batara Kala juga menawarkan pendekatan yang mirip. Ia membuka dengan simbol dari momen keterkejutan atas kematian. Berikut kutipannya:
Ayah pulang, dadanya sunyi
pangkatnya dikirim lewat pos
peti matinya diantar gerobak sayur
Dalam puisi Antrean Batara Kala ini, bahkan Adinda menceritakan tiga momen duka: kematian seorang Ayah, kematian seorang suami, dan kematian seorang anak. Di setiap tiga bagian puisi itu, Adinda selalu menawarkan momen puitis yang berbeda. Seperti Anakku tak pulang/ tak ada telegram, tak ada peti mati/ tak ada bendera kuning.
Ketiga momen kepergian dalam puisi Antrean Batara Kala juga diikat dengan dua larik pembuka yang kuat: Batara Kala melihatku penuh tanya/ perempuan ini begitu sering mengantre.
Saya sangat menyukai pembuka ini. Ia terbuka untuk ditafsir, seperti: mengapa Batara Kala melihat sesosok Perempuan terus mengalami duka? Duka apa yang dihadapi oleh Perempuan sehingga ia terus mengantre sepanjang hidupnya di hadapan dewa waktu yang menyeramkan? Ketika Perempuan dan Dewa berhadapan, apakah ada negosiasi atua klarifikasi tentang Perempuan dan takdir derita tak dapat dipisahkan?
Lewat benda dan momen yang dialami aku liris dalam dua puisinya, Adinda menawarkan pelukan hangat dalam duka yang berat. Strategi ini cukup baik untuk membangun keutuhan kesan dan makna yang ditawarkan puisinya.
Kedua, Adinda memainkan bahasa puitisnya lewat simbol tentang hubungan antara si aku lirik dengan orang yang meninggalkan dunia. Sepenggal larik “Aroma bawang goreng mengingatkanku padamu” dalam puisi Perjamuan Duka menjadi contohnya. Bagi saya, lirik itu sedikit menampar. Adinda menyadarkan saya bahwa dari seluruh usia, kenangan, hingga perjuangan hidup sesosok mayat, pada akhirnya, hal yang paling banyak dikenang darinya adalah hubungan yang paling personal: seperti aroma bawang goreng. Tidak ada titel, tidak ada fufufafa soal segala kemegahan dan kegemoyan. “Betapa banyak kau merelakan keintiman demi kemegahan, bukan?” tanya Adinda padaku, samar-samar, lewat puisinya.
Begitupun lewat larik “Aku tak menangis/ karena air mata tak bisa menjahit lengan yang hilang”. Dalam puisi Antrean Batara Kala itu, aku lirik kehilangan suaminya. Seorang aparat yang entah mati di medan perang atau medan lainnya. Lewat rangkaian kata menjahit lengan yang hilang, Adinda dapat mengidentifikasi bagian yang sangat personal bagi aku lirik yang berduka tersebut. Sebuah lengan yang biasa bergandengan, yang biasa memeluk. Namun, di ujung kematiannya, sang istri bahkan tak bisa melihat lagi lengan yang sangat personal itu untuk terakhir kalinya. Momen di mana sang istri sangat butuh lengan untuk menguatkan.
Kematian dan Irisan Kebudayaan
Selain sebagai momen personal, Adinda juga secara jeli memainkan peranti bahasa dan puitiknya untuk menyatakan bahwa kematian berkaitan dengan bagaimana budaya komunitas hingga negara menafsirkan dan meresponsnya. Dalam hal ini, Adinda terlihat sebagai penulis yang lihai memosisikan diri dalam struktur di sekitarnya.
Dalam puisi Perjamuan Duka, Adinda menuturkan ketegangan antara keberdukaan yang sedang dialami oleh aku lirik dan disrupsi yang dihadirkan oleh orang-orang yang datang ke rumahnya. Setelah membukanya dengan cukup personal dan cukup kontemplatif di bait pertama dan kedua, seperti kelindan hangat dan dingin/ seperti derita dan bahagia// ia melanjutkan permenungan ke peristiwa budaya di bait ketiga:
Sendok dan piring bertengkar
tentang duka kehilangan
tetapi menjamu tamu adalah kemestian
Larik terakhir, tetapi menjamu tamu adalah kemestian adalah sindiran kuat bagaimana menyambut orang lain adalah kemestian meski di tengah nuansa muram. Di bait kelima, Adinda mempertajam amatannya terhadap kehadiran sosok orang lain dalam momen kunjungan ke rumah duka dalam kebiasaan kita:
Aroma bawang goreng mengingatkanku padamu
tetapi perlahan kabur oleh oceh peziarah
pembawa sekaligus penanya cara mati bahagia
menjelma pendoa atau mungkin pendusta
yang datang ke rumah kita
Melalui tiga larik terakhir di bait tersebut, Adinda mengajak kita mempertanyakan terkait dengan etiket dan etika saat kita mengunjungi rumah duka. Lebih jauh, dia bahkan mempertanyakan esensi dari peristiwa kebudayaan tersebut, soal ziarah, pengajian, dan tetek-bengek tradisi lainnya.
Sebab, menurut Adinda, ketika si pendoa atau mungkin pendusta itu pergi, aku lirik kembali pada kesepian dan kehilangan personal. Ia menutup: Doa-doa telah kurapikan/ beberapa kutali dalam kantong sampah/ menyisakan bau tanah// Perjamuan duka telah usai/ seluruhnya selesai/ hanya tersisa keheningan//.
Bagi saya, amatan Adinda yang masih remaja, cukup memukau dan memukul. Saya kembali bertanya-tanya, apa yang harus saya lakukan ketika seseorang kehilangan orang yang ia cintai? Apakah cukup membalasnya dengan sticker WA bertuliskan doa beraksara arab? Apakah cukup mengunjungi rumahnya? Atau perlu lebih jauh menjadi lengan baru yang akan ada baginya di kala hari-hari sulit yang ia hadapi kedepannya? Sementara jika saya kehilangan orang yang dicintai, Adinda memberikan Pelajaran: sebaik-baiknya kekuatan ada pada diri sendiri, sebab setelah pesta, semuanya hilang.
Setelah mempertanyakan esensi dari kunjungan ke rumah duka dari sudut pandang si aku lirik yang kehilangan, Adinda menggeser jangkar amatannya terhadap struktur yang lebih rumit. Kebudayaan yang dibangun oleh kuasa negara dalam sajaknya Antrean Batara Kala.
Puisi ini secara umum menceritakan tiga momen kehilangan yang dialami seorang Perempuan: hari kemarin saat ia harus kehilangan ayahnya, pagi tadi saat suaminya meninggal, dan malam harinya saat anaknya turut menyusul ayah dan kakeknya.
Membaca utuh rangkaian ini, saya langsung terseret pada bayangan suasana konflik. Adinda tidak merujuk langsung nama peristiwa atau linimasa kejadian sebagai intertekstualitas puisi. Ini membuatnya menjadi puisi dengan tafsir terbuka. Si Perempuan ini, bisa jadi seseorang di Palestina sana, seorang Mama di Papua, atau seseorang di Aceh beberapa tahun yang lalu, atau seseorang di Timor Leste tepat sebelum reformasi tiba di Indonesia. Tafsir saya terhadap peristiwa konflik ini diberikan dorongan oleh beberapa penanda yang ditampilkan Adinda: ayahnya naik pangkat lagi, sekarang anumerta; atau surat kematiannya dikirim telegram. Setidaknya, dua pertanda itu merujuk pada tanda atas kematian dua sosok militer.
Namun, apakah Adinda terjebak pada glorifikasi kepahlawanan dari seorang anggota militer yang meninggal? Justru tidak. Adinda menulis:
Aku diam, karena yang naik hanya namanya di koran
yang bahkan salah tulis, dari awal sampai akhir
tubuhnya tetap membusuk di tanah, dengan mimpi-mimpi
dimakan cacing
Dari bait itu, tercermin bahwa Adinda ingin menyampaikan kegagalan negara saat seorang tentara, yang juga warga negara dan berkeluarga, meninggal dunia. Bahkan, di tengah penghargaan yang tak seberapa itu, namanya tetap salah tulis dari awal sampai akhir. Konyol dan tragis.
Adinda sekali lagi, mengkritik kekuasaan yang congkak dan tak mengerti arti kehilangan dari seseorang yang memiliki keluarga: Surat kematiannya dikirim telegram/ hanya tiga baris/ kubaca berulang-ulang, hingga huruf-hurufnya lari ketakutan.
Di tengah kematian-kematian yang salah ditafsir negara tersebut, Adinda kembali menyodorkan kesan bahwa pada akhirnya, yang personal lebih kekal. Duka diri sendiri, lebih abadi.
Peristiwa keberdukaan itu, dilihat Adinda lebih sulit dihadapi perempuan. Asumsi saya, Adinda tak mengokohkan nilai bahwa perempuan lemah, tetapi memang berbagai kondisi ketidakadilan yang membuat mereka semakin rentan. Di pait penutup, kritik Adinda terhadap kematian mengukur lagi aspek kebudayaan itu:
Batara Kala tak lagi bertanya
ia menggeser antreanku ke urutan terakhir
lalu membiarkanku duduk di sini selamanya
dengan tiga piring yang tak pernah kuisi lagi
Saya jadi bertanya-tanya, di dalam barisan antrean Batara Kala yang dimaksud oleh Adinda, berapa persen perempuan dan berapa banyak laki-laki yang mengantre di sana? Berapa banyak kesedihan yang diperparah oleh buruknya tafsir kebudayaan dan busuknya sikap kenegaraan?
Duka dalam Peranti Puisi Adinda
Dua puisi tentang kematian itu cukup menampilkan bagaimana Adinda bersikap terhadap perasaannya, lingkungannya, hingga struktur kekuasaan negara yang menaunginya.
Sementara itu, puisi ketiga Adinda masih berbicara tentang duka, tetapi menggeser pertanyaannya ke hal yang cukup menantang untuk dijawab, setidaknya bagi saya. Pertanyaan itu ialah: sebelum menghadapi kematian itu sendiri, apakah seseorang patut mencecap duka untuk mempersembahkan kebahagian bagi orang lain? Dinda menawarkan tafsirannya, saya ambil contoh dari tiga bait acak ini:
Ibu rela mengecap sambiloto
merupa cinta tak terkira
demi putih susu dalam detakmu
demi reda tangis malammu
demi langkah gagahmu
demi napas hidup damaimu
…
Kini tiada lagi sepi
Ibu menyesap pahit dalam diri kami
menanggalkan kesedihan
menyisakan kebahagiaan
Dari penggalan puisi itu, Adinda tampaknya ingin menyampaikan gagasannya bahwa untuk bisa bahagia dalam hidup kita, pasti ada orang lain yang mempersiapkannya. Lalu, apakah kita akan melakukan hal serupa sebelum kita tiada? Adinda tak menyimpulkan jawabannya. Biarlah hati kita masing-masing yang berbicara, atau eksplorasi puisi-puisi Adinda ke depannya yang berkata.
Di puisi terakhirnya, Anasir Kata dan Bahasa, saya rasa Adinda ingin menyatakan manifestonya terhadap duka dan puisi. Ia membuka dengan pernyataan yang berani, tetapi dibungkus halus oleh kata “barangkali”: barangkali dari tinta dan kata, ia menjadi nabi dan dipercaya//. Lantas, nabi seperti apa dan perasaan manusia macam apa yang ingin Adinda tulis dan hayati dalam kata dan puisinya? Ia menulis begini:
Seperti Yusuf yang mengeja mimpi-mimpi raja
ia melihat kebahagiaan habis dimakan sunyi dan sepi
serupa kejayaan yang lahir, lantas mati
Ke mana seharusnya kita akan mencari diri
apakah cukup di hadapan kata dan bahasa semata
sebab perpustakaan telah benar-benar terbakar oleh lupa?
bukankah kata dan bahasa telah mati di hadapan manusia sejak lama?
Membaca puisinya ini, semakin menegaskan bahwa duka mungkin menjadi ketertarikan tema bagi Adinda dalam puisi-puisinya. Seperti buah ranum yang selalu ingin ia petik dari berbagai macam pohon cerita kehidupan yang dialaminya, atau cerita yagn ia baca.
Pertanyaannya, sejauh mana ia akan terus menempuh tema-tema tersebut? Apakah sanggup terus mereguk kegelapan dunia? Bagaimana ia bisa bertumbuh pada berbagai momen puitik lain dan tetap mampu memberikan daya padanya untuk membuat puisi utuh seperti empat puisi yang dibahas di sini? Pertanyaan itu tak patut dijawab lewat wawancara. Biarkan karya-karya berikutnya bicara. Jangan sampai, seperti yang ia katakan atau politisi dan pembelanya lakukan: kata dan bahasa telah mati di hadapan manusia. Setidaknya, ia sudah terlihat mulai mekar di empat sajaknya ini.
Pamungkas, membaca puisi-puisi Adinda berulangkali membuat saya terkadang tak sadar, kemampuan amatan dan tafsirnya terhadap dunia tak seperti remaja SMA pada umumnya. Sehingga ulasan ini juga tentu penuh bias atas pembacaan saya sebagai orang dewasa yang rumit dalam memaknai puisi jujur dan lincah seorang remaja. Namun, justru di titik ini juga saya menyadari, bahwa jika diberikan agensi yang memadai, anak-anak bisa bersuara lebih jernih dan lantang dari apa yang selalu kita tafsirkan, apa yang selalu kita coba wakilkan atas nama mereka.

