Fb. In. Tw.
Kristal Firdaus berpose dengan kemeja cokelat

Puisi-Puisi Kristal Firdaus

Monster (2023)

“If only some people can have it, that’s not happiness.
That’s just nonsense. Happiness is something anyone can have.”

Fushimi (Monster, dir. Hirokazu Kore-Eda)

 

kerangkeng warnawarni

dunia begitu biru hampir hijau

akukau tak berani

 

ibu berpesan

bapa bersumpah

 

ibu meyakini ada apaapa ibu curiga ibu Curiga

bapa menarikmu ke jalan yang benar
akukau tak pernah sakit
siapa monsternya? siapa Monsternya?

 

aku meragukan tiap keraguan
tetapi tubuh mengenal pasangnya mengenal semua muaranya

 

kebohongan terus hidup dalam episode ini

maka kita berlari mengejar ketiadaan

semua muasal keadaan

agar kita bisa membayangkan terus dihidupkan

 

mengapa kebahagiaan mesti akukau curi

mesti sembunyi & dibayangkan berulangulang

 

hingga mati berlari? sampai gosong kulit

murung krayon surat terbawa angin

meniti deritanya tak terbaca

terlalu lambat disadari

liar & bercahaya

(2026)

 

 

Hujan Bulan Bangga

Ada, selalu Ada kami di dunia yang ingin kami mati

kami seseorang

seorang anak seorang mahasiswa seorang pekerja seorang pecandu seorang pembaca seorang pekerja seks seorang pendiam seorang badut seorang yang tak menikah
seorang yang beriman seorang yang meninggalkan tuhantuhan
seorang yang meninggalkan rumah
seorang Ibu di masa depan seorang Putra juga Bapak
seorang yang taat seorang yang takut sebongkah Gelap semesta Cahaya
seorang bunglon seorang bintang seorang guru seorang penulis seorang pemarah
seorang yang hatinya terbelah seorang yang patah & berjalan
seorang pengembara seorang soliter seorang kolektif
seorang yang dianggap mengadangada

kami Longsor kami Gempa kami Banjir kami Tsunami kami Que Sera Sera
kami selalu Ada

tak menunggu musim hujan tak perlu keraguan & rahasia
tak perlu menabung ketabahan tak perlu bermimpi kebijakan tak perlu menjadi paling arif

deras kami selalu ingin kau hapus
impian yang pupus

kami Pohon berbunga merawat lidah & darah
dedaun yang hafal mati mengapa kami Ada
palung kami kalungkan di dada
terbitlah bunga Pelangi
yang tak meminta kau sangkal lagi

basahmu tiada terasah
kami akan menenggelamkanmu
dan tak perlu menunggu hujan bulan Juni

(2026)

 

 

 

 

 

 

 

 

patahan hari

Suffering is love untrainedDina Oktaviani

 

ketika hari ini datang

kau telah menangisi segala di antara
harihari kabur yang abu tanpa api

benarbenar tak perlu api untuk habis

kau menangis di antara percakapan paling menyenangkan

kau menangis di antara lagulagu untuk menangisi kesedihanmu yang lain

kau menangis di toilet kedaikedai kopi tanpa meminta kejelasan dari sesiapa

kau menangis

kau menang

kau mengais menang

kau mengiris inang

 

betapa bodohnya hati

selalu sedia menjadi bintang terakhir

yang tak menerangi apaapa

selain Gelapnya sendiri

memperjelas betapa kau dengan sukarela selalu kalah selalu menyapu abuabu itu untuk
kau tatap & menyaksikan kecilmu semakin kecil semakin menghapus jalan pulangnya sendiri kemudian siksaan seperti apalagi yang dapat melatih dirimu untuk mekar bersama rentan kasih–Tuhan ajarkan kami berhati.

 

(2026)

Kristal Firdaus, kelahiran 1999 di Tanjung Redeb. Berpetualang ke Samarinda sekaligus menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Mulawarman, program studi Hubungan Internasional. Ia suka menulis, memotret, berjualan dan kini giat menulis puisi dari cerita orang lain melalui mesin tik & pertanyaan yang ia ramu di @ngamen.puisi. Menjadi Emerging Writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025. Puisinya masuk ke dalam antologi Lapis Penyair Mutakhir Kalimantan Timur: Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (2023) & Annamot Press, In The Back of My Throat (2024) suntingan Norman Erikson Pasaribu & Tatevik Sargsyan. Buku puisi debutnya, Menidurkan Bahaya (2025) diterbitkan oleh Velodrom.

Post a Comment

You don't have permission to register