Tubuh Monyet, Topeng Manusia

820 510 Ilham Miftahuddin

“Topeng. Ia bersembunyi di balik topeng, sebab tanpa topeng, ia hanyalah seekor monyet. Tak lebih. Hanya melalui topeng manusia bisa mengenali si monyet sebagai manusia. Dan hanya melalui topeng, si monyet bisa menanggalkan dirinya, meletakkan diri-monyetnya di belakang, dan menjadi manusia yang bisa dipahami sesama manusia. Topeng merupakan perantara antara si monyet dan manusia.”1
(Eka Kurniawan).

“Saya mendapati diri saya suatu hari di dunia, dan saya mengakui satu hak bagi diri saya: hak untuk menuntut perilaku manusiawi dari orang lain.”2
(Frantz Fanon).

/1/
Tulisan ini berupaya mengkaji keinginan tokoh monyet dalam novel O karya Eka Kurniawan (Gramedia Pustaka Utama, 2016) untuk menjadi manusia. Salah satu upaya untuk mewujudkan hasratnya ialah dengan proses meniru tingkah laku manusia melalui sirkus topeng monyet. Proses peniruan juga dilakukan oleh pihak terjajah terhadap pihak penjajah untuk memenuhi hasrat yang ingin diakui keberadaannya.

Black Skin, White Masks (1952) karya Frantz Fanon disebut sebagai salah satu tonggak munculnya teori atau diskursus poskolonialisme. Diskursus poskolonialisme sendiri muncul untuk menganalis dampak serta akibat yang ditimbulkan oleh adanya kolonialisme, khususnya dalam dimensi budaya dan ideologi.

Dengan merdekanya negara-negara bekas jajahan Eropa (Barat), berakhir pula penjajahan atas negara tersebut. Meski yang berakhir hanyalah penjajahan bersifat fisik sementara penjajahan secara psikologis masih terus berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya kolonialis (penjajah) menancapkan ideologinya terhadap pihak terjajah, sebagai upaya untuk menaklukan dan menundukkan. Maka, relasi yang dibangun di antara keduanya memiliki sifat berkepanjangan dan hegemonik. Bahkan relasi ini melahirkan suatu traumatik kompleks bagi pihak terjajah.

Traumatik kompleks inilah yang kemudian dianalisis oleh Frantz Fanon dalam bukunya Black Skin, White Masks. Kolonialisme bukan saja menimbulkan penindasan fisik dalam bentuk perbudakan dan kerja paksa. Apa yang dilakukan kolonialis pada masa lampau, bukan sekadar eksploitasi terhadap tenaga jajahan beserta sumber daya alam demi mendapat akumulasi keuntungan yang melimpah, melainkan telah ikut merusak kejiwaan atau mental masyarakat jajahan.

Sebagai seorang intelektual kulit hitam, Fanon tak hanya menyelidiki gejala psikologis kaumnya dalam persoalan identitas -sebagai kulit hitam ketika berhadapan dengan kulit putih yang superior. Ia juga menyuarakan pengalamannya yang mengalami keterasingan, terpenjara di antara dua kutub budaya yang berlawanan yang sama-sama menolaknya. Masyarakat kulit hitam menolaknya karena dianggap telah meninggalkan akarnya. Begitu juga dengan masyarakat kulit putih, yang meski intelektualitasnya telah mampu menyamai atau bahkan mengungguli kulit putih, ia tetap tak dapat masuk atau diterima sebagai masyarakat Eropa.

Di samping Fanon, Edward Said, melalui bukunya Orientalisme dianggap sebagai penyambung dan titik awal keberangkatan referensi poskolonialisme. Orientalisme dapat pula dikatakan sebagai gaya berpikir, baik secara ontologis maupun epistemologis, yang membedakan antara dunia Timur dengan dunia Barat.3 Menimbulkan stereotip Timur negatif, tidak logis, bahaya, terbelakang, dan sebagainya.

Sekalipun kolonialisme telah berakhir, stereotip dari hasil cara berpikir orientalis, terus diulang-ulang hingga saat ini. Sehingga apa yang melekat pada identitas Barat selalu menjadi dambaan bagi masyarakat Timur. Sebagai seorang dokter kejiwaan, Fanon menganalisis gejala kejiwaan kulit hitam yang inferior di hadapan sang bekas majikan, kulit putih.

Bahkan, kompleks inferioritas juga dialami oleh orang kulit hitam yang telah terdidik secara modern (pendidikan gaya Eropa). Peniruan dilakukan oleh masyarakat jajahan dan bekas jajahan agar dianggap sama dengan para kolonialis. Atau untuk membebaskannya dari rasa rendah diri. Hal itu juga didorong oleh hasrat untuk memiliki identitas yang diakui keberadaannya.

Seperti yang dikemukakan oleh Bhabha, peniruan ini disebut sebagai mimikri. Barat mencoba mendidik Timur supaya lebih beradab, menerapkan standar-standar Barat terhadap Timur. Masyarakat jajahan kemudian meniru gaya-gaya Barat, meskipun peniruan itu tak akan pernah sempurna, sejalan yang diungkapkan oleh Bhabha “almost the same but not quite”. Meski konsep mimikri ini merupakan strategi yang efektif untuk mendisiplinkan pihak terjajah agar mengikuti kemauan kolonialis, Bhabha menerangkan bahwa mimikri juga merupakan salah satu strategi pihak terjajah, sebagai upaya reformasi kolonialisme sehingga menimbulkan sikap ambivalensi atau mendua.4

***

Poskolonialisme merupakan kajian budaya. Maka, pendekatan konsep dan teorinya dapat diterapkan terhadap analisis atau kritik sastra. Karya sastra dianggap mampu menggambarkan gejala sosial yang terjadi di dalam realitas masyarakat. Termasuk masyarakat yang mengalami penjajahan.

Dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya, sang tokoh utama bernama Minke, bukan nama sebenarnya melainkan pemberian dari guru Belanda yang mempelesetkannya dari monkey, kera dalam bahasa Inggris. Pemberian nama yang sebetulnya rasis. Sebagaimana para kolonialis Belanda yang memandang pribumi tak ada bedanya dengan kera ini malah dianggap sebagai anugerah bagi keluarga Minke. Paradoksal seperti itu juga dapat dikaji melalui teori poskolonialisme. Terutama dalam membongkar oposisi biner yang diciptakan oleh kolonialis, dan bagaimana pribumi dapat melepaskan diri dari stereotip Barat sehingga menemukan identitas baru. Benar-benar baru dalam artian lepas dari identitas ciptaan dan rekaan Barat.

Pembacaan karya sastra melalui kaca mata poskolonialisme, dapat juga membongkar ideologi atau cara pandang pengarang dalam melihat oposisi biner antara Barat dan Timur. Seperti dalam esai M. Irfan Zamzani yang berjudul “Polarisasi Barat dan Timur dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori, Sebuah Perspektif Poskolonialisme”.5 Dalam esainya, Zamzani menyajikan bagaimana pengarang, melalui tokohnya, meneguhkan superioritas Barat atas Timur.6 Oposisi biner itu juga dinyatakan sangat jelas dalam penggunaan diksi si pengarang, dengan menyebut Barat sebagai “jelas” dan Timur sebagai “gelap”.7

Teori sastra poskolonialisme memang lebih banyak dikembangkan untuk mengkaji karya sastra dengan latar cerita kolonialisme. Meski demikian, lingkup kajian poskolonialisme sangat luas cakupannya. Day dan Foulcher, menyebutkan bahwa yang menjadi objek dalam kajian poskolonialisme berkenaan dengan bahasa, kanonisitas, mimikri, ambivalensi, dan hibriditas.8

Seperti novel fabel Animal Farms karya George Orwell yang dianggap sebagai kisah alegori relasi kuasa antara kapitalisme dan anti-kapitalisme yang kemudian dapat dikaji melalui pendekatan sosiologi sastra. Maka, seperti yang disebutkan di awal, tulisan ini juga akan berupaya mengkaji upaya peniruan tokoh monyet dalam novel O karya Eka Kurniawan yang memiliki hasrat untuk menjadi manusia.

/2/
Novel O karya Eka Kurniawan merupakan cerita semi-fabel. Disebut semi-fabel, sebab ceritanya tak serta merta mengisahkan tentang dunia binatang sebagaimana ciri-ciri dari cerita fabel itu sendiri. Sekalipun kisah utamanya ialah tentang seekor monyet betina yang bercita-cita menikahi seorang kaisar dangdut. Di dalam novel O terdapat pelbagai kisah lain, tak terkecuali kisah-kisah manusia yang saling bersinggungan dengan kisah utamanya. Setiap tokoh dalam novel ini punya sejarah dan masa depannya masing-masing. Dengan menggunakan plot yang dinamis sehingga dapat saling bersinggungan satu sama lain, baik secara langsung maupun tak langsung. Dengan begitu, semua tokohnya memiliki beban cerita yang sama dan saling melengkapi dalam membuat sebuah cerita utuh.

Novel O bercerita tentang seekor monyet betina bernama O, memimpikan bahwa suatu hari akan menikah dengan kekasihnya, monyet pejantan bernama Entang Kosasih. Masalahnya kemudian, Entang Kosasih, pemuda yang bebal itu tiba-tiba memiliki keinginan yang luar biasa: menjadi manusia. Keinginan tersebut bukan lahir dari pikiran kosong atau mengada-ada.

Diceritakan pula suatu legenda tentang seekor monyet yang berhasil berubah menjadi manusia. Monyet legenda itu bernama Armo Gundul. Kisah tentang Armo Gundul ini terus diceritakan oleh para tetua monyet kepada monyet-monyet yang lebih muda. Kisah ini begitu memberi ilham kepada para monyet muda agar mengikuti jejak sang legenda, tak terkecuali Entang Kosasih.

Persoalannya, “enggak gampang jadi manusia.”9 Beberapa monyet berusaha mengikuti jejak Armo Gundul, hampir semuanya gagal. Satu-satunya cara untuk mengikuti jejak Armo Gundul adalah mengikuti sirkus topeng monyet, seperti yang diceritakan oleh para tetua monyet.

“Sang aulia mengajak si monyet berkeliling dari desa satu ke desa lain, mempertunjukkan sirkus topeng monyet. Monyet itu tak hanya belajar kanuragan, tapi terutama belajar keutamaan menjadi manusia, sementara sang aulia menjadikan sirkus topeng monyet itu untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.”10

Maka, tidak sedikit monyet yang keluar dari tempat mereka di Rawa Kalong, berharap dapat bertemu dengan rombongan sirkus topeng monyet seperti kisah sang legenda heroik mereka. Itulah juga yang dilakukan oleh O untuk menyusul kekasihnya yang telah berhasil menjadi manusia.

O meyakini Entang Kosasih berhasil menjadi manusia dan kemudian hari dikenal sebagai Kaisar Dangdut. O sangat meyakini bila kekasihnya itu telah berhasil menjadi manusia, ketika di suatu sore monyet itu menembak mati seorang polisi bernama Joni Simbolon, menembak dengan sepucuk revolver yang dicurinya dari polisi bernama Sobar.11

Memang, setelah penembakan itu, Sobar menembak tepat di kening Entang Kosasih. Namun, tak ada yang dapat menemukan bangkai tubuhnya.

Proses metamorfosis Entang Kosasih menjadi manusia diawali dengan kepercayaannya tentang kebenaran kisah Armo Gundul. Dengan mengikuti jejak dan cara-cara Armo Gundul, setiap monyet memiliki kesempatan menjadi manusia. Sementara, Armo Gundul sendiri berhasil menjadi manusia setelah berguru pada seorang aulia dengan maksud untuk belajar ilmu kanuragan, demi membalaskan dendamnya pada seorang dukun jahat yang telah membantai orang-orang kampung, termasuk satu keluarga yang telah merawatnya.

Lewat gurunya itu, Armo Gundul justru belajar tentang keutamaan menjadi manusia melalui sirkus topeng monyet. Dalam novel ini, sebetulnya tak disebutkan apakah Armo Gundul memiliki keinginan atau cita-cita menjadi manusia. Satu-satunya tujuan Armo Gundul berguru ialah untuk menuntaskan dendamnya. Namun, dalam penggambaran kisah tersebut mirip dengan proses memperadabkan Timur oleh Barat. Yakni dengan upaya mimikri yang di awal tulisan telah disinggung, yang disebut oleh Bhabha sebagai proses menundukkan atau mendisiplinkan pihak terjajah.

Kita juga masih ingat, bagaimana kulit hitam dianggap sebagai missing link, atau proses yang hilang dalam evolusi kera menjadi manusia. Sehingga, kulit hitam mendapat stereotip sebagai biadab, kanibal, terbelakang, dan kulit putih adalah kebalikan dari kulit hitam. Akibatnya, banyak orang kulit hitam yang ingin meninggalkan “kehitamannya”.12

Setelah berhasil menuntaskan dendamnya, Armo Gundul berubah menjadi manusia. Hal inilah yang kemudian diceritakan para monyet kepada generasi-generasi selanjutnya dan mengilhami hampir semua monyet muda, tak terkecuali Entang Kosasih. Namun tak seperti pendahulunya, Entang Kosasih merintis jalannya sendiri untuk menjadi manusia, seperti yang diungkapkannya, “Jika tak ada pawang sirkus monyet yang akan mengajariku menjadi manusia, aku akan mengajari diriku sendiri.”13

Kemudian, serangkaian upaya “mengajari diriku sendiri” itu mulai dilakukan Entang Kosasih. Melalui proses peniruan terhadap tingkah laku manusia, seperti saat ia mencoba naik ke atas sepeda roda tiga dan mencoba mencurinya, atau saat ia meniru perilaku tukang ojeg yang menghisap kretek. Proses peniruan yang dilakukan Entang Kosasih, merupakan upaya untuk meninggalkan identitas dirinya sebagai monyet, dengan membentuk identitas baru bagi dirinya sebagai manusia. Tak sekadar meniru, Entang Kosasih juga mulai berpikir untuk berasimilasi dan hidup bersama-sama dengan manusia.14

Hingga di kemudian hari, bukan sekadar tingkah laku manusia yang ditirunya, melainkan keutamaan-keutamaan menjadi manusia sebagaimana yang dipelajari oleh pendahulunya, Armo Gundul.

“Menjadi manusia, O, berarti kita harus belajar menjadi bagian dari mereka. Jika seorang bocah disakiti, kita harus merasa sakit, seperti sekujur tubuh merasa sakit ketika kaki kita terluka. Tanpa itu, tak ada manusia. Tanpa belajar menghayati hal tersebut, tak mungkin seekor monyet menjadi manusia.”15

Entang Kosasih menyadari bahwa untuk menjadi manusia, bukan sekadar meniru gaya dan perilaku manusia, melainkan juga cara berpikir dan bertindak sebagai manusia. Hal itu juga diungkapkan Entang Kosasih saat bermain-main dengan revolver yang direbutnya dari Sobar.

“Dengar, O,” kata Entang Kosasih. “Kau tahu kenapa manusia menciptakan benda ini? Kau tahu apa artinya? Ini hanya ada satu arti, bahwa manusia membunuh manusia yang lain. Apa pun alasannya, itu terjadi, dan tentu mereka memiliki alasan. Aku manusia, aku akan menjalani hidup sebagai manusia. Aku membunuh monyet tengil itu bukan tanpa alasan.”16

Berbeda dengan Entang Kosasih yang berhasil berubah menjadi manusia melalui proses “mengajari diriku sendiri”. O mengambil jalan untuk bergabung dengan sirkus topeng monyet dan bertemu dengan pawang bernama Betalumur untuk belajar meniru tingkah laku manusia. Hasrat O begitu kuat sehingga ia menerima dengan pasrah setiap perlakuan Betalumur.

Dalam novel ini, yang menarik bukan apakah O atau Entang Kosasih berhasil menjadi manusia, melainkan keinginan serta upaya keduanya untuk menjadi manusia. Keinginan itu, mengindikasikan kekurangan dalam identitasnya. Dengan menjadi manusia sebagaimana pihak terjajah yang ingin menjadi bagian dari kolonialis, diyakini dapat memenuhi rasa kekurangan tersebut. Maka, dalam diri O, topeng monyet adalah manifestasi hasratnya untuk menjadi manusia sebagai bentuk kepenuhan dan kesempurnaan.

Setiap kali topeng itu dipasang ke wajahnya, sesuatu berubah dalam diri O. Ia bisa menjadi ibu rumah tangga yang harus belanja beras berkutu selundupan dari gudang Biro Umum Logistik. Ia menjelma serdadu yang boleh menembak siapa pun, dari gerilyawan Papua Merdeka hingga para jihadis yang memimpikan negara syariah. Ia menjadi biduan yang mendendangkan lagu penghibur hati dari satu pintu ke pintu lain. Ia menjadi dukun yang meramalkan nasib baik dan buruk. Ia menjadi ratu yang memimpin sebuah negeri dan tak memedulikan penduduknya.

“Topeng-topeng ini, Anjing Kecil, akan menjadikanku manusia.”17

Dengan topeng manusianya, O berharap bukan saja ingin menyamarkan identitasnya, melainkan menghilangkan tubuh monyetnya.[]

Catatan Kaki

  1. 2016. O. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 48.
  2. 2016. Black Skin, White Masks. Yogyakarta: Jalasutra hlm. 185.
  3. 2010. Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukan Timur Sebagai Subjek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 3.
  4. 1984. Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse. New York: October Vol. 28, hlm, 125-133.
  5. Mawardi, dkk. 2014. Memasak Nasi Goreng tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.
  6. Ibid, 70-81.
  7. Ibid, 74.
  8. Day dan Foulcher. 2008. Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV, hlm. 5.
  9. 2016. O. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 1.
  10. Ibid, 231.
  11. Ibid, 223.
  12. 2016. Black Skin, White Masks. Yogyakarta: Jalasutra, hlm. 2-3.
  13. 2016. O. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 14.
  14. Ibid, hlm 227.
  15. Ibid, 212
  16. Ibid, 240.
  17. Ibid, 49