Paria, Penindasan dalam Kasta

820 820 Rafqi Sadikin

Penindasan adalah realitas kita setiap hari. Terjadi, tapi tak kita sadari. Kemunculannya diawali dari kehadiran suatu golongan lebih tinggi. Dalam artian lain, golongan lebih tinggi itu sangat spesial berdasarkan aspek kehidupan. Tentu saja dengan keistimewaan itu membuat individu atau golongan menjadi nyaman dan bisa bertindak semena-mena. Dengan itu, penindasan adalah keniscayaan selagi masih ada kelas dan penggolongan.

Karya sastra hadir sebagai mimesis dari realitas tersebut. Sejak berabad-abad, era ke era, sastrawan pernah menghadirkan masalah penindasan. Semisal di Indonesia, Semaoen menulis Hikayat Kadiroen sebagai perlawanan atas kolonialisme. Pramoedya Ananta Toer dengan Sekali Peristiwa di Banten Selatan menceritakan ketertindasan kelas.

Satu nama mesti kita kenal datang dari India. Mulk Raj Anand. Ia dikenal sebagai Charles Dickens dari India. Sebagai penulis, ia cakap memotret realitas dengan menghadirkan kenyataan bahwa India penuh dengan masalah. Dalam novelnya Paria (Mimamsa, 2018), Anand mengangkat permasalahan penindasan di India.

Ditulis pada masa kolonialisme Inggris di India, ketertindasan bukan hanya datang dari kaum penjajah, tapi sesama kaum Hindu India pula. Penindasan tersebut terjadi atas nama tradisi dan kasta.

Paria merupakan kasta paling rendah dalam sistem kasta agama Hindu. Paling bawah di antara Brahmana, Ksatria, Waysa, dan Sudra. Jika terendah ke-4, Sudra masih dianggap sebagai manusia, Paria jauh dari perlakuan manusiawi. Kaum Paria hanyalah pembersih kakus, penyamak kulit, tukang cuci, dan macam pekerjaan kasar lain. Parahnya, Paria jarang sekali tertulis dalam buku-buku sejarah karena dianggap aib dalam kehidupan India.

Dalam novel ini, Anand memfokuskan cerita pada penindasan kaum Paria. Penggambaran soal kondisi lingkungan dan sosial. Anand begitu eksplisit menyampaikan keadaan realitas saat itu. Begitu nyata dan berlainan dengan India hasil penggambaran dari kebanyakan film dan sinetron televisi.

Melalui Bakha, tokoh utama dalam cerita, kita diajak memasuki keresahan hidup seorang, sekeluarga, bahkan sekoloni kaum Paria. Bakha sendiri menjalani hari-hari dengan membersihkan kakus. Parahnya, sanitasi di India terkenal buruk.

Selain membersihkan kakus, sebagai kaum Paria, ia harus terima semua perlakuan semena-mena dari orang berkasta lebih tinggi. Paria tak boleh menyentuh, menginjakkan kaki ke rumah mereka, dan masuk kuil. Bahkan, ketika itu dilakukan tanpa sengaja. Jika melanggar, persekusi pasti terjadi.

“Berjalanlah di pinggir, dasar kau binatang paria hina!” tiba-tiba dia mendengar seseorang meneriakinya. “Kenapa kau tidak mengumumkan kehadiranmu, suar ka bacha! Tahu tidak, kau sudah menyentuhku dan mengotoriku, dasar kau anak binatang cacat dan sinting! Sekarang aku harus mandi lagi untuk menyucikan diriku. Dan baru pagi tadi aku memakai baju dan dhoti baru ini!”

Bakha berdiri kebingungan, merasa malu. Dia merasa tuli dan tolol. Indra-indranya mati rasa. Hanya rasa takut yang mencengkeram jiwanya; rasa takut, kerendahan hati, dan sikap budak. Dia terbiasa diteriaki orang lain. Tapi dia jarang merasa sekikuk ini. Senyumnya yang rendah hati dan sukar dipahami, yang biasanya terpasang di bibirnya ketika bersua dengan orang dengan kasta tinggi, kini tampak semakin kentara. Dia mengangkat wajahnya ke hadapan pria yang memakinya, meski matanya tetap menunduk ke bawah. Lalu dia mencuri pandangan sekilas ke si pria. Tampak olehnya sepasang mata yang memerah dan membara. (hlm. 44)

Jika bukan Paria, Bakha tentu tak akan dimarahi sehina itu. Akan tetapi, Bakha adalah Paria. Ketika tiap orang dari kasta lebih tinggi memaki, ia hanya bisa diam, tersenyum, dan terima saja. Kaum Paria tak bisa melakukan apapun.

Menariknya, tokoh Bakha memiliki ketegangan psikologis. Benturan antara realitas dan keinginan. Sebagai Paria, ia berpikir untuk tampil sebagai seorang Inggris. Hal itu tentu saja sangat sulit dilakukan seorang Paria.

Ia menolak kehidupan ‘berminyak’ dari kaumnya. Kebiasaan jorok semua kasta di India. Namun, semua itu cuma terjadi di kepalanya. Setiap Bakha ingin merealisasikan buah pikirannya, selalu ada parasit tertanam dalam kepalanya: Aku seorang paria.

Bakha tahu kalau dia adalah tukang bersih, tapi dia tak bisa secara sadar menerima fakta itu. Dia mulai bekerja di kakus ketika berumur 6 tahun untuk meneruskan silsilah profesi keluarganya, tapi mimpinya adalah menjadi seorang sahib. Beberapa kali, dia sempat terpikir untuk belajar sendiri. Kehidupan di barak prajurit Inggris telah menyalakan imajinasinya. Dan dia sering duduk di waktu luangnya dan berusaha membayangkan seperti apa rasanya membaca. Baru-baru ini, dia membeli sebuah buku ajar bahasa Inggris untuk pemula. Tapi pendidikan otodidaknya tidak melampaui penguasaan aksara. Hari ini, selagi dia berdiri di bawah naungan mentari dan menatap si bungsu yang dengan gigih menarik abangnya ke sekolah, sebuah dorongan tiba-tiba muncul dalam dirinya untuk meminta anak babu ini mengajarnya membaca. (hlm. 35)

Bakha memiliki keinginan untuk maju. Ia ingin sekali bisa membaca, mulai dari buku-buku cerita, sampai ke reklame-reklame, setiap ia pergi ke kota. Namun, sekali lagi, karena dia Paria, hal itu sungguh sukar diwujudkan.

Sekali lagi, Anand begitu kuat menghadirkan realitas dalam novel ini. Seolah berupaya mengkritik sistem sosial negaranya. Kasta paling bawah harus menerima, sedang kasta di atasnya boleh bertindak semena-mena, bahkan cenderung amoral, dekaden, dan tidak beradab.

Baca juga:
Merentang Ruang Nur Utami S.K
Darah Muda: Problematik Pendidikan

Novel ini tidak dibagi dalam bab atau judul.  Membaca novel Paria ini, kita seakan dibawa pada alur cerita ‘sehari’ Ulysses karya James Joyce. Sebuah upaya penggambaran keseharian yang tidak menyenangkan dalam menjalani hidup sebagai seorang paria.

Selain itu, Mulk  Raj Anand turut menghadirkan peristiwa berubahnya tatanan kasta di India. Dalam cerita, Bakha akan menemukan tokoh inspiratif baginya. Tokoh tersebut kelak memberikan pemahaman tentang kebebasan dari kasta pada Bakha.  Siapa dia? Silakan dibaca: Paria, Mulk Raj Anand.[]

Identitas Buku
Judul Buku      : Paria
Penulis              : Mulk Raj Anand
Penerbit           : Mimamsa
Penerjemah    : Stanley Khu
Tahun terbit    : 2018
Tebal buku      : vii+168 halaman

Rafqi Sadikin

Rafqi Sadikin

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, bergiat di ASAS UPI.

All stories by:Rafqi Sadikin
Leave a Reply

Rafqi Sadikin

Rafqi Sadikin

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, bergiat di ASAS UPI.

All stories by:Rafqi Sadikin
error: