Marjinalitas dalam Mega Mega

820 820 Zulfa Nasrulloh

Kita tak pernah mendapatkan apapun
Tapi kenapa kita selalu merasa kehilangan
(Arifin C. Noer)

Pertanyaan pada kutipan di atas dilemparkan Mae pada terang bulan. Malam itu semua orang yang biasa menemaninya telah pergi bersama nasib mereka sendiri. Di sudut kumuh sebuah kota, akhirnya perempuan tua itu kembali pada dirinya yang tak pernah mendapatkan apapun selain kehilangan. Suatu akhir cerita yang tragis.

Dramatik peristiwa yang terjaga. Penciptaan karakter yang beragam dan penghayatan yang dalam. Musik dan tata cahaya yang proporsional membuka pintu tafsir. Demikianlah garis besar keunggulan pertunjukan Mega Mega karya Arifin C. Noer yang dipentaskan di Gd. Dewi Asri ISBI Bandung (15/11/2018) dalam rangka Tugas Akhir Pemeranan Mahasiswa ISBI Bandung bimbingan (sutradara) Iman Soleh dan Tatang Abdullah.

Mega Mega merupakan naskah yang bercerita tentang persoalan masyarakat kelas bawah. Tokoh-tokoh marjinal itu memiliki harapan dan persoalan hidup yang bisa kita dengar dari teks dialog mereka. Rasa-rasanya dalam kehidupan sehari-hari, tidak mungkin alam pikir masyarakat di kelas tersebut bicara tentang persoalan hidup dengan begitu aforismatif. Aforisma itu tentu saja suara Arifin. Ini jelas persoalan yang menantang bagi siapa saja yang menggarap naskah ini. Bagaimana mengemas aforisma kehidupan dalam dialog tokoh secara logis dalam logika pertunjukan.

Kaum Marjinal
Ada siasat dari pertunjukan ini untuk menunjukkan persoalan kaum marjinal. Sejak awal, panggung tidak dibuat realis. Kita tidak akan menemukan gubuk, pohon beringin, bulan, dan sebuah miniatur kampung di atas panggung. Potret kemiskinan itu adalah hamparan kardus yang menutup seluruh panggung arena tapal kuda. Penonton yang berada di tribun akan dengan jelas melihat bagaimana siasat panggung ini memberi impresinya. Tokoh-tokoh itu, kemanapun mereka bergerak, tetap berada di atas alas kardus, hamparan kemiskinan.

Di ruang itu, rupanya seluruh tokoh adalah pendatang. Mereka bahkan datang pada benak pembaca dengan membawa masa lalu yang beragam. Mae, perempuan tua yang tak pernah memiliki anak karena mandul. Ia hidup sendiri dan selalu menganggap siapa saja yang datang dalam kehidupannya sebagai anak. Tokoh ini diperankan Rahmah Farhanita dengan tipikal perempuan tua yang bongkok, bersuara serak, dan pemarah. Mae begitu tempramen saat memberi wejangan dan perintah pada setiap orang di sekelilingnya. Ia posesif dan merasa perlu didengar. Intensi dari emosi tersebut dengan sangat baik diperankan Rahmah. Terutama karakter suara Mae yang terjaga dan menemukan kekhasannya saat perempuan tua itu berbisik, berteriak, merintih, dan menjerit.

Retno, seorang pelacur yang diperankan oleh Yunita Fujiyama, merupakan perempuan dengan trauma hidup berkeluarga. Ia cerai dan sempat membunuh bayinya sendiri. Baginya tak ada lagi bayangan tentang kehidupan normal sebuah keluarga. Terutama pada babak awal pertunjukan itu, ia baru saja ditinggal Tukijan, lelaki yang memutuskan pergi mencari peruntungan ke Sumatra. Pada adegan-adegan di awal pertunjukan, amat terasa bagaimana Yunita menunjukkan sifat frustrasi melalui perannya sebagai Retno. Ia memanggil setiap lelaki yang lewat, menceritakan kisah kematian anaknya dengan raut wajah biasa saja dan cenderung menyepelekan peristiwa yang sebetulnya berat tersebut. Pilihan ekspresi yang tidak tipikal tentang kesedihan ini, saya kira amat kuat diperankan Yunita dalam menunjukkan sikap kecewa dan frustrasinya.

Panut adalah salah satu yang cukup berkesan dalam pertunjukan ini. Porsinya memang tidak begitu banyak selama pertunjukan, namun cara Fahadpa Alfaj membangun tokoh ini sangat kuat. Kedewasaan merupakan persoalan utama Panut. Hal ini juga disinggung Mae, dengan memintanya untuk bekerja dan berhenti mengemis dan mencuri. Dari karakter ini, kita melihat bagaimana Arifin memaparkan satu gejala sosial tentang pekerjaan sebagai mentalitas masyarakat. Bagi Panut, mencuri atau meminta-minta adalah juga bekerja. Sementara bagi Mae, bekerja adalah menjadi seorang kuli (mengerjakan sesuatu secara fisik atau keringat sendiri).

Tokoh lain yang juga muncul lebih awal adalah Hamung yang diperankan oleh Samuel Leonardi. Tokoh ini sejak awal dimunculkan dengan karakter yang kasar. Perannya setara dengan Panut, hanya dari sisi yang berbeda. Tokoh ini tampak dewasa. Kedewasaan itu dilihat dari berulangkali ia merasa dirinya paling baik dari Panut. Samuel tidak membangun ciri khas pada tokoh ini, selain jalannya yang pincang. Intensi dari dialog tokohnya terkesan berubah-ubah dan terkadang marah tidak pada tempatnya. Marah yang masih dengan tipikal yang berteriak-teriak. Saya sempat berpikir tokoh ini memiliki tingkat kuasa yang tinggi di lingkungan itu, tetapi kemudian cerita tidak mengarah pada hal tersebut. Sebetulnya ada peluang yang kurang dioptimalkan Samuel yang menjadi potensi tokoh Hamung, yakni sifat pragmatis.

Tokoh yang bertentangan dan mendapat porsi besar dalam cerita ini sebetulnya adalah Tukijan yang diperankan oleh Ifan Sandekala dan Koyal yang diperankan oleh Bachrudin Said. Koyal merupakan seorang lelaki penuh khayalan. Ia selalu mengharapkan kehidupan yang dilimpahi uang, tetapi ia sendiri tak pernah bekerja. Satu-satunya usaha mencapai kegemilangan harta itu ialah dengan mengikuti undian lotre. Bahkan ketika nomer undian lotrenya tinggal satu angka lagi menuju cocok, ia kegirangan seolah telah mendapatkan undian tersebut. Orang tuanya diakui sebagai lurah dan telah meninggal dunia.

Bachrudin memerankan Koyal dengan karakter yang bisa disebut mirip orang gila. Rambut Koyal diikat kuncir satu, menjulang konyol di tengah kepalanya. Berlari-lari begitu lincah dan tertawa begitu lepas saat harapan dan keinginannya terjadi. Tetapi kemudian memberengut kusut, mengeluh kuyu, bahkan menangis saat situasi yang diharapkannya tidak terjadi. Perpindahan emosinya begitu cepat. Hal ini menunjukkan suatu pribadi yang labil, ekspresif, dan tidak rasional. Cara berpakaiannya pun tidak menunjukkan pribadi yang normal.

Jika Koyal menyandarkan harapannya pada lotre atau suatu peruntungan. Tukijan menyandarkan harapannya pada kehidupan baru di perantauan. Ia mestinya berangkat hari itu menggunakan kereta, mengikuti program transmigrasi. Tetapi ia menunda keberangkatannya disebabkan Retno. Ia tak bisa berangkat tanpa kekasih hatinya itu.

Dalam pertunjukan ini semua tokoh bicara dalam dua ragam dialog. Ragam teks yang saya yakini merupakan dialog di dalam naskah Arifin, dan ragam lisan atau dialog sehari hari yang natural hasil dari pengembangan dialog teks Arifin. Pada ragam lisan ini semua tokoh berinteraksi satu sama lain secara natural, dan penuh penambahan atau improvisasi. Dua ragam yang dibuat jelas batasnya ini, sangat baik untuk menyiasati naskah Arifin yang terlalu puitis dan aforismatif.

Siasat Tata Cahaya dan Musik
Persoalan mulai tampak saat Tukijan tak jadi berangkat dan Koyal mulai bicara pada beringin, rumput, dan bulan. Beringin hadir di dalam pertunjukan sebagai bentuk bayangan beringin di latar panggung, bulan hadir sebagai sorot cahaya yang disertai bunyi denting, dan rumput adalah penonton. Ketiganya muncul saat tokoh-tokoh berinteraksi saja, tidak hadir terus menerus di atas panggung. Bagi saya siasat panggung ini memperkuat kehadiran bulan, beringin, dan rumput sebagai subjek. Ketiganya bukan latar, bukan objek, tetapi subjek, meski pasif atau tak bisa berbicara.

Pada suatu malam saat orang-orang sudah mulai tertidur, Koyal bicara pada rumput, beringin, dan bulan tentang harapan-harapannya. Ini semacam fase delusif Koyal. Lalu sampailah ia menunjukkan nomor lotre yang tak disangkanya menang malam itu. Lotrenya memuat nomor yang cocok dengan nomor undian yang dirilis sebuah koran di tangannya. Ia girang bukan kepalang, membangunkan semua orang, dan semua orang pun terperanjat, sontak gembira mendengar kabar itu. Kecuali Tukijan, saat dibangunkan, ia marah dan hendak memukul Koyal. Tetapi Mae mencegahnya, dan meminta Tukijan kini mesti mematuhi apa kata Koyal. Dengan marah yang ditahan, Tukijan menurut perintah Koyal untuk mengatakan, bahwa ia memenangkan lotre malam itu.

Mereka pun berkelana merayakan kemenangan dengan Koyal sebagai pimpinannya. Mereka berangkat ke Bank terdekat untuk mencairkan uang, kemudian mencari barang yang mereka kehendaki, makanan yang diinginkan, minuman dengan nama-nama menggelitik, sebuah istana, seolah seluruh uang itu mesti habis malam itu juga.

Baca juga:
Alih Wahana Bunga Penutup Abad
Ronggeng dalam Cengkeraman Militer Jepang

Euforia dalam panggung itu dibuat menanjak, memuncak, lewat eksplorasi artistik, tata panggung dan lampunya. Mereka mengeksplorasi barang-barang di sekitar mereka yang tak lain merupakan kardus dan sarung. Benda-benda keseharian yang mewakili alam marjinal itu, secara imajinatif mereka ibaratkan sebagai makanan, sebagai kendaraan, sebagai seekor kuda, topi, atau pakaian kebanggaan. Imajinasi yang satir secara visual. Menampilkan benturan antara kenyataan dan bayangan dari kenyataan tersebut.

Penonton dibawa pada satu imajinasi ke imajinasi lain. Semua tokoh mesti menurut pada Koyal. Tetapi dengan gaya peristiwa yang sama, Tukijan selalu menolaknya, Koyal selalu kecewa dengan gaya kekanak-kanakannya, Mae marah danĀ  memerintah, sehingga Tukijan akhirnya menuruti dengan amarah yang terpendam. Pengulangan adegan ini berhasil menghibur penonton dari berlarat-laratnya petualangan imajinasi Koyal yang satir.

Adegan itu memiliki beberapa keberhasilan. Pertama memberi satu sajian pertunjukan yang satir. Imaji atau bayangan Koyal telah memberi pemisahan visual dan perlakuan pada visual. Kegilaan Koyal itu diamini seluruh tokoh lain, sehingga logika cerita terbangun. Satu-satunya orang yang menolak ini yakni Tukijan. Barangkali ia diposisikan sebagai orang yang mewakili sangkaan penonton pada ketidaklogisan peristiwa. Tetapi keadaan mendesak Tukijan. Petualangan imajinatif ini berhenti saat Koyal membayangkan dirinya sebagai raja, dan meminta seluruh bawahannya pergi beristirahat. Jelas benar, peristiwa ini meniru alam mimpi. Mimpi telah melogiskan petualangan yang dimulai dari seluruh tokoh yang tertidur nyenyak dan berakhir pada kembalinya mereka pada posisi tidur. Sebuah alur melingkar. Bagi saya permainan adegan ini sangat kuat dan tepat, mengingat juga alam mimpi merupakan pecahan-pecahan peristiwa yang meloncat-loncat dan biasanya terdiri dari sketsa-sketsa kehidupan yang figuratif.

Adegan kembali pada posisi tidur. Ini adalah penanda, ciri dari keadaan imajinatif yang kembali pada keadaan yang sebenarnya. Koyal pun berpindah ke sudut lain setelah pengembaraannya. Ini juga menegaskan keadaan yang berbeda. Di keadaan ini Koyal menggumam tentang perasaannya pada Retno. Kemudian Tukijan yang tidak benar-benar tidur, mengintrogasinya, menegur dan hendak membunuhnya. Kemudian seluruh orang bangun. Adegan diakhiri oleh Tukijan yang menyobek kertas undian lotre, satu satunya harapan yang Koyal miliki.

Keadaan yang menyenangkan dan menakjubkan itu, segera berganti pada realitas yang sebenarnya. Kini arah empati penonton diarahkan pada Mae. Mae bersedih karena Koyal pergi dari sudut kumuh itu setelah harapannya dirobek Tukijan. Panut datang lagi dengan uang banyak, ciri bahwa ia telah dewasa. Tetapi Mae tak percaya uang itu hasil keringatnya. Baginya, kedewasaan adalah bekerja dengan keringat sendiri. Panut marah dituduh telah mendapatkan uang dari hasil mencopet. Ia pun pergi bersama Hamung, tokoh pragmatis yang awalnya merendahkan Panut, tapi karena kini Panut memiliki uang, ia pun menghormatinya. Retno dan Tukijan muncul kemudian dalam sebuah perdebatan. Tukijan masih berhasrat membawa kekasihnya ke rantau. Retno bukan tak mau, tapi ia berat jika harus meninggalkan Mae. Dengan sangat berat, Mae meminta Retno dan Tukijan pun pergi dari sudut kumuh tersebut.

Tinggallah Mae di sana. Ia berteriak pada semua orang yang telah meninggalkannya. Ia berdiri di atas meja tidurnya, mengibas-ngibaskan selendangnya, meminta semua orang pergi dari kehidupannya. Pertunjukan ini diakhiri oleh adegan frustrasi Mae menghadapi kesendiriannya. Mae berteriak-teriak hingga serak, kemudian diam, menatap ke penonton dengan kejam, dan lampu-lampu penuh warna berganti-ganti menyorotnya, makin cepat dan berhenti, seperti amarah yang melonjak-lonjak di dalam dirinya.[]

Zulfa Nasrulloh

Zulfa Nasrulloh

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

All stories by:Zulfa Nasrulloh

Leave a Reply

Zulfa Nasrulloh

Zulfa Nasrulloh

Reporter dan kurator zine buruan.co. Getol menulis esai, naskah drama, dan cerpen. Masih lajang.

All stories by:Zulfa Nasrulloh
error: