Kerambangan Under The Big Bright Yellow Sun

820 820 Musa Bin Hamdani

Gerimis mengguyur sekitar Dago beberapa menit sebelum Urban Gigs Wah-Wah Vol. 02 dimulai. Pengunjung tampak tetap antusias menanti acara sambil ngobrol santai dan menikmati sajian kopi. Bertempat di 372 Kopi Dago Bandung, Jumat, 23 Februari 2018, kegiatan musik ini menampilkan empat band indie ternama Bandung, antara lain Lizzie, Collapse, Eir’ dan Under The Big Bright Yellow Sun.

Agenda rutin yang digelar 372 Kopi ini memiliki judul yang unik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ″Wah″ berarti kata tunjuk untuk menyatakan kagum, heran, terkejut dan kecewa. Reduplikasi atau pengulangan kata tersebut dapat menunjukkan suasana mengagumkan, mengherankan, mengejutkan, bahkan mengecewakan. Semua tergantung pada penilaian masing-masing pengunjung yang datang. Pada posternya, terdapat ilustrasi lanskap langit malam atau luar angkasa yang penuh rahasia. Beragam ekspektasi pengunjung bermunculan, menafsir kenangan dan imaji apa yang mungkin tersaji.

Dari seluruh pengisi acara, perhatian saya tercuri saat menyaksikan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS). Band yang digawangi oleh Komeng (Gitar/Treble guitar bow & noisy sounds), Eza (Gitar/Middle guitar & harmony sounds), Ranyay (Gitar/Low guitar &Experimental Bell), Didi (Bass) dan Uwee (drum) ini, mengusung aliran post-rock eksperimental, membawakan beberapa lagu dari album Painting of Life (2012) dan Quintessential Turmoil (2014).

 Dari daftar lagu yang dibawakan UTBBYS pada malam itu, kesan saya pada malam itu semakin mendalam di mana Ironic (Quintessential Turmoil) dibawakan. Komeng mulai beraksi dengan gesekan bow pada senar gitar. Bunyi derau berpadu dengan tata cahaya panggung, memberi kesan artistik sekaligus dramatik. Meski saat itu saya sedang memotret aksi panggung mereka, alunan musik menciptakan nuansa dominan yang mampu membawa kita pada berbagai ingatan peristiwa.

Terkait judul lagu Ironic (Quintessential Turmoil), pada dasarnya tiap peristiwa yang dialami manusia selalu menghadirkan dua hal yang kontradiktif atau paradoks. Polarisasi efisien di luar pengetahuan dan kehendak manusia. Sehingga apa yang sebelumnya menjadi harapan masing-masing, pada akhirnya melahirkan realitas lain dan mengundang kesan ironis.

Kesan ironis tersebut menurut Muhyiddin Ibnu Arabi’ ialah hasil dari apa yang disebut “Kerambangan” (Hayrah1). Hayrah menurut Ibnu Arabi’ ialah suatu fenomena yang dialami oleh manusia saat kemampuan nalar yang dikombinasikan dengan batin tertahan untuk bisa memutuskan wujud itu tunggal atau jamak. Hal tersebut semacam kolaborasi aspek tanzih (Eksklusifnya wujud Tuhan) dan Tanzih (Keidentikan Tuhan dengan alam, secara konkret maupun abstrak).  Seperti memandang tunggal sebagai majemuk dan majemuk sebagai tunggal, baik dalam segi jumlah, bentuk, maupun suasana. Seperti cinta, esensi yang meliputi seluruh arketipe-arketipe permanen (Manifestasi diri Sang Mutlak) yang ada di alam semesta.

Musik sebagai bentuk (form) dari ekspresi dan reaksi manusia merupakan dasar pengetahuan yang mumpuni. Menegaskan bahwa manusia manapun pada dasarnya, tidak mengetahui apa-apa. Pencarian pengetahuan kepada bunyi, hakikatnya menegaskan suatu usaha mencari ketidakmengertian atau kerambangan yang ada di sekitarnya melalui kerja ekspresi musik. Sebagaimana Fauz Noor dalam novel Tapak Sabda (2004) memaparkan, “Dunia adalah permainan dan hakikat permainan ialah dimengerti ketidakmengertiannya”.

Merujuk pada pendapat lain mengenai seni dalam wawasan estetika sufi, seni, khususnya musik, dalam wawasan estetika sufi menurut Jalaluddin Rumi ialah sebagai ekspresi dari ungkapan jiwa memiliki setidak-tidaknya empat fungsi yang bermanfaat bagi pemulihan jiwa2.

Pertama, Tajarrud, yaitu pembebasan jiwa dari hal-ihwal yang bersifat duniawi dan kebendaan melalui hal yang bersifat duniawi. Bunyi yang merupakan media musik berasal dari hal-ihwal duniawi dan dapat dijadikan tangga naik menuju pengalaman kerohanian setelah diolah oleh seniman secara estetik dan kreatif. Kedua, Tawajjud  yakni seni memberikan  kekhusyukan sebab itu dapat dijadikan saran kontemplasi dan meditasi. Ketiga, Tarbiyah, seni mendidik jiwa untuk mengendalikan dan membimbing perasaan atau emosi menjadi lebih positif. Keempat, seni juga memiliki fungsi sosial yang mengikat suatu komunitas dalam kebersamaan.

Rumi juga berpendapat bahwa musik dapat membangkitkan gairah kerinduan segala sesuatu kepada asal-usulnya atau permulaan kejadian dirinya yang bersifat kudrati. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Matsnawi III:4436-7:

Hasrat tubuh akan padang hijau dan air memancur
Terbit karena ia (Adam) berasal dari tempat itu (Taman Eden)
Kerinduan jiwa kepada Kehidupan dan Yang Maha Hidup
Terbit karena ia berasal dari Jiwa Abadi

Dari komposisi lagu Ironic ini, saya amati dan rasakan apa yang digagas Rumi dalam Mastnawi dan Ibnu Arabi tentang Hayrah. di mana kerinduan pada asal bisa dinikmati dalam alunan musik Under The Big Bright Yellow Sun yang enerjik dan dramatik. Intensitas timbre yang kaya dan dalam menghadirkan nuansa transendental dibalut dengan sentuhan nada-nada yang bersifat profan. Komposisi musik yang khas ini mempertemukan dua ihwal paradoksal dalam satu lokus, sehingga terbentuklah polarisasi yang berjalan selaras. Sebagaimana W.S. Rendra menuliskannya dalam puisi “Hai, Ma” berikut.

dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa kemarin dan esok
adalah hari ini
bencana dan keberuntungan sama saja
langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa
sudah ya, Ma…

Barangkali hasil dari peristiwa-peristiwa ironis yang telah atau pun belum dilewati, setelah dilalui oleh silaturahim fikri dan zikri secara bersamaan, pada akhirnya akan mengalami apa yang diungkapkan Rendra lewat larik terakhir sajak “Hai, Ma” di atas. Sebagaimana yang bisa kita nikmati dalam lagu Ironic ini, di mana hentakan drum yang terkesan energetik bersanding dengan noise effect, harmony effect dengan sentuhan shogaze yang kental, seakan membawa saya pada suasana langit di luar, langit di badan menurut Rendra. Tak terasa lagu pun selesai, dalam hati saya pun berkata Wah-wah! dengan wajah sedikit berkeringat sambil bertepuk tangan. Juga sedikit perasaan kecewa karena musik berhenti sejenak sebelum judul yang lain kembali memanjakan telinga, nalar dan hati saya.[]

  1. Izutsu, Toshihiko.  Sufisme: Samudera Makhrifat Ibnu ‘Arabi. Bandung: Mizan, 2015.
  2. Hadi W.M, Abdul.  Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas. Yogyakarta: Matahari, 2004.
Musa Bin Hamdani

Musa Bin Hamdani

Nama pena Muhammad Sa’iquddin Ashshofy, Lahir di Bandung, 23 Juli 1993. Juru Kamera buruan.co. Bergiat di Majelis Dzikir Ash-Shalawat An-Nariyyah, Cibeureum, Bandung.

All stories by:Musa Bin Hamdani
Musa Bin Hamdani

Musa Bin Hamdani

Nama pena Muhammad Sa’iquddin Ashshofy, Lahir di Bandung, 23 Juli 1993. Juru Kamera buruan.co. Bergiat di Majelis Dzikir Ash-Shalawat An-Nariyyah, Cibeureum, Bandung.

All stories by:Musa Bin Hamdani
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.