Kelakar Remeh-temeh ala Milan Kundera

820 510 Willy E. Cahyadi

Berada dalam posisi penuh tekanan kegiatan dan pekerjaan, saya sungguh butuh lelucon sederhana. Saya sangat ingin tergelak sampai perut sakit kalau perlu. Hal ini pada akhirnya melatarbelakangi saya menikmati novel Pesta Remeh-Temeh racikan Milan Kundera.

Novel Pesta Remeh Temeh atau The Festival of Insignificance—dalam judul versi bahasa Inggrisnya—ini ditulis atau lebih tepatnya diterbitkan pada tahun 2014. Menurut Eka Kurniawan, seperti biasa, Milan Kundera membagi novel terbarunya ini ke dalam tujuh bagian seperti novel-novel lainnya1.

Apakah angka tujuh ini memiliki arti tertentu bagi Milan Kundera atau dia hanya sekadar menyukai angka tujuh saja? Entahlah. Yang pasti judul dari bagian-bagian dalam novelnya mampu memancing pembaca. Bagian-bagian dalam buku itu berjudul “Pengenalan Tokoh”, “Pertunjukan Teater Boneka”, “Alain dan Charles Sering Terkenang Ibu Mereka”, “Mereka Mencari Suasana Hati yang Menyenangkan”, “Sehelai Bulu Kecil Melayang-layang di Bawah Langit-langit Ruangan”, “Malaikat-malaikat Berjatuhan”, dan “Pesta Remeh-temeh”.

Kelakar Filosofis
Novel ini menampilkan hal sederhana nan memukau. Begitu apik dan membahagiakan. Pembaca digiring menuju pemahaman filosofis dari hal-hal remeh-temeh hingga menemukan makna mendalam dari setiap peristiwa.

Tokoh utama dalam novel ini adalah empat sekawan. Alain, Ramon, Charles, dan Caliban. Keempat-empatnya mengalami hal-hal remeh-temeh. Meski begitu, perjalanan mereka menarik untuk diikuti. Penuh kelakar remeh, namun mendalam. Begitu menyebalkan sekaligus dapat dibenarkan keberadaannya.

Cerita dimulai dari pencarian hal remeh, sepele, dan nonsens mengenai pergeseran daya tarik seksual. Lelaki keumuman akan mengarahkan ketertarikan seksual mereka pada bagian tubuh perempuan seperti paha, payudara, dan bokong. Namun, tokoh Alain justru mempertanyakan hal lain yakni udel alias pusar.

Tetapi bagaimana mendefinisikan erotisme seorang lelaki (atau suatu zaman) yang memandang daya tarik seksual seorang perempuan pada bagian tengah tubuh itu, pada pusar itu?”

Dalam novel ini terdapat pula ejekan terhadap kematian kelakar atau zaman Pascalelucon di tangan Joseph Stalin di hadapan kompanyonnya. Ejekan tersebut direalisasikan oleh Milan Kundera melalui teater boneka manusia-nya Caliban dan Charles. Tak hanya itu, Milan Kundera juga berupaya memperbaiki beberapa hal-ihwal hubungan manusia.

Aku tahu, kawan, dan aku mengagumi keteguhan hatimu,” ucap Ramon dan dengan maksud untuk memberi dukungan kepada laki-laki itu atas kemalangannya, ia menambahkan, “Sudah sejak lama, D’Ardelo, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tentang nilai dari keremeh-temehan. Dulu aku sering memikirkan hubunganmu dengan para wanita. Aku ingin bercerita kepadamu tentang Quaquelique. Kawan baikku Quaquelique. Kau tidak mengenalnya, aku tahu. Tak apa. Meski begitu, di titik ini, keremeh-temehan tampak sepenuhnya berbeda bagiku dibanding sebelumnya;  aku melihat hal itu dengan suatu cara yang sepenuhnya lain—dalam terang cahaya yang lebih kuat serta lebih jelas. Keremeh-temehan, kawanku, adalah esensi dari eksistensi.  Semua itu ada di sekitar kita, dan di mana-mana serta senantiasa.  Keremeh-temehan hadir bahkan ketika tak ada yang ingin melihatnya: di dalam kengerian, di dalam peperangan yang berdarah-darah, di dalam bencana paling buruk. Seringkali dibutuhkan keberanian untuk mengakui keremeh-temehan dalam situasi-situasi yang begitu dramatis, dan menyebut keremeh-temehan itu sesuai dengan namanya. Tapi bukan hanya soal mengakui keremeh-temehan itu, kita harus belajar mencintainya. Di sini, di taman ini, di hadapan kita—lihatlah, kawanku, keremeh-temehan hadir di sini dalam segala kejernihannya, dalam segala kepolosannya, dalam segala keindahannya. Ya, keindahannya. Sebagaimana yang kau sendiri katakan: sebuah pertunjukan yang sempurna. . . dan sama sekali sia-sia,anak-anak tertawa. . . tanpa tahu apa sebabnya—bukankah itu indah? Hiruplah, D’Ardelo kawanku, hiruplah keremeh-temehan yang ada di sekitar kita ini, itulah kunci kebijaksanaan, itulah kunci dari suasana hati yang menyenangkan. . .”

Keremeh-temehan yang Agung
Dalam novel ini, Milan Kundera menyampaikan bahwa keagungan dapat dipahami melalui hal-hal sepele dan sederhana. Kritik atas zaman juga muncul sebab hal-hal tersebut sering sekali tidak dianggap dan dilupakan bahkan ditinggalkan.

Hal-hal remeh dikemas dalam dialog filosofis dan berat. Sesungguhnya hal ini menjadi dua mata pisau. Pengemasan tersebut sedikit mempersulit pembaca dalam memahami isi dan arah-tujuan novel. Namun, di sisi lain akan menjadi sebuah ledakan kekaguman di akhir penceritaan. Kadang, hal remeh seperti dalam novel ini dapat menyenangkan, membahagiakan, sering kita lupakan. Tapi, ketika kita sadari akan membuat kita terkagum-kagum.

Masih banyak hal penawaran menarik lain dari Milan Kundera dalam novel terbarunya ini. Tapi apa menariknya? Maksud saya, apa menariknya kalau saya ceritakan semuanya? Lebih baik anda membacanya sendiri dan berbahagialah. Tergelak dan tenggelamlah dalam tawa kesederhanaan yang sarat makna mendalam.

Sungguh, percayalah, saya ingin bercerita sedetail mungkin kepada anda semua. Namun, saya tidak mau membocorkan lebih jauh kedahsyatan kelakar sederhana ini. Satu hal lagi, buku ini diterjemahkan dengan sangat baik, lancar dan mengalir. Ah sudahlah, sekarang saya sudah senang, bahagia, dan tidak terlalu tertekan karena keremeh-temehan atau hal-hal nonsens yang mendalam ini. Kini bagian anda.[]

Identitas Buku
Judul                           : Pesta Remeh-Temeh
Penulis                        : Milan Kundera
Penerjemah              : Lutfi Mardiansyah
Tahun terbit              : 2017
Penerbit                     : Penerbit Trubadur
Dimensi Buku          : 13 x 19 cm
Tebal                          : iv + 131 halaman
ISBN                            : 978-602-50034-7-9

1.Ulasan Eka Kurniawan “Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance”.

Willy E. Cahyadi

Willy E. Cahyadi

Rajin menulis puisi dan memotret. Pendiri Rhapsody Photoworks. Masih lajang.

All stories by:Willy E. Cahyadi

Leave a Reply

Willy E. Cahyadi

Willy E. Cahyadi

Rajin menulis puisi dan memotret. Pendiri Rhapsody Photoworks. Masih lajang.

All stories by:Willy E. Cahyadi
error: