AARC-MKAA: Khataman “The Bandung Connection”

702 336 Pramukti Adhi Bhakti

Setelah dua bulan lebih buku The Bandung Connection ditadaruskan, pada hari Minggu (15/2) Asian-African Reading Club – Museum Konferensi Asia-Afrika (AARC-MKAA) menyelesaikan pembacaan buku tersebut. Khataman dilaksanakan pada hari kedua acara Pekan Literasi Asia-Afrika yang diselenggarakan oleh Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA).

aarc2

Sebagai akhir dari pembacaan buku The Bandung Connection karya Roeslan Abdulgani, para sahabat AARC melakukan pembacaan bagian lampiran buku tersebut yang berisi pidato pembukaan KAA oleh Soekarno, teks komunike akhir KAA oleh Roeslan Abdulgani, dan pidato penutup KAA oleh Ali Sastroamidjojo.

Di ruang pamer utama MKAA, para sahabat secara bergiliran membacakan teks-teks tersebut sambil memerankan tokoh pembaca teks tersebut, di depan diorama Soekarno dan kelima pemimpin negara sponsor KAA. Setiap orang terkesima saat Peri Sandi dan MIF Baihaqi membacakan teks pidato Bung Karno dengan suara yang menggelegar.

aarc4

Pidato penutup Ali Sastroamidjojo dibacakan seluruhnya oleh Lely Mei sambil memerankan gaya bicara ketua Konferensi Bandung itu. Dengan suara yang cukup bersemangat, membuat Taufiq Abdullah—sahabat AARC paling sepuh—berkali-kali meneriakan kata “merdeka!”, “hidup perdamaian!”, dan lain sebagainya. Suasana menjadi riuh karena semangat yang ditularkan kedua orang ini.

Setelah pembacaan pidato penutup Ali Sastroamidjojo oleh Lely Mei, Sekjen AARC Adew Habsta memberikan kesimpulan akhir atas pembacaan The Bandung Connection. Katanya, dalam buku itu, kita semua dapat mengambil pelajaran bahwa sejak awal, para pendiri bangsa ini memiliki good will atau niat baik dalam membangun masa depan negeri.

Selain itu, semangat yang ditularkan oleh para pendiri bangsa dan para pemimpin negara-negara di Asia dan Afrika adalah demi terwujudnya hidup berdampingan secara damai, peaceful co-existence, yang membuat kongres kulit berwarna pertama di dunia ini berhasil memberikan dorongan bagi kemerdekaan banyak negara di kedua benua.

aarc3

Menutup acara di sore hari itu, semua yang hadir diundang ke depan diorama dan mengelilingi awug tumpeng yang sudah disediakan. Taufiq Abdullah, Adew Habsta, dan Lely Mei memberikan kalimat penutup sebagai penyemangat tuntasnya pembacaan buku tersebut.

Sebelum pemotongan awug dan menutup acara tersebut dengan hidangan yang tersedia, lagu “Padamu Negeri” menjadi renungan akhir untuk meresapi nasionalisme yang terpantik dalam Konferensi Asia-Afrika. Semoga semangat Bandung yang ditularkan melalui tadarusan tetap menyala, selama para pemantiknya tetap menghidupkan nyala api nasionalisme.[] Bandung, 16 Februari 2015

Sumber foto: M. Ridha

Pramukti Adhi Bhakti

Pramukti Adhi Bhakti

Pegiat Asian African Reading Club-Museum Konferensi Asia Afrika dan menglola blog pribadi pramredesign.wordpress.com

All stories by:Pramukti Adhi Bhakti
Pramukti Adhi Bhakti

Pramukti Adhi Bhakti

Pegiat Asian African Reading Club-Museum Konferensi Asia Afrika dan menglola blog pribadi pramredesign.wordpress.com

All stories by:Pramukti Adhi Bhakti
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.