20 Tahun Komunitas Sastra Indonesia

702 336 buruan

Siaran Pers

20 TAHUN KOMUNITAS SASTRA INDONESIA (KSI):
KEGEMBIRAAN BERORGANISASI & BERKARYA MELALUI KONGRES & SEMINAR SASTRA

Seminar Sastra “Kembali ke Literasi: Peta & Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”

Memasuki usia ke-20 tahun, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) akan menggelar Kongres Komunitas Sastra Indonesia III di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, selama 8-10 Januari 2016. Selain pemilihan pengurus KSI periode 2016-2019 sebagai agenda utama, kongres juga akan diisi seminar sastra nasional dengan tema “Kembali ke Literasi: Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. Kongres diharapkan akan dibuka oleh Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany.

“Kongres dan seminar sastra ini ingin kami jadikan pijakan untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya di dalam komunitas sastra. Dua puluh tahun lalu, KSI merupakan komunitas sastra yang kecil, tapi terasa lapang. Kami melakukan berbagai aktivitas sastra secara gembira dan guyub. Sekarang, KSI menjadi komunitas sastra yang tergolong besar dengan cara pandang dan latar belakang para anggota yang beragam. Kami ingin, keragaman tersebut bukan penghalang untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya,” papar Wowok Hesti Prabowo, Ketua Dewan Pendiri KSI.

Karena itu, Wowok melanjutkan, salah satu yang ingin ditekankan KSI ke depan adalah satu hal mendasar bagi komunitas sastra, yakni tradisi literasi yang bermuara pada penerbitan buku. Karena itu, kongres kali ini—dan juga seminar sastra nasional—akan mengusung tajuk “Kembali ke Literasi: Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. “Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, dan Nanang Ribut Supriyatin direncanakan menjadi pembicara pada seminar tersebut,” tambah Shobir Poer, Ketua Panitia Pelaksana Kongres KSI III Tahun 2016.

Selain itu, masih menurut Wowok, “Untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan kerja sama serta menjajaki berbagai peluang baru dan menjawab berbagai tantangan baru sesuai dengan perkembangan dan tuntuan zaman, KSI akan bermusyawarah untuk memilih kepengurusan baru serta merumuskan langkah-langkah atau program-program baru yang lebih strategis dan efektif untuk meningkatkan kontribusi KSI terhadap perkembangan sastra di Indonesia,”

Shobir Poer menjelaskan, selain kongres dan seminar sastra, kegiatan ini juga akan dimeriahkan dengan pentas sastra dan wisata alam ke Kandank Jurank Doank di Tangsel. “Kongres KSI ini akan diikuti 75 peserta, yang berasal dari pengurus KSI di tingkat pusat serta perwakilan pengurus KSI cabang dari seluruh Indonesia dan luar negeri. Sedangkan, di luar kongres, sejumlah acara pendukung akan dihadiri tamu undangan, masyarakat, dan kalangan pers,” ujar Shobir.

Kiprah KSI
Dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra di Indonesia, peran komunitas sastra sangat penting. Komunitas sastra tidak hanya menjadi wadah pembinaan calon penulis dan pengembangan apresiasi sastra masyarakat, tetapi juga ikut memberikan arah perkembangan corak estetik dan tematik kesastraan Indonesia. Bahkan, secara ideologis, komunitas-komunitas sastra ikut juga memengaruhi orientasi penciptaan para sastrawan Indonesia.

Sejak ditubuhkan pada 1996, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) terus berupaya melaksanakan peran-peran tersebut. Bersama komunitas sastra yang lain, KSI terus berupaya mendorong pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia ke arah yang lebih sehat dan kondusif untuk ikut melahirkan para penulis baru dan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan sastra Indonesia.

KSI merupakan organisasi pertama di Indonesia—sekurangnya di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian—yang menggunakan kata komunitas atau frase komunitas sastra sebagai bagian dari nama organisasinya. Dua puluh tahun lalu, belum ada organisasi di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian di Indonesia yang menggunakan kata atau frase tersebut. Kata komunitas sendiri masih sangat jarang digunakan dalam wacana lisan atau wacana tulisan pada saat itu.

Pada 2016 ini, KSI akan memasuki usia 20 tahun, suatu tahapan usia yang mulai matang. Tak banyak komunitas sastra di negeri ini yang mampu bertahan selama rentang waktu tersebut. Selama itu, KSI telah berkembang menjadi komunitas sastra yang bukan hanya berkiprah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), melainkan juga meluas ke hampir banyak wilayah di Tanah Air dan bahkan luar negeri. Cabang atau koordinat KSI kini berdiri di banyak kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri.

Berbagai kegiatan telah dilakukan KSI, baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang atau koordinat. Mulai dari diskusi, bengkel penulisan, seminar, penelitian, penerbitan buku, sayembara penulisan, pementasan, pemberian penghargaan, hingga kegiatan kepedulian sosial, baik dalam skala terbatas maupun skala yang lebih luas, termasuk skala internasional, seperti menyelenggarakan Jakarta International Literary Festival (JIL-Fest).

Berbagai kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh para anggota dan pengurus KSI sendiri atau bekerja sama dengan banyak pihak. Selama ini, KSI telah bekerja sama dengan lembaga atau instansi pemerintah pusat atau daerah, badan usaha milik pemerintah pusat atau daerah, badan usaha swasta nasional, lembaga swadaya masyarakat, komunitas budaya, komunitas seni, dan komunitas sastra lain, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, seperti Gabungan Penulis Nasional (Gapena), Malaysia.

Dewan Pendiri & Peserta Kongres

Dewan Pendiri KSI
Ahmadun Yosi Herfanda
Ayid Suyitno PS
Azwina Aziz Miraza (Almarhumah)
Diah Hadaning
Hasan Bisri BFC
Iwan Gunadi
Medy Loekito
Shobir Poer
Slamet Rahardjo Rais
Wig SM
Wowok Hesti Probowo

Peserta Kongres
1. Abdul Karim
2. Ahmadun Yosi Herfanda
3. Ali Syamsudin Arsi
4. Amdai Yanti Siregar
5. Amien Wangsitalaja
6. Aria Patrajaya
7. Aris Kurniawan
8. Arsyad Indradi
9. Ayid Suyitno PS
10. Ayu Cipta
11. Bambang Joko Susilo
12. Bambang Widiatmoko
13. Budi Setyawan
14. Dharmadi
15. Diah Hadaning
16. Dianing Widya Yudhistira
17. Dimas Arika Mihardja
18. Dinullah Rayes
19. Eka Budianta’
20. Eko Suryadi WS
21. Endang Supriadi
22. Endo Senggono
23. Erwan Juhara
24. Esthi Winarni
25. Evi Idawati
26. Fakhrunnas MA Jabbar
27. Fatin Hamama
28. Gito Waluyo
29. Habiburrahman El Shirazy
30. Hamdy Salad
31. Hasan Bisri BFC
32. Hudan Nur
33. Humam S. Chudori
34. Husnul Khuluqi
35. I Wayan Arthawa
36. Idris Pasaribu
37. Iman Sembada
38. Iwan Gunadi
39. Jamal T. Suryanata
40. Jumari HS
41. Khoirul Anwar
42. Kurnia Effendi
43. Lukman Asya
44. M. Abbullah
45. Mahrus Prihany
46. Mahdiduri
47. Medy Loekito
48. Micky Hidayat
49. Muhary Wahyu Nurba
50. Mustafa Ismail
51. Mustafa W. Hasyim
52. Nana Eres
53. Nanang Ribut Supriyatin
54. Nanang Suryadi
55. Nirwondo El-Naan
56. Omni S. Koesnadi
57. Peny S.
58. Pudwianto Arisanto
59. Rita Jassin
60. Roel Sanre
61. Sandi Firly
62. Santhinet
63. Shobir Poer
64. Slamet Rahardjo Rais
65. Suyanto
66. Teteng Jumara
67. Thomas Budi Santoso
68. Toto St. Radik
69. Viddy Alymahfoedh Daery
70. Widodo Arumdono
71. Wig SM
72. Wilson Tjandinegara
73. Wowok Hesti Probowo
74. Yudhi Ms.
75. Zakier El Makmur

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
1 comment
  • Kita dari Komunitas Kamboja Merah ingin bergabung dengan komunitas sastra indonesia. Bagaimana cara login, daftar dan bergabungnya. Persyaratan apakah yang harus kami lengkapi. trims…

    mohon konfirmasinya ya ke email aishiterukamboja@gmail.com

Leave a Reply

buruan

buruan

Media untuk Berbagi Kajian dan Apresiasi.

All stories by:buruan
error: