Fb. In. Tw.

Three Musketeers dan Cerita Pendek

Saya pernah suntuk membaca buku hanya dalam dua jam, seharian, berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Selesainya membaca memang kadang sulit diperkirakan. Kesulitan dan kemudahan membaca juga dipengaruhi oleh ada tidaknya kopi, dering handphone, Mamang cuanki atau ketukan tetangga yang berulangkali meminjam tangga.

Lama tidaknya membaca juga sering disebabkan oleh ruwet tidaknya bahasa. Membolak-balik halaman untuk lebih mengerti jalan cerita, deskripsi tokoh, atau ejaan yang kelewat njelimet. Sementara di sisi lain saya sering menemukan buku yang bisa dibaca sekali pukul. Bagai air di daun talas. Blas begitu saja. Tak bersisa.

Pertanyaannya, berapa lama Anda mesti menyelesaikan 12 cerita dalam kumcer Cerita Tiga Kota?

Suatu masa, bukan abad pertengahan, saya pernah bertemu buku dengan plot dan tokoh teramat rancu. Ngawur maksimum. Saya menuduh penulisnya berlebih pede, kekuasaan, kertas atau dia kadung menduga pembaca mafhum akan cerita yang dibukukannya. Buku yang lahir dari latar belakang seperti ini tetap abadi. Berdebu atau tidak di toko buku itu urusan takdir. Atau mungkin sang penulis memegang teguh adagium: Buruk-buruk papan jati, buku buruk yang penting jadi.

Di zaman lain, saya pernah berhadapan dengan tokoh dan plot dan kreativitas yang texasnya ampun-ampunan. Meski teori anak kuliahan selalu bisa menemukan berbagai kelemahan dan kekurangan. Tapi ya, toh, tidak ada gading yang tak retak. Tak semua semut rasanya pedas. Kesambet kamu, jika saya bertemu dengan buku cakep semacam ini.

Lalu bagaimana dengan buku kumcer Cerita Tiga Kota?

Kadang-kadang saya enggan membuka mulut kecuali teramat lapar dan dahaga.

Ketiga penulis saya kenal cukup baik. Seorang pertama, lelaki paruh baya yang mengagumi dirinya setampan atlet berkuda. Penyuka gorengan dan tidur dan ahli game komputer. Seorang kedua, lelaki bersuara rendah. Penulis forum guru paling kesohor seantero Cimahi tenggara. Meminjam puisi terkenal penyair gaek; Gurunya fana, menulis forum abadi. Sedang seorang ketiga adalah perempuan yang tidak ingin Anda dengar bila tertawa. Apalagi jika Anda moody menghadapi mulas haid hari pertama.

Dan jika Anda mendengar mereka asyik berbincang. Seketika Anda minder dan salah tingkah. Seminder ketika mas–mas di salon memotong poni pacar Anda terlalu pendek.

Apa yang ditulis, apa yang dihimpun dalam buku ini adalah bagaimana mereka menangkap pernik hidup sebagai ide. Sebagai kunci. Tidak baru. Tapi apakah Anda tahu berapa banyak lagu Indonesia yang dimulai dari A minor?

“Jidat” misalnya, cerpen Anka Wijaya ini memotret jidat sebagai penanda dari kesalehan seorang muslim. Tanda artifisial yang kadang tidak mencerminkan hakikat yang sebenarnya. Anka menjadikan jidat pusat dari konflik cerita. Menggelitik sekaligus cerminan masyarakat Indonesia hari ini. Cerpen ini memainkan jidat pelan namun pasti. Nakal sekaligus menohok otak rasionalitas kita.

Sementara Eddi Koben menggoreng pengangguran dalam cerpen “Balada Roller Coaster dan Bioskop”. Muji sebagai tokoh hendak melarikan diri dari realitas. Setidak-tidaknya melupakan barang sejenak. Problematika hidup menghadang kesabarannya. Apa yang diimajinasikan Muji adalah miniatur dari kecamuk masalah yang membelit masyarakat kita sehari-hari. Muji adalah kita dengan segala modifikasi persoalan yang mendera.

Lain dengan Wida Waridah. Cerpen “Tamparan Pak Martabat” mengelaborasi prilaku remaja di sekolah yang mungkin Anda dan saya alami. Sementara di tepi yang lain, Wida mengambil tokoh guru Martabat sebagai sterotip. Bukankah tidak butuh 11 tahun untuk menenggarai persoalan guru honorer di negeri ini. Gaji minim dan sistem bekerja yang masih amburadul. Cerpen ini juga saya curigai sebagai masa lalunya Wida. Saya tahu, curiga tidak pernah didukung oleh agama.

Cover buku dengan siluet—mirip—penulisnya dengan latar gedung-gedung sebuah kota, cukup memberi arti bagi saya. Reuni. Reuni dalam karya tentu baik sekali. Apalagi mengingat kota tempat mereka pernah bersama seringkali meruapkan masa lalu. Sebentar ditengok dan dikenang. Tersenyum. Lalu mesti melanjutkan hidup di kota masing-masing.

Reuni dalam karya, bagaimanapun, adalah cara melawan terbaik pada nostalgia. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Itu![]

Data buku
Judul: Cerita Tiga Kota
Penulis: Wida Waridah, Eddi Koben, Anka Wijaya
Penerbit: Interlude
Cetakan: ke-1 Desember 2016
ISBN: 978-602-6250-29-2

Post tags:

Redaktur buruan.co. Buku puisi terbarunya berjudul Menghadaplah Kepadaku (2020)

Comments
  • lukman a sya

    menarik

    10 Februari 2017

Sorry, the comment form is closed at this time.

You don't have permission to register